
Rakha hanya bisa menatap kepergian papanya dengan mobil polisi. Ia sedih saat papanya dibawa para polisi. Namun, ia juga kesal karena papanya lah yang menjadi penyebab ia kehilangan Mala.
Perasaan Rakha saat ini campur aduk. Ia tak tau bagaimana caranya meluapkan perasaannya saat ini.
"AHHHHH!!" teriak Rakha, ia menendang motornya Hinga jatuh.
"KENAPA INI SEMUA TERJADI SAMA AKU!!!"
"KENAPAAAA????"
"KENAPA KEBAHAGIAAN AKU DIRENGGUT!!"
"PERTAMA MAMA!!!"
"LALU MALA!!"
"PAPA JUGA!!!!"
"APA DOSAKUUUU!"
Rakha meluapkan semua emosinya. Ia sudah tak bisa lagi membendungnya.
"TUHANNNNNN AKU BUTUH MALAAAAAA!!!!"
"KEMBALIKAN MALA PADAKUUUU!"
Tingg...
Sebuah notif pesan masuk kedalam ponsel Rakha.
"Apalagi ini?!"
...+62******09...
^^^Temuin aku di danau tempat biasa kita ketemu!^^^
"Siapa ini? kenapa aku ngerasa dekat banget dengan orang yang ngirim pesan ini?" gumam Rakha.
"Apa mungkin ini Mala?" terka Rakha.
Karna penasaran, Rakha langsung menaiki motornya dan pergi ke tepi danau dimana biasanya ia bertemu dengan Mala.
Sampai di tepi danau, Rakha tak melihat adanya tanda-tanda kedatangan mala.
Karna keyakinannya yang masih kuat, Rakha tetap menunggu di tepi danau itu.
"Aku yakin itu pasti Mala!" ujar Rakha. Sembari menunggu ia mencoba menelfon nomor yang mengiriminya pesan. Namun berkali-kali ia mencoba, ia ia dengar hanyalah suara operator yang mengatakan jika nomor yang di tuju sedang berada di luar jangkauan.
30 menit kemudian....
"Udah setengah jam aku nunggu, tapi Mala belum juga datang! apa aku di kerjain ya?" pikir Rakha.
"Mungkin emang benar aku dikerjain, mungkin udah saatnya aku ikhlas kehilangan Mala" gumam Rakha.
"Lebih baik aku kembali ke Bogor dan mulai awal baru di sana!" ujarnya. Rakha hendak menaiki motornya dan meninggalkan danau itu.
"Rakha" suara lirih itu membuat Rakha tersentak. Ia menoleh ke belakang di mana seorang gadis tengah tersenyum lebar padanya.
"Mala" ujar Rakha.
"Ah gak mungkin ini pasti cuma khayalan ku aja" ujar rakha mengucek-ngucek matanya.
"Gak kok, kamu gak lagi ngehayal" ujarnya.
"Ini emang beneran aku Rakha, Mala udah kembali" kekehnya.
Mendengar itu, Rakha langsung terdiam.
"Kamu beneran Mala?"
"Aku gak halu kan?" tanya Rakha.
"Enggak" balas Mala menggeleng.
Rakha langsung menghampiri Mala dan memeluknya. Ia sungguh sangat merindukan gadis nya itu.
"Kemana aja sih? aku kangen" lirih Rakha di dalam pelukan Mala.
"Aku selalu ada di samping kamu, kamu aja yang gak sadar itu" balas Mala.
"Maksud kamu?" tanya Rakha, ia langsung melepas pelukannya dan menatap nanar mata Mala.
"Zizi itu aku" balas Mala dengan nada cemberut.
"Hah?" ujar Rakha tak percaya.
"Hah hoh hah hoh aja"
"Gimana bisa?" tanya Rakha.
"Ya bisalah, kamu pake logika aja. Emangnya ada orang yang mukanya bisa sama persis di dunia ini. Aku kan gak punya saudara kembar. Bego banget sih" ujar Mala menoyor jidat Rakha.
"Kenapa kamu gak bilang? aku kan gak tau"
"Kalau aku bilang rencana aku bisa gagal"
"Rencana?"
"Maafin papa aku ya Mala" lirih Rakha. Ia merasa bersalah, karna ulah papanya Mala sampai hampir kehilangan nyawanya.
"Kamu tenang aja, aku udah maafin papa kamu kok. Cuman ya dia harus tetap bertanggung jawab atas perbuatannya" balas Mala.
"Ya aku setuju sama kamu"
Mala dan Rakha duduk di tepi danau.
"Gimana rasanya tanpa aku?" tanya Mala.
"Hampa" balas Rakha.
"Ohya, aku masih penasaran kenapa kamu bisa selamat dari kecelakaan itu?" tanya Rakha.
"Jadi kamu doain aku gak selamat?" tanya Mala sinis.
"Bukan gitu, aku penasaran aja sama kejadiannya"
"Jadi, saat kecelakaan itu terjadi. Aku di selamatin sama ayah Kenzo dan bunda zavi. Mereka ngerawat aku dengan baik sampai aku pulih. Dan ayah Kenzo juga yang udah malsuin kematian aku dengan meletakkan mayat perempuan yang mirip aku dan barang-barang pribadiku di tempat kejadian itu" ujar Mala mulai bercerita.
"Ayah Kenzo dan Bunda zavi gak punya anak selama pernikahan mereka. Jadi mereka mau merawat aku sebagai anaknya dan membantuku mencari bukti untuk menjerat papa kamu kepenjara. Selama aku belum pulih, ayah Kenzo memperingatkan kepada masyarakat di pemukiman sekitar untuk tetap diam jika ada yang bertanya tentang aku. Sebagai keluarga mafia, ayah Kenzo dan bunda zavi sangat baik pada ku. Mereka memang terlihat menyeramkan bagi orang-orang yang hanya mengenal nama mereka"
"Setelah aku pulih, ayah Kenzo membantuku membuat rencana untuk mendapatkan bukti yang aku mau. Malam itu, aku ke rumah kamu untuk memasang cctv di ruang kerja papa kamu. Tapi aku gak sengaja nabrak sesuatu hingga kamu ngejar aku" kekeh Mala.
"Paginya saat di sekolah, aku lagi ngecek cctv itu lagi. Tapi malah kepergok sama kamu dan disuruh bawa buku satu tumpuk" ledek Mala, rakha hanya terkekeh dengan cerita Mala yang terdengar kesal kepadanya.
"Dan semalam aku dapatin bukti itu, aku langsung minta ayah sama bunda buat balik ke indo. Biar aku bisa nyelesain semuanya" ujar Mala.
"Lalu ayah sama bunda kamu di mana? aku mau ketemu sama mereka" ujar Rakha.
"Buat apa?"
"Aku mau bilang makasih karna udah ngerawat dan jagain pacar aku"
"Dihhh"
"Kenapa? aku serius"
"Yaudah ayo!" ajak Mala.
.
.
.
Rakha dan Mala memasuki rumah Kenzo dan zavi.
"Ayah, bunda, ada yang mau ketemu" ujar Mala.
"Siapa?" tanya Kenzo yang baru saja menyeruput kopinya.
"Oh kamu" kekeh Kenzo melihat wajah cengo Rakha.
"Bapak?" ujar Rakha, ia mengerti sekarang kenapa ia begitu tau dengan kejadian kecelakaan Mala saat itu.
"Akhirnya kita ketemu ya" kekeh Kenzo.
"Jadi bapak yang menyelamatkan Mala"
"Ya, seperti yang kamu lihat" balasnya.
"Kalian udah kenal?" tanya Mala.
"Bapak ini yang berusaha ngeyakinin aku kalau kamu udah meninggal Mala"
"Oh jadi kalian sudah pernah ketemu"
"Iya" angguk Kenzo.
"Dia hancur banget kehilangan kamu Zizi" kekeh Kenzo. Mala hanya tersenyum dengan ucapan ayahnya.
"Oh ya, ini bunda zavi" ujar Mala memperkenalkan.
"Zavi"
"Rakha Tante"
"Panggil bunda aja, sama seperti Zizi"
"Oke bunda"
"Rakha mau bilang makasih sama bapak_" Kenzo langsung menjeda ucapan rakha.
"Apa kamu bilang? bapak?" tanya Kenzo.
"Iya"
"Kamu panggil istri saya bunda, panggil saya ayah juga dong. Masa bapak!" ujar Kenzo tak terima.
"Iya ayah. Rakha mau bilang Terimah kasih buat ayah sama bunda. Udah jagain Mala selama ini" ujar Rakha.
"Kamu gak perlu bilang Terimah kasih. Justru karna zizi lah. Istri saya bisa tersenyum lagi. Selama ini ia selalu mendambakan sosok seorang anak namun kami tidak bisa memilikinya" balas kenzo.
Jangan lupa like dan comen...