Desmala Gralind

Desmala Gralind
Dorong motor



Saat perjalanan pulang tiba-tiba saja ban motor Rakha kempes. Hingga membuat motornya oleng.


"Kenapa Rakha?" tanya Mala.


"Kayaknya ban nya kempes deh" balas Rakha.


Ia menghentikan motornya ke pinggiran jalan. Dan benar saja saat dia melihat ban motornya memang kempes.


"Ayo dorong kita cari tambal ban" ujar Mala.


"Iya" balas Rakha. Ia mendorong motornya menuju tempat tambal ban sementara Mala juga membantu mendorongnya dari belakang.


"Maaf ya, udah bikin kamu dorong motor" ujar Rakha ia merasa bersalah karna telah membuat Mala ikut mendorong motornya.


"Gak papa kok" balas Mala tersenyum tulus.


Rakha dan Mala akhirnya sampai di tempat tambal ban.


"Akhirnya sampe juga" ujar Mala lega.


"Pak ban motor saya kempes" ujar Rakha.


"Bentar ya mas, saya periksa dulu" balas tukang tambal ban mengecek ban motor Rakha.


"Ban nya bocor mas, ketusuk paku ini" ujar tukang tambal ban.


"Ditambal aja pak!" pinta Rakha.


"Baik mas"


Rakha beralih menatap Mala yang sedang mengelus tenggorokannya.


"Mala pasti haus" batin Rakha.


"Mala, kamu tunggu bentar ya!" ujar Rakha.


"Mau kemana?"


"Udah tunggu aja, bentar doang"


Rakha menghampiri sebuah warung yang tak jauh dari tempat tambal ban itu. Ia kembali setelah membeli dua air mineral dan sebuah tisu.


"Nih, haus kan abis dorong motor" kekeh Rakha.


"Tau aja" balas Mala menampilkan seluruh deretan gigi putihnya.


Mala meneguk air mineralnya hingga sisa separoh.


"Lega banget rasanya" lirih Mala.


Rakha mengambil tisu dan mengelap dahi Mala yang berkeringat.


"Capek ya?" tanya Rakha sembari mengelap keringat di dahi Mala dengan tisu. Tanpa sadar jika Mala tengah mematung karna tingkahnya itu.


"Rakha ngapain ini? jantungku kenceng banget lagi detaknya" batin Mala berteriak.


"Udah cantik lagi" kekeh Rakha.


Mala memukul bahu Rakha dengan kencang secara tiba-tiba.


Bug


"Awhh, Mala kenapa sih? sakit tau!" balas Rakha mengusap bahunya yang habis kena pukul mala.


"Siapa suruh kayak gitu tadi, bikin jantung gak aman aja" ujar Mala keceplosan.


"Ahhhh, aku kenapa ngomong gitu" batin Mala.


"Apa? jantung gak aman. Emang aku ngapain? cuman ngelapin keringat doang" balas Rakha.


"Ahhh, aku tau kamu salting ya!" Kekeh Rakha.


"Udah tau nanya lagi!" ketus Mala.


"Ini kenapa mulutku jujur banget ya" batin Mala tak habis pikir.


"Beneran salting? Sini deh aku peluk, bikin sayang tau gak" ujar Rakha merangkul Mala.


"Berasa jadi nyamuk saya mas" kekeh tukang ban yang menjadi saksi kebucinan Rakha dan Mala.


Rakha dan mala hanya nyegir gak jelas. Dan Rakha melepaskan rangkulannya karna tidak enak dengan tukang tambal ban.


"Mas ini motornya udah selesai!"


"Makasih ya pak"


Rakha dan Mala meninggalkan tempat itu, Rakha segera mengantarkan Mala pulang ke rumahnya. Sesampainya di depan rumah ada Oma Lia yang ternyata sedang duduk di depan rumah dengan majalah di tangannya.


"Ada Oma" ujar Mala pelan, tapi tetap bisa di dengan oleh Rakha.


"Mala, udah pulang cucu Oma" ujar Oma.


"Iya Oma" balas Mala kikuk.


"Ini siapa?" tanya Oma.


"Ini teman sekolah aku Oma" balas Mala cepat.


"Rakha Oma" ujar Rakha memperkenalkan diri.


"Rakha?" tanya Oma.


"Iya Oma"


"Mungkin namanya sama kali Oma sama cucunya teman Oma" ujar Mala.


"Bisa juga sih"


"Rakha, harus pulang kan ya?" ujar Mala memberikan kode pada Rakha.


"Ah iya, Oma. Rakha harus pulang sekarang" ujar Rakha.


"Rakha gak mau mampir dulu" tawar Oma.


"Ga-gak usah Oma, Rakha pamit ya Oma, Mala" ujar Rakha.


"Hati-hati ya"


***


Malam harinya Rakha merasa haus. Ia keluar untuk mengambil air tapi tak sengaja ia lewat di depan kamar papanya. Samar-samar ia mendengar papanya sedang berbicara dengan seseorang. Rakha mencoba menguping pembicaraan papanya dengan menempelkan telinganya ke pintu.


"Aku gak mau tau, Herman dan keluarganya harus menderita. Gara-gara mereka istriku Andini meninggal. Mereka harus membayar semuanya!" ujar Andi terdengar di penuhi amarah.


"Apa? Mama meninggal karna keluarga Mala" batin Rakha.


Rakha segera meninggalkan kamar papanya dan kembali ke kamar.


"Apa maksudnya? kenapa keluarga Mala di sebut papa sebagai penyebab kematian mama" pikir Rakha.


"Aku harus menyelidikinya" ujar Rakha yakin.


Sementara itu, di rumah Mala. Oma dan Mala tengah makan malam bersama, mereka hanya makan malam berdua karena orang tua Mala tengah liburan di Bali.


"Sepi ya Oma, gak ada papa sama mama" ujar Mala.


"Iya" balas Oma.


"Oiyah Mala, Rakha itu pacar kamu?" tanya Oma penasaran.


"Bukan Oma" balas Mala jujur. Karna memang benar ia dan Rakha belum pacaran secara resmi. Mereka hanya baru mengungkapkan perasaan masing-masing.


"Iya juga gak papa kali" balas Oma terkekeh.


"Oma juga pernah muda kali" ujar Oma.


***


Pagi harinya Mala berangkat sekolah di jemput oleh Rakha.


"Mala pamit ya Oma" ujar Mala.


"Iya, jagain cucu Oma ya Rakha" pinta Oma pada Rakha.


"Pasti Oma" balas Rakha berlagak seolah sedang hormat bendera.


Mala dan Oma hanya terkekeh dengan tingkah Rakha.


.


.


.


Pelajaran pertama pagi ini adalah pelajaran olahraga. Semua murid tengah pemanasan di lapangan. Selesai pemanasan semua murid di kelompokkan antara perempuan dan laki-laki. Dan kembali di bagi menjadi dua regu kelompok perempuan dan dua regu kelompok laki-laki. Guru olahraga meminta mereka untuk bertanding bola basket. Regu pertama yang akan bermain adalah regu yang di pimpin oleh Rakha dan regu lainnya di pimpin oleh Kevin.


"Kamu gak bakal menang lawan aku!" ujar Kevin terkesan meremehkan Rakha.


"Kita lihat aja nanti" balas Rakha menunjukkan smirknya.


Bola pertama di dapatkan olah Kevin dan Rakha berusaha merebutnya namun gagal. Kevin berhasil mencetak skor.


"Lihatkan!" ujar Kevin membanggakan diri.


"Baru permulaan jangan senang dulu" balas Rakha.


"Rakha!! Ayo kamu bisa!" teriakan Mala membuat Rakha merasa menang, beda halnya dengan Kevin yang terlihat kesal.


Rakha membalas teriakan Mala dengan senyuman dan mengacungkan jempol pertanda jika ia tak akan kalah.


"Kalau udah di semangatin gini badan jadi lebih ringan ya" kekeh Rakha secara tidak langsung meledek Kevin.


"Mala ngapain nyemangatin dia sih" batin Kevin.


Saat Kevin ingin memasukkan bola ke ring Rakha berhasil merebutnya. Dan Rakha langsung melemparkannya kembali ke ring.


"Yeah" ujar Rakha senang karna ia berhasil mencetak skor.


"Rakha!!! you is the best" teriak Mala di pinggir lapangan.


"Alay banget deh" ujar Dira.


"Kayak kamu gak aja, tuh sih Affan cetak skor" ujar Mala menunjuk Affan yang berhasil memasukkan bola ke ring.


"Ahhh, Affan baby aku emang the best" ujar Dira berteriak heboh. Dan di lapangan Affan membentuk hati dengan tangannya dan mengarahkannya kepada Dira.


"Sama aja kalian berdua" ujar haura geleng-geleng kepala.


Jangan lupa like dan comen ya...