
Semilir angin menerpa rambut gadis yang tengah celingak celinguk di tepi danau. Ya, dia Mala yang sengaja datang ke danau untuk mencari tahu apakah Rakha akan datang saat ia tak membalas pesannya.
Dari kejauhan Mala melihat sosok yang di carinya. Ia tak percaya jika Rakha datang walaupun tak ada kepastian dari Mala bahwa dirinya akan menemui Rakha di tepi danau ini.
Sebelum Rakha semakin mendekat Mala berinisiatif untuk bersembunyi di balik pohon. Bukan apa-apa, Mala hanya ingin tau apa reaksi Rakha jika ia tidak datang.
Rakha berdiri tepat di tepi danau. Ia menghadap ke danau, namun ia seperti sedang mendapatkan masalah yang berat. Terdengar dari helaan nafasnya yang kasar dan berat.
"Mala, kamu di mana? udah jam segini kenapa belum datang juga" lirih rakha sembari melihat jam tangannya.
"Mala, plisss datang!" batin Rakha.
Sementara itu, di balik pohon. Mala yang melihat Rakha, entah kenapa ia menjadi kasihan. Tak tau ada angin apa, Mala akhirnya menghampiri rakha.
"Ngapain ngajak ketemu?" ujar Mala ketus.
"Mala?" ujar Rakha, ia langsung berbalik badan.
"Kamu datang?" tanya Rakha.
"Menurut kamu?"
"Ya maaf, aku kira bukan kamu. Abisnya kamu gak bales pesan aku" kekeh Rakha sembari menggaruk kepalanya.
"Kalau bukan aku, trus kamu berharap siapa? Dinda?"
"Bukan gitu Mala, maksud aku itu orang lain"
"Orang lain itu Dinda kan?" ujar Mala ngotot.
"Ampun dehhhh" batin Rakha.
"Aku minta maaf ya, tadi itu aku gak sengaja ketemu Dinda. Tiba-tiba aja dia nyamperin aku di kelas" terang Rakha.
"Kamu ngapain di kelas? kenapa gak gabung sama yang lain di kantin? ngehindarin aku?" tanya Mala.
"Ngak, gak ada yang ngehindarin kamu" balas Rakha gelagapan.
"Kalau gak, kenapa mukanya panik banget? santai aja dong" ujar Mala tersenyum kecut.
"Iya, aku akuin kalau aku ngehindarin kamu. Aku kesal liat kamu deket-deket sama Kevin" ujar Rakha.
Mendengar itu Mala sedikit terkekeh, ia tak menyangka jika seorang Rakha bisa cemburu juga.
"Kok malah ketawa sih?" tanya Rakha.
"Gimana gak ketawa, orang kamu lucu banget" balas Mala yang belum bisa berhenti tertawa.
"Lucu dari mananya?"
"Ya lucu aja, saat Kevin udah ngalah. Kamu malah cemburu sama dia" kekeh Mala.
"Kevin ngalah?"
"Iya dia udah dukung hubungan kita, dan dia mau sahabatan sama aku"
"Jadi gitu, kenapa kamu gak pernah cerita?"
"Gimana mau cerita, orang kamu ngehindarin aku" sewot mala.
"Hehe, iya maaf" Balas Rakha tercengir kuda.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi" tanya Mala.
"Pertanyaan yang mana?"
"Ngapain ngajak ketemu?" tanya Mala lagi.
"Hmm, aku mau ngomong sesuatu" lirih Rakha.
Rakha memegang kedua tangan Mala, dan tatapannya hangat.
"Mala, aku mau kamu jadi pacar aku!" ujar Rakha. Mendengar itu Mala tersenyum senang.
"Ya, aku mau" balas Mala cepat.
Senang karna Mala mau menerimanya. Rakha reflek langsung memeluk mala.
.
.
.
Sehabis dari danau, Mala dan Rakha memutuskan untuk jalan-jalan sebentar. Dan setelahnya mereka mampir ke sebuah kafe untuk makan.
Saat di kafe, Mala tak sengaja melihat seseorang yang dia kenali.
"Itu Kevin bukan?" tanya Mala.
"Mana?"
"Itu!"
"Ohiya, tapi dia sama siapa?"
"Pacarnya mungkin" balas Mala.
"Bisa aja sih"
.
.
.
Pukul 8 malam, Mala tengah makan malam bersama orang tuanya. Suasana makan malam, seperti biasanya hangat. Namun, kali ini terasa kurang tanpa kehadiran Oma Lia.
"Nanti habis makan telfon Oma, biar kangennya ilang" ujar Alisia.
.
.
.
Di dalam kamar, Mala mengambil ponselnya dan menghubungi Oma. Namun, beberapa kali ia menelfon yang ia dengar hanya suara operator.
"Oma kenapa gak bisa di hubungin ya!" pikir Mala.
***
Di sekolah Mala terlihat murung. Sudah beberapa kali Rakha mencoba untuk menghibur Mala. Namun, Mala juga tetap murung dan terlihat tidak bersemangat.
"Kamu kenapa masih murung? percaya deh sama aku, Oma itu lagi sibuk bantu Opa kamu di sana. Makanya gak bisa di hubungi" ujar Rakha.
"Sesibuk itu ya?" tanya Mala.
"Duh, aku harus jawab apa ya?" batin Rakha.
"Hmm, iya kan kerjaan opa kamu banyak" balas Rakha.
Mendengar itu, Mala kembali murung.
"Dira, Haura, bantuin aku dong" ujar Rakha.
"Mala, nanti kita belanja lagi yuk!" ajak Dira.
"Iya, Mala. Sekalian nanti kita nonton bioskop" tambah Haura.
"Males" hanya itu jawaban singkat dari Mala.
.
.
.
Pulang dari sekolah, Rakha kembali mengajak Mala ke danau agar ia lebih tenang. Karena suasana danau mampu membuat orang yang ada di sana menjadi lebih rileks.
"Coba deh kamu lempar batu ini, siapa tau kesedihan kamu bisa berkurang" ujar Rakha.
"Buat apa? gak guna banget" balas Mala.
"Coba aja dulu!"
Mala melemparkan batu yang di berikan Rakha ke danau.
"Pake tenaga dong Mala"
Mala melemparkannya lebih kuat dari sebelumnya.
"Kurang kenceng"
Dengan sekuat tenaga Mala melemparkan batunya lagi.
"Masih belum"
"AHHHHH!" teriak Mala sembari melemparkan batu tersebut sekuat tenaga.
"Nah gitu, gimana udah ngerasa lebih baik?" tanya Rakha.
"Iya" angguk Mala.
"Makasih ya" ujar Mala menatap rakha.
"Sama-sama". Rakha senang karna usahanya menghibur Mala berhasil.
"Nah gitu senyum, kan cantik" puji Rakha.
.
.
.
Mala sampai di rumah, seperti biasanya ia langsung memasuki rumah. Namun, tak sengaja ia mendengar suara mamanya yang sedang menangis. Mala yang penasaran langsung menghampirinya.
"Ma, mama kenapa?" tanya Mala.
"Malaaaaa hiks... hiks... " Alisia menangis tersendat-sendat di pelukan putrinya.
"Mama kenapa nangis?" tanya Mala.
"Oma Mala, oma_"
"Oma kenapa ma?" tanya Mala.
"Oma udah gak ada" lirih Alisia pada akhirnya.
"Gak, gak mungkin. Oma masih hidup. Oma gak mungkin ninggalin Mala, ninggalin kita" ujar Mala juga terisak.
Herman yang baru saja pulang melihat anak dan istrinya yang sangat sedih. Ia membantu menenangkan.
"Kalian harus ikhlas, ini udah kehendak Allah" ujar Herman.
"Pa, Oma gak akan ninggalin kita kan? Oma pasti cuma nge prank Mala kan pa?" ujar Mala di sela-sela tangisnya.
"Sabar sayanggg" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Herman.
Kabar meninggalnya Oma membuat keluarga kecil ini sangat terluka. Apalagi mereka mendapat kabar saat Oma sudah benar-benar pergi. Siang tadi Alisia tengah asyik memasak makan siang. Tiba-tiba saja ia mendapat telfon dari papanya jika mamanya sudah tidak ada. Alisia sangat hancur saat itu. Ia bagaikan tersambar petir mendengar berita tersebut dari papanya. Alisia tak menyangka, mama yang beberapa hari ini bersamanya. Tiba-tiba saja pergi dengan cara yang tragis seperti ini.