Desmala Gralind

Desmala Gralind
Kecelakaan



Membersihkan rumah sudah menjadi pekerjaan bi inem sekarang. Ia sedang fokus membersihkan debu-debu pada foto di atas nakas dengan kemocengnya.


Prangggg


Tanpa sengaja foto mala yang terpajang di atas nakas terjatuh dan pecah.


"Aduh foto nya non Mala pecah" ujar Bi inem. Ia mengamati foto Mala yang tengah tersenyum itu. Entah kenapa melihat foto itu terjatuh, bi inem merasa gelisah.


"Kenapa perasaan aku jadi gak enak ya" ujar Bi inem.


"Berita terkini, Sebuah taksi dengan plat nomor BA 1122 AD tiba-tiba saja terjun ke jurang, kecelakaan tersebut merenggut nyawa seorang penumpang perempuan yang berusia 17 tahun. Dan sopir taksi belum di temukan keberadaannya sampai sekarang. Sekian berita terkini!"


Mendengar berita dari televisi Bi inem langsung syok hingga ia menjatuhkan kemoceng yang ia pegang.


"Itu kan taksi yang di naikin non Mala" ujar Bi inem, yang ingat betul sebelum Mala pergi, ia tak sengaja melihat plat taksi yang di tumpangi anak majikannya itu. Dan itu sama persis dengan plat nomor yang di sebutkan wartawan di televisi.


"Ya Allah non Mala" ujar Bi inem. Ia seakan tak kuat sekedar berdiri saja saat ini.


"Non Mala, kenapa ini bisa kejadian" lirihnya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari televisi.


Telfon rumah berdering, Bi inem langsung berlari mengangkatnya. Ia fikir itu mungkin dari pihak kepolisian atau rumah sakit yang ingin mengabari tentang kondisi Mala.


"Halo"


"Halo, bi. Mala masih di rumah ya? tadi saya minta dia buat anter berkas tapi gak nyampe-nyampe. Saya telfonin nomornya gak aktif-aktif" ujar Herman dari seberang telfon.


"Tuan_" lirih Bi inem yang sedang berusaha menahan tangisnya.


"Bi, bi inem kenapa? kok kayak abis nangis?" tanya Herman.


"Non Mala tuan_ non Mala hiks..."


"Bi Mala kenapa? jangan bikin saya cemas!"


"Non Mala kecelakaan tuan, taksi yang di tumpanginya masuk jurang"


"APAAA?!!"


Tut....


.


.


.


Kecelakaan taksi yang baru saja terjadi membuat orang-orang di sekitar tempat itu berkerumun ingin melihat secara langsung. Garis polisi juga sudah di pasang agar tidak ada warga yang menerobos memasuki kawasan tersebut.


Seorang jenazah di bawa polisi memasuki mobil ambulance. Alisia dan Herman yang baru saja sampai di tempat kejadian. Melihat jenazah yang akan di masukkan ke dalam ambulance. Mereka langsung menghampirinya.


"Maaf boleh kita lihat jenazahnya?" ujar Herman.


"Ya silakan"


Polisi memperlihatkan wajah dari korban itu kepada Alisia dan Herman.


"Pa, itu bukan Mala kan?" lirih Alisia yang kaget dengan kondisi jenazah yang sudah hangus terbakar. Mereka bahkan tak bisa mengenali wajah putri mereka sendiri.


"Mala, anak papa" ujar Herman tak percaya. Ia tak pernah membayangkan akan melihat putrinya meninggal dalam kondisi tragis seperti ini.


"Kami menemukan beberapa barang ini di tempat kejadian, mungkin ini milik korban" ujar polisi. Ia memberikan dompet dan ponsel yang mereka temukan saat evakuasi.


Herman mengambil dan memeriksanya. Ia memegang sebuah dompet yang sangat ia kenali. Ponsel putrinya yang selalu di bawa Mala kemana-mana.


"Pa, itu dompet sama ponselnya Mala hiksss..." lirih Alisia yang tak bisa membendung tangisnya lagi.


"Iya ma" lirih Herman dengan suara serak seakan-akan tengah menahan tangis.


"Malaaa hiks... hiks..." Alisia histeris memeluk putrinya yang sudah tak bernyawa lagi.


"Mala, kenapa kamu tinggalin papa secepat ini" lirih Herman menatap sayu pada jenazah di depannya.


.


.


.


"Akhirnya semuanya terbalaskan" ujar Andi.


"Terbalaskan apa pa?" tanya Rakha yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia tak sengaja mendengar papanya berbicara sendiri. Terlihat raut wajahnya sangat bahagia.


"Keliatannya seneng banget"


"Gak bukan apa-apa, tadi papa memang tender. Makanya papa seneng" balas Andi.


"Ohhh"


"Papa mau istirahat dulu" ujarnya buru-buru ke kamar. Andi sangat tau jika Rakha mencintai Mala. Jika Rakha tau ia yang menyebabkan kematian Mala. Bukan mustahil jika Rakha akan membencinya seumur hidup.


Rakha yang tak mau ambil pusing. Ia pun melanjutkan tujuannya menuju dapur untuk mengambil minum.


"Kenapa ya? aku kepikiran Mala terus dari tadi" ujar Rakha bermonolog dengan dirinya sendiri.


"Coba aku telfon deh" pikirnya.


Rakha menghubungi Mala, tapi beberapa kali ia menelfon, hanya suara operator yang menjawab. Yang bisa di dengar oleh rakha.


"Kenapa gak aktif?" ujar Rakha bertanya-tanya.


***


Keesokkan harinya, Rakha pergi ke sekolah seperti biasanya. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Mala. Ia ingin bertanya kenapa Mala tak mengangkat telfonnya. Dan juga tak memberinya kabar sedikit pun.


Di kelas, Rakha terus saja menatap ke pintu masuk kelas. Ia ingin menjadi orang pertama yang melihat kedatangan Mala. Namun, sudah bel masuk pun Mala juga belum datang. Rakha juga sudah menanyai Dira, Haura, Zayyan dan affan. Tapi mereka juga tidak tau kabar Mala. Bahkan Haura dan Dira yang mencoba menghubungi Mala ponselnya juga tidak aktif.


Wali kelas memasuki kelas. Hal itu menjadi tanda tanya bagi para murid. Karena hari ini tidak ada jadwal pelajaran dengan wali kelasnya itu.


"Pagi anak-anak, hari ini ibu ingin memberikan kabar duka dari salah satu teman kalian" ujarnya.


"Kabar duka apa Bu?" tanya Dira. Sementara itu, Rakha masih berharap jika Mala akan datang.


"Teman kalian, Desmala Gralind meninggal dunia. Karna kecelakaan kemarin" ujar wali kelas.


Rakha yang mendengar itu langsung melotot kaget. Ia memastikan pendengarannya.


"Siapa Bu?" tanya Rakha.


"Desmala Gralind"


"Gak mungkin Bu, kemarin dia masih sama saya Bu" ujar Rakha tak percaya.


"Ibu tidak mengada-ada, orang tua Mala sendiri yang mengabari ibu pagi tadi. Mala mengalami kecelakaan saat mengantarkan berkas bapak Herman yang ketinggalan. Taksi yang di tumpanginya memasuki jurang dan jasadnya pun hangus terbakar"


"Gak, itu pasti bukan Mala" bantah Rakha.


"Lalu sekarang jasadnya di mana Bu?" tanya Dira. Sebagai seorang sahabat ia tak pernah menyangka akan berpisah secepat ini dengan Mala.


"Jasadnya ada dirumah, dan siang ini akan di makamkan oleh pihak keluarga"


"Kamu harus ikhlas Rakha" ujar Affan yang berusaha menguatkan sahabatnya itu.


"Affan bener, umur seseorang gak ada yang tau Rakha" tambah Zayyan.


"Ibu saya mau izin, saya mau lihat mala untuk terakhir kalinya" ujar Rakha. Ia ingin memastikan jika jasad yang di temukan itu benar-benar Mala.


"Hari ini, khusus kelas ini. Ibu sudah minta izin kepala sekolah untuk pergi kepemakaman Mala"


.


.


.


Di kediaman Gralind, lantunan surat Yasin terdengar menggema di dalam rumah. Suara Isak tangis mengiringi kepergian gadis yang baru berusia 17 tahun itu.


"Yang sabar ya Lis, tuhan lebih sayang sama anak kamu" ujar salah satu tetangga Alisia.


"Hiks... hikss.. Mala..."


Sebagai seorang ibu, Alisia juga akan rapuh ketika putri semata wayangnya meninggalkan mereka untuk selama-lamanya.


Jangan lupa like dan comen....