Desmala Gralind

Desmala Gralind
Bogor



Pertandingan basket berakhir dengan skor seri. Kevin merasa kesal karna ia gagal mengalahkan Rakha dalam pertandingan. Begitu juga sebaliknya, Rakha jug tak terima kalau ia seri dengan Kevin.


Keduanya saling menatap sinis satu sama lain. Hingga Mala mencetuskan kontak mata keduanya.


"Rakha, kamu haus kan? nih aku bawain minum!" seru Mala menepuk bahu Rakha dengan tersenyum lebar. Ia sudah memperhatikan Rakha sedari tadi saat bertanding basket dengan Kevin. Keduanya tidak seperti orang yang sedang bersaing dalam pertandingan. Tapi, seperti ada dendam pribadi dari sorot mata keduanya.


"Makasih sayang" balas Rakha mengusap kepala Mala. Pertama kalinya Mala di panggil sayang oleh Rakha. Dan itu membuat jantung mala berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Tumben manggil sayang" balas Mala tersipu malu, dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Rakha padanya. Beda halnya dengan Kevin yang sudah mengepalkan tangan menahan amarahnya.


"Sialan Rakha!" batin Kevin, ia langsung pergi meninggalkan Mala dan Rakha dengan perasaan kesal yang tak lagi bisa di bendung. Saking kesalnya ia sampai menendang batu krikil di jalan.


"Ahhhh ngeselin!!!" ujar Kevin sembari menendang batu krikil.


"Awwhhh, siapa yang nendang krikil?" terdengar suara kepala sekolah meringis kesakitan.


"Ya ampun kenapa bisa kena kepala sekolah sih!" batin Kevin, padahal ia tak berniat mencari masalah saat ini. Tapi masalah itu sendiri yang menghampirinya.


"Kevin! sini kamu!" pinta kepala sekolah.


Kevin menghampiri kepala sekolah dan meminta maaf padanya.


"Ibu maaf, saya gak sengaja. Seriuss!" ujar Kevin mengacungkan jarinya membentuk huruf V.


"Saya gak peduli, kamu harus di hukum!" balas kepala sekolah tegas.


"Jangan dong Bu, saya habis olahraga basket. Masa di hukum sih Bu, ibu gak kasihan sama saya?" ujar Kevin mencoba membujuk kepala sekolah. Tapi sepertinya usahanya itu sia-sia, karna kepala sekolah malah menjewer telinganya.


"Gak usah melas-melas sama saya! gak mempan!" balas kepala sekolah sembari menjewer telinga Kevin agar mengikutinya.


"Awhh, ibu sakittt. Ampun Bu" ujar Kevin memegangi telinganya. Sepanjang koridor sekolah Kevin di tertawakan oleh teman-temannya yang senang sekali melihat nya tersiksa.


Kepala sekolah berhenti di depan perpustakaan. Ia melepaskan jeweran telinga Kevin. Dan beralih menatap Kevin tajam.


"Sekarang hukuman kamu, kamu bersihkan dan rapihkan perpustakaan ini!" pinta kepala sekolah.


"Iya Bu" balas Kevin sembari mengelus-elus telinganya yang terasa panas.


"Gara-gara Rakha nih!" rutuk Kevin sembari mendumel-dumel tidak jelas.


***


Sepulang dari sekolah Mala dan Rakha pergi ke tempat favorit mereka yaitu danau. Suasana danau yang tenang membuat keduanya sangat nyaman berada di sini.


Mala dan Rakha duduk saling bersandar pada punggung masing-masing. Pandangan keduanya mengarah ke depan, mereka seakan menikmati suasana di danau yang begitu tenang.


"Mala" panggil Rakha.


"Ya" balas Mala.


"Dalam keluarga kamu ada gak kejadian besar yang terjadi sekitar Satu bulan lalu?" tanya Rakha Ia penasaran dengan perkataan papanya yang tak sengaja ia dengar tadi Malam. Kenapa papanya bisa bilang kalau penyebab kematian mamanya adalah keluarga Mala.


"Kejadian apa ya?" pikir Mala. Setaunya gak ada kejadian apa-apa sebulan yang lalu.


"Sebulan yang lalu aku cuman ingat waktu mama sama papa pulang tengah malam, padahal biasanya kalau udah tengah malam mereka gak bakalan pulang lagi. Kalau gak nginep di hotel palingan tidur di kantor" ujar mala.


"Emangnya mereka habis dari mana?" tanya Rakha.


"Dari Bogor" jawab Mala.


Deg


Apalagi saat ia ingat kalau sebelum mamanya meninggal. Mamanya tidak pulang ke rumah. Dan paginya tiba-tiba saja polisi datang ke rumah dan bilang kalau mama telah meninggal karena mobil yang di kemdarainya memasuki jurang.


"Tanggal berapa kejadiannya?" tanya Rakha.


"Kalau tanggalnya aku gak inget sih, emangnya kenapa?" tanya Mala penasaran. Entah kenapa mala merasa kalau Rakha tengah mengorek informasi darinya.


"Gak papa, aku nanya aja" balas Rakha.


"Hm" balas Mala manggut-manggut dengan jawaban rakha.


"Udah sore, pulang yuk" ajak Rakha.


"Oke"


***


Malam harinya Mala tengah santai di atas kasurnya sembari membaca novel kesukaannya yang berjudul My Ice Girl. Cerita novel itu mampu menarik minat Mala yang tak terlalu suka membaca.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu kamarnya membuat Mala segera menyimpan novelnya. Karna omanya sangat tidak suka jika Mala suka membaca novel.


"Masuk Oma!" pinta Mala. Ia sudah tau kalau yang mengetuk adalah Oma terdengar jelas dari cara ketukan tangannya.


"Mala, papa sama mama udah pulang" ujar oma, hal itu langsung membuat Mala kegirangan.


"Beneran Oma, Mala samperin mama sama papa dulu ya Oma" ujar mala berlari menuruni anak tangga. Ia segera menghampiri orang tuanya yang duduk di ruang tamu.


Mama, papa, oleh-oleh buat aku mana?" tanya Mala dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Kamu ini, orang tua baru pulang bukannya nanyain kabarnya gimana? ini malah minta oleh-oleh" balas Alisia sewot. Karna anaknya lebih menginginkan oleh-oleh dari pada memeluknya.


"Udahlah sayang gak usah cemberut gitu, kasih aja oleh-oleh buat Mala" ujar Herman terkekeh melihat tingkah anak dan istrinya itu.


Mala langsung ngacir ke kamarnya setelah mendapat oleh-oleh dari mamanya. Mala sangat antusias melihat apa yang di belikan mamanya untuk dirinya.


Prang....


Suara kaca yang di lempar hingga hancur membuat Mala kaget. Suara itu berasal dari bawah, Mala segera turun kara ppenasaran dengan apa yang terjadi.


"Ma, pa. Itu suara apa?" tanya Mala pada orang tuanya yang juga sedang melihat di mana asal suara kaca pecah itu.


"Kamu sama Mala tunggu di sini! biar aku yang periksa" ujar Herman. Ia tak akan membiarkan anak dan istrinya terluka. Prinsip hidup Herman Gralind adalah ia tak akan membiarkan anak dan istrinya terluka.


Herman sampai di mana terdengar suara pecahan kaca. Ia terkejut melihat kaca jendela rumahnya hancur berkeping-keping. Dan yang membuat Herman bingung adalah kertas yang melekat pada batu yang di gunakan untuk memecahkan kaca jendela tersebut.


"Kalian pembunuh! kalian akan membayarnya!" isi dari surat itu.


"Siapa yang ngirim ini?" batin Herman.


"Pa, ada apa?" tanya Mala.


"Papa kan udah bilang kamu tunggu disana! kenapa masih ke sini?!"" tanya Herman.


"Aku takut papa kenapa-kenapa" ujar Mala sembari memegangi tangan mamanya.


"Papa gak papa kok, kamu tenang aja" ujar Herman menenangkan anak dan istrinya yang terlihat khawatir.


Jangan lupa like dan coment...