
Mala bingung bagaimana caranya ia bisa berbicara dengan Rakha jika Kevin terus mengawasinya.
"Dira" panggilan itu membuat Dira menoleh.
"Kenapa?"
"Kamu ada saran gak?"
"Saran apa?"
"Gimana caranya aku bisa ngobrol sama Rakha tanpa sepengetahuan Kevin?" tanya Mala.
"Hmm bentar" ujar Dira yang tampak sedang berfikir.
"Aku tau" ujar Dira tiba-tiba.
"Apa?"
Dira membisikkan sesuatu ke telinga Mala. Mendengar bisikan Dira Mala terlihat suka dengan ide Dira.
"Oke" balas Mala.
Mala mengirim pesan pada Rakha, agar keduanya bertemu di luar. Sementara itu, Dira mengirim pesan pada Affan, Zayyan dan Haura untuk membantu mereka.
"Bu saya izin ke toilet" ujar Mala.
"Ya" angguk Bu guru.
Tak lama Rakha juga minta izin pada Bu guru untuk mengangkat telfon. Bu guru mengangguk dan memperbolehkan Rahka keluar. Sementara itu, Kevin yang sadar jika Rakha dan Mala tengah keluar. Ia juga ingin mengikuti mereka.
"Bu saya juga izin ke toilet" ujar Kevin.
"Vin, nanti aja. Aku mau nanya materi ini, gak ngerti" ujar Haura menuju meja Kevin .
"Kamu bantu Haura dulu ya Kevin, izinnya tunggu Mala balik ke kelas dulu!" pinta Bu guru.
"Iya Vin, aku juga gak ngerti nih" ujar Dira, yang tiba-tiba menghampiri meja Kevin.
"Hmmm"
"Hmmm"
Affan dan Zayyan berdehem keras.
"Awas kamu Vin" ujar Zayyan menatap sinis pada Kevin.
"Dia mau main-main sama kita" ujar Affan tak kala sinis menatap Kevin.
Kevin yang merasa terintimidasi oleh dua cowok itu hanya bisa segera membantu gadis-gadis di depannya ini. Agar mereka segera pergi dari mejanya.
Di lain sisi Mala dan Rakha yang ingin bertemu secara diam-diam dengan rencana Dira akhirnya berhasil. Keduanya bertemu di belakang sekolah agar tak ada mata yang melihat mereka bertemu.
"Ada hal penting yang mau aku omongin" ujar mala.
"Penting banget kayaknya, lebih penting mana dari Kevin yang terus ngawasin kita" balas Rakha, walaupun ia tau jika Mala tak memiliki perasaan pada Kevin. Tapi tetap saja Rakha cemburu jika kevin terus ada di dekat Mala.
"Lebih penting" balas Mala terkekeh.
"Apa?"
"Jadi semalam itu aku mimpi, di mimpi itu aku ketemu sama Tante Andini" ujar Mala.
"Mama aku?"
"Bukan, mama Kevin. Yaiyalah mama kamu" ujar Mala yang memiliki kesabaran setipis tisu.
"Trus apa?"
"Dalam mimpi itu Tante Andini bilang, kalau dia meninggal bukan karena gagal ginjal tapi kanker. Trus dia nyuruh aku buat cari dokter usman di rumah sakit Malika di Bogor"
"Buat apa mama bilang kayak gitu?"
"Aku juga gak tau, tapi mungkin gak sih kalau mama kamu kasih kita petunjuk buat nyelesain masalah ini?" tanya Mala sembari menebak.
"Tapi itu cuma mimpi Mala, apa mungkin bisa kita percaya?"
"Gak ada salahnya kita coba kan? toh mama kamu bilang dokter Usman dan rumah sakit Malika. Kalau orang dan tempat itu benaran ada berarti mama kamu emang ngasih kita petunjuk"
"Rumah sakit Malika emang ada di Bogor, tapi dokter Usman aku gak tau"
"Kalau gitu kita harus ke Bogor!" ujar Mala sangat yakin.
"Tapi gimana caranya, kan kamu tau sendiri kita di larang untuk ketemu apalagi pergi ke Bogor" balas Rakha.
"Iya juga ya". Mala berfikir bagaimana caranya ia bisa pergi ke Bogor tanpa di curigai oleh orang tuanya.
"Oh ya, sekolah kita kan bakalan ngadain camping ya, gimana kalau kita usulin ke Bogor aja" ujar Mala tiba-tiba.
"Iya kamu bener, coba aja nanti di usulin. Kalau di terima kita bisa pergi tanpa buat orang tua kamu curiga"
"Iya"
Ting...
...Dira...
^^^Lama bgt, cepetan ke buru kevinnya curiga ini!^^^
"Kevin lagi, kenapa sih tuh orang harus ada di dunia ini. Nyusahin aja!" kesal Rakha.
"Udah, gak boleh gitu"
"Aku masuk duluan?" tanya Rakha.
"Iya, nanti baru aku nyusul" balas Mala.
Rakha memasuki kelas duluan sembari menyimpan ponselnya. Tak lama mala juga masuk dengan santainya.
"Gimana?" tanya Dira saat Mala baru saja duduk.
"Berhasil dong, thanks ya" ujar Mala sedikit berbisik.
"Sama-sama"
"Eh ntar waktu istirahat, temenin aku ke ruang guru ya" ujar Mala.
"Mau ngapain?"
"Ada deh, liat aja ntar. Ajakin Haura juga!"
"Siap!" balas Dira.
***
Di jam istirahat Mala, Dira, dan Haura langsung bergegas menuju ruangan guru. Namun, sebuah panggilan kembali menghentikan mereka.
"Mala!" panggil Kevin.
"Apa? ngapain ganggu aku terus?" tanya Mala ketus.
"Tadi kamu ketemu sama Rakha ya, liat aja ntar aku aduin papa kamu. Biar kamu di pindahin ke Amerika" ancam Kevin.
"Tau apa kamu? emangnya kamu punya bukti" tanya Mala.
"Ya gak sih, tapi tadi kalian keluar barengan"
"Trus kalau mereka keluar bareng. Itu artinya mereka ketemu?" tanya Haura ngegas.
"Apaan sih, kenapa malah kalian yang sewot?"
"Kenapa? gak terima?" balas Dira.
"Berisik kalian! Mala ayo kita ke kantin!" ujar Kevin menarik tangan Mala.
"Eits, gak bisa" ujar Haura langsung menarik tangan Mala.
"Kalian, apa-apaan sih? ganggu kita aja" sewot Kevin.
"Aku gak ngerasa di ganggu sama mereka" balas Mala.
"Mala kok kamu malah belain mereka sih, lebih penting mana sih aku atau mereka?" tanya Kevin.
"Ya temen-temen aku lah, kamu siapa?" balas Mala.
"Aku kan udah di jodohin sama kamu, seharusnya kamu lebih belain aku dong yang jelas-jelas bakalan jadi masa depan kamu"
"Uwekkk" ujar Dira dan Haura pura-pura muntah dengan kata-kata Kevin.
"Astaga, jijik aku denger dia ngomong" ujar Haura.
"Udahlah, tinggalin aja! gak penting!" ujar Mala.
Ketiganya meninggalkan Kevin dan segera menuju ruang guru.
"Permisi Bu" ujar Mala.
"Ya masuk Mala, ada apa?" tanya Bu guru.
"Bu, kita boleh nyampein usulan kita gak Bu?" tanya Mala.
"Apa itu?"
"Jadi sekolah mau ngadain camping kan Bu?"
"Iya bener"
"Gimana kalau campingnya itu di Adain di Bogor Bu, kan seru Bu. Disana itu suasananya sejuk, masih asri, dan pastinya teman-teman yang lain bakalan suka Bu" ujar Mala.
"Iya bener kata Mala Bu" tambah dira.
"Kalau aku sih setuju ya Bu" ujar Haura.
"Baik, mengenai usulan kalian akan ibu bicarakan dulu sama kepala sekolah"
"Baik Bu, terimakasih"
"Sama-sama"
"Kami permisi Bu" ujar Mala.
Ketiganya keluar dari ruangan guru. Haura dan Dira yang tak tau apa alasan Mala mengusulkan camping di Bogor juga tak bertanya. Karena mereka juga setuju jika Bogor menjadi tempat camping sekolah mereka.
Jangan lupa like dan comen....