Desmala Gralind

Desmala Gralind
Murid baru



1 minggu kemudian....


Berita tentang kematian Desmala Gralind masih hangat jadi perbincangan media masa. Mereka menganggap jika kematian putri dari keluarga Gralind itu sangat di sayangkan. Banyak yang tak menyangka jika gadis yang baru saja di perkenalkan oleh Alisia dan Herman Gralind beberapa bulan yang lalu kini telah meninggal dunia.


Herman dan alisia yang sedang berduka atas kematian putri mereka. Keduanya memutuskan untuk pergi ke Amerika untuk menenangkan diri. Bagi mereka di sini kenangan tentang Mala masih sangat hangat. Hingga mereka terus menerus larut dalam kesedihan akibat kenangan tentang Mala yang masih tertinggal.


.


.


.


Di lain sisi, Rakha masih yakin jika Mala masih hidup. Sudah 1 Minggu ia bolak balik ke pemukiman warga di sungai itu. Hingga warga di sana sudah tak asing lagi dengan wajahnya. Tapi tetap saja usahanya itu tak juga membawakan hasil.


"Kamu kesini lagi nak" ujar ibu-ibu yang hendak ke pasar.


"Iya Bu"


"Apa gak sia-sia usaha kamu selama seminggu ini?"


"Gak ada yang sia-sia buat orang yang kita sayangi Bu"


"Tapi bukankah jasadnya sudah di temukan? atas dasar apa kamu masih menganggap dia masih hidup?"


"Hati kecil saya berkata lain Bu" balas Rakha masih setia dengan senyum ramahnya.


"Baiklah, ibu tinggal dulu"


.


.


.


Di rumah, Rakha yang baru saja pulang setelah mencari Mala. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu karna kelelahan.


"Kamu masih nyari Mala?" tanya Andi yang baru saja turun dari tangga.


"Iya pa"


"Buat apa kamu buang-buang waktu, untuk orang yang udah jelas-jelas mati!" sarkas Andi.


"Mala masih hidup pa, aku yakin itu! dan aku bakal buktiin itu semua sama papa!"


"Cihh anak tidak mau di atur!"


"Aku salah udah pulang ke rumah ini!" sesal Rakha.


"Lalu kamu mau apa? mau keluar dari rumah ini? apa kamu sanggup?"


"Aku sanggup!" ujar Rakha. Ia langsung mengambil jaket yang baru saja ia lempar di atas sofa.


"Aku pergi!" ujar Rakha mengambil kunci motor di atas meja.


.


.


.


Seorang ayah adalah sosok yang di harapkan setiap anak. Namun, sekarang Rakha tak lagi mengharapkan seorang ayah. Sejak mamanya meninggal rasanya papanya juga ikut meninggal. Karna Rakha tak lagi merasakan kasih sayang papanya.


Jalanan di malam hari yang sepi membuat Rakha bebas kebut-kebutan dijalanan. Setidaknya dengan kebut-kebutan ia bisa merasa lebih lega.


Rakha menghentikan motornya, ia menatap langit malam yang bertaburan bintang.


"Malaaaaa! kamu di manaaaa?" teriak Rakha. Ia merasa frustasi saat ini.


.


.


.


Rakha tak tau harus pergi kemana malam ini. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke rumah Affan dan menginap di sana.


Beberapa kali bel rumah di pencet dan tak lama Affan keluar. Melihat Rakha yang sepertinya sangat berantakan. Affan langsung mempersilakannya masuk dan mengajak Rakha ke kamarnya.


"Kenapa?" tanya Affan.


"Berantem sama papa" Balas Rakha singkat.


"Masalah apa lagi?"


"Papa kamu bener Rakha, Mala udah meninggal! apa lagi yang mau kamu buktikan?" tanya Affan.


"Kenapa kamu malah ngedukung papaku?"


"Karna itu yang aku lihat Rakha, coba deh kamu pake logika! mana ada sih, orang yang bisa selamat dari kecelakaan itu! kamu gak liat jurang itu dalam banget"


"Salah aku ke sini!" ujar Rakha hendak bangkit.


"Mau kemana? udah disini aja! aku gak bakalan bahas itu lagi!" ujar affan, ia mengerti jika Rakha sedang frustasi. Sehingga ia lebih memilih mengalah dari pada membiarkan Rakha tidur di jalanan.


***


1 bulan kemudian....


Sudah satu bulan sejak kecelakaan itu. Rakha belum juga berhasil menemukan titik terang tentang keberadaan Mala. Semua teman-teman nya berusaha meyakinkan Rakha kalau Mala sudah meninggal dan ia harus ikhlas. Tapi Rakha tetap yakin kalau Mala masih hidup.


Rakha sudah tak lagi mencari Mala. Untuk saat ini ia hanya bisa berharap jika Mala akan kembali lagi ke hadapannya. Walaupun kemungkinan hal itu terjadi sangat kecil.


.


.


.


Di sekolah Rakha tidak lagi sering bergabung dengan teman-temannya. Ia menjadi lebih pendiam setelah kepergian mala. Ia selalu mengabiskan waktu sendiri seperti yang di lakukan mala pertama kali ia bertemu dengannya.


Keempat temannya sudah berusaha untuk menghibur Rakha. Namun, selalu berakhir gagal. Mereka hanya bisa berharap jika Rakha akan kembali seperti dulu. Dan matanya terbuka untuk menerima kenyataan kalau Mala telah meninggal.


.


.


.


Di kantin sekolah, Dira, affan, haura dan Zayyan sedang istirahat. Setiap kali mereka berkumpul maka Rakha akan selalu tidak ada.


"Rakha udah gak mau gabung sama kita semenjak Mala meninggal" ujar Haura, ia prihatin dengan keadaan Rakha. Haura tau jika Rakha sangat menyayangi Mala begitu pun sebaliknya.


"Iya, aku kasihan liat Rakha yang sekarang. Lebih suka menyendiri" tambah Dira.


"Sekarang dia gak mau lagi gabung di kantin sama kita. Rakha lebih sering ngabisin waktunya di perpustakaan kalau gak di kelas sendirian" lirih Zayyan.


"Dan kalau kita ngajak main, dia selalu nolak. Dan lebih milih ke danau tempat biasa ia dan Mala janjian" tambah Affan.


.


.


.


Di tepi danau yang tenang. Rakha duduk sendirian, setiap kali ia ada disini ia merasa lebih nyaman. Ia seperti merasakan ada Mala disisinya saat duduk di tepi danau.


Di danau, Rakha hanya bisa terus mengenang kenangannya bersama Mala satu persatu.


"Danau ini selalu mengingatkan ku tentang Mala" lirih Rakha. Ia mengambil sebuah batu di sampingnya. Dan menatap nanar batu itu. Selanjutnya ia melemparkannya sekuat tenaga ke arah danau.


"Dulu aku berusaha ngehibur kamu dengan melemparkan batu ke danau, sekarang aku bahkan gak bisa ngehibur diri aku sendiri. Karena kehilangan kamu" lirih Rakha.


"Aku mohon kamu kembali Mala, aku gak bisa tanpa kamu" ucapnya menatap jauh ke ujung danau.


***


Pukul 8 pagi. Rakha sudah berada di sekolah. Ia duduk sendiri di dalam kelas. Sejak saat Mala hilang dalam hidupnya rakha lebih suka dengan keheningan.


"Mala, aku kangen" lirihnya menatap foto Mala yang ada di dalam ponselnya.


Bel masuk berbunyi, kelas yang semulanya sepi kini menjadi ramai. Guru yang mengajar juga telah masuk.


"Pagi anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran. Ibu mau memperkenalkan teman baru kalian. Queenzie, silakan masuk!" pinta Bu guru.


Sepasang sepatu memasuki kelas yang mulai hening dengan karna penasaran dengan murid baru tersebut.


"Halo semua, aku Queenzie, kalian bisa panggil aku zizi" ujarnya sangat ramah.


Sontak seisi kelas melotot kaget saat melihat paras dari murid baru tersebut.


"Dia kan?" ujar Haura yang melangsung membekap mulutnya sendiri karena kaget.


Jangan lupa, like, comen, dan vote....