
Siapa yang pernah membayangkan jika mereka akan melihat kuburan dari putri mereka sendiri. Ya, itulah yang di rasakan oleh Alisia dan Herman saat ini. Diusianya yang sudah memasuki 40 tahun. Ia harus menatap kuburan yang bertaburan bunga. Yang tak lain adalah makam putrinya sendiri.
Rasanya Alisia dan Herman tidak mampu menghadapi semuanya. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Takdir tuhan yang terjadi. Mereka tidak bisa apa-apa selain berpasrah diri. Dan meminta agar sang putri bisa tenang di alam sana.
"Mama gak sanggup kalau harus kehilangan kamu Mala, rasanya tujuan hidup mama hilang tanpa kamu" lirih nya mengusap nisan yang bertuliskan Desmala Gralind.
Herman yang tau jika istrinya sangat lah rapuh. Mendekapnya kedalam pelukannya. Ia tahu jika Alisia sangat terpukul dengan kehilangan Mala. Begitu juga dengan dirinya. Tapi mereka harus kuat. Karna hidup harus terus berjalan.
"Ayo ma, kita pulang" ujar Herman.
"Tapi Mala pa, dia takut gelap, dia gak mau di tinggal sendirian" lirih Alisia. Ia teringat saat Mala tidur, Alisia tak sengaja mematikan lampu kamar Mala. Hingga tengah malam saat Mala terbangun ia menangis ketakutan. Sejak saat itu Alisia tak pernah lagi mematikan kamar mala saat mala tertidur.
"Semua teman-teman Mala, saya mengucapkan Terimah kasih atas kedatangannya" ujar Herman.
"Sama-sama om, Mala anak yang baik. Gak mungkin kita gak datang ke pemakamannya. Kami turut berdukacita atas kepergiannya Mala" ujar Haura mewakili teman-temannya.
"Iya Terimah kasih"
"Kalau gitu kami permisi" lirih Haura. Mereka semua pergi meninggalkan pemakaman Mala. Hanya tersisa Herman dan Alisia yang masih menatap nanar nisan putri mereka.
"Mama sama papa pamit ya" lirih Alisia.
Dari kejauhan sepasang mata menatap pemakaman itu dengan kesedihan yang sangat dalam. Melihat Alisia dan Herman yang sudah meninggalkan pemakaman. Ia mulai mendatangi pemakaman itu.
"Maaf, aku terlambat" ujar Rakha menatap kuburan di depannya.
"Aku sedih kehilangan kamu, tapi hati kecil aku masih yakin kalau kami masih hidup. Aku akan buktikan pada semua orang kalau yang di dalam kuburan ini bukan kamu!" ujar Rakha, tapi ia tetap meneteskan air mata walaupun hanya di bagian sudut matanya saja.
.
.
.
Tempat kecelakaan itu masih di batasi dengan garis polisi. Namun sudah tidak ada lagi orang yang berkerumun atau pun polisi yang berjaga di sana.
"Kalau jasad itu bukan kamu, apa kamu masih di bawah sana?" lirih Rakha menatap jurang yang curam itu.
"Aku mau turun ke sana!" ujar Rakha.
"Nak, kamu mau ngapain?" ujar seorang pria paru baya.
"Saya mau turun pak, saya yakin jasad yang di temuin itu bukan dia!"
"Apa maksud kamu?" tanya pria itu, ia berpakaian rapi dan terlihat seperti seorang pebisnis yang profesional.
"Kemarin, pacar saya mengalami kecelakaan di tempat ini. Ada sebuah jasad yang di temukan, tapi saya yakin jika itu bukan pacar saya!" ujarnya.
"Kenapa kamu begitu yakin, bukankah di dalam taksi itu hanya ada dia dan sopir saja, Dan sopirnya pun tidak dapat di temukan sampai sekarang. Bagaimana mungkin jasad yang di temukan itu bukan pacar mu?" tambah pria paru baya itu.
"Tunggu sebentar, kenapa bapak bisa tau detail sekali?" tanya Rakha. Bukan apa-apa, ia menjadi curiga dengan pria paruh baya yang baru di temuinya itu.
"A_a, saya mendengar berita dari orang-orang yang melihat kejadian itu" balasnya cepat.
"Apa bapak yakin?"
"Ya, saya sering lewat sini. Jadi saya tak sengaja mendengar dari orang-orang yang melihat langsung kejadian itu"
"Yasudah, kalau begitu saya pamit. Saya sudah terlambat" Pria paru baya itu melihat jam tangannya. Dan segera meninggalkan Rakha.
"Kenapa aku curiga dengan nya?" ujar Rakha.
"Ah mungkin aku terlalu sensitif saja saat ini" ujarnya menepis semua prasangka buruknya pada pria itu.
.
.
.
"Apa mungkin Mala terbawa arus sungai?" ujar Rakha.
Ia memulai pencahariannya dengan menyusuri sungai itu.
"Apa itu jam tangan?" lirih Rakha melihat benda yang mirip sekali dengan jam tangan terletak di tepian sungai itu.
Rakha memungutinya, dan ia sangat senang ketika tau jika jam tangan itu adalah milik Mala.
"Ini kan jam tangannya mala" lirihnya, setitik harapan baru saja ia dapatkan.
"Kalau jam tangan ini ada disini, apa mungkin Mala di selamatkan oleh warga sekitar?" pikirnya. Bersamaan dengan itu, Rakha juga melihat perumahan warga di tempat itu.
"Aku akan coba mencari Mala disini!"
.
.
.
Pemukiman ini sangat ramai, Rakha bingung ingin bertanya kepada siapa.
"Maaf Bu, apa ibu pernah lihat gadis ini?" ujar Rakha menanyai seorang ibu-ibu yang hendak ke pasar.
"Gadis itu? sa_saya gak liat" ibu-ibu itu langsung pergi dengan wajah ketakutan.
"Ibu itu kenapa?" pikir Rakha.
"Pak, maaf apa bapak pernah liat gadis ini?" tanya Rakha yang melihat seorang bapak-bapak dan kembali menunjukkan foto Mala.
"Untuk apa kamu mencari gadis ini?" tanya bapak itu.
"Dia mengalami kecelakaan kemarin, dan saya sedang mencarinya"
"Lebih baik kamu pulang, kamu tidak akan pernah menemukannya lagi" ujar bapak itu.
"Kenapa begitu pak?"
"Saya tidak bisa memberitahu kamu alasannya, tapi yang jelas kamu akan lebih aman jika kamu tidak mencari gadis itu"
"Tapi pak_" bapak itu pergi dan meninggalkan Rakha yang di liputi rasa penasaran.
"Kenapa orang-orang disini aneh sekali" ujar Rakha.
"Baiklah, aku tak akan menyerah, aku akan mencari Mala sampai ketemu"
Rakha kembali menanyai warga di pemukiman itu. Tapi jawaban Meraka tetap sama "Tidak tau". Rakha bingung kenapa penduduk di sini sangat aneh dan misterius. Sebenarnya pemukiman apa ini?
.
.
.
Lelah karna seharian telah mencari Mala, Rakha tetap saja tak bisa menemukannya. Hanya jam tangan yang ia temukan di tepi sungai. Yang menjadi harapannya saat ini. Setidaknya walaupun Rakha tak menemukan Mala. Ia mempunyai harapan kalau Mala masih hidup.
"Mala, kasih aku petunjuk buat nemuin kamu" lirih Rakha. Entah sejak kapan ia menjadi rapuh tanpa Mala.
Entahlah, untuk sekarang Mala adalah segalanya bagi Rakha. Hanya Mala yang bisa membuatnya bahagia setelah kepergian mamanya. Dan sekarang Mala juga hilang, rasanya dunia Rakha hancur berkeping-keping.
Sejak mamanya pergi, Mala menjadi alasan dunianya kembali berwarna. Mala yang menjadi alasan tertawa dan senyumnya. Dan Mala juga adalah alasan mengapa ia masih bertahan menghadapi papanya yang di penuhi akan dendam.
Jangan lupa like, comen dan vote...