Desmala Gralind

Desmala Gralind
Bukti



Pulang dari sekolah rakha tampak murung di parkiran. Semua murid telah berlalu lalang meninggalkan sekolah. Tapi Rakha, ia masih setia duduk di motornya dan menatap lurus ke depan. Tatapannya pun terlihat kosong.


Teman-temannya tak ada yang mau menegurnya. Karna raut wajah Rakha terlihat sangat tak bersahabat.


Sementara itu, Zizi yang baru saja keluar dari kelas dan hendak menunggu jemputan. Ia tak sengaja melihat Rakha yang sedang melamun.


"Rakha kenapa?" pikirnya.


Tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri Rakha. Zizi langsung menepuk bahu Rakha dengan tidak lembutnya. Alias sangat keras.


"Woii Rakha! ngapain bengong disini?"


Mendengar suara cempreng Zizi, Rakha langsung terlonjak kaget. Ia langsung menoleh pada Zizi yang tersenyum lebar padanya.


"APAAA?!!!" bentak Rakha sembari melemparkan helm yang di pegang nya ke lantai.


Mendengar bentakan Rakha, Zizi langsung bungkam dan menundukkan wajahnya. Tubuhnya bergetar, Rakha sudah bisa menebak jika gadis di depannya ini tengah menangis karena bentakannya.


"Sorry" lirih Rakha, ia sungguh tak bermaksud membentak Zizi.


Zizi langsung menegakkan kepalanya dan menatap Rakha. Dan dugaan Rakha benar, Zizi sedang menangis. Sepertinya bentakannya terlalu keras pada Zizi hingga gadis itu menangis.


"Kamu kenapa rak, kenapa sekarang jadi emosional banget" lirihnya. Mendengar kalimat itu, Rakha merasa jika yang ada di depannya saat ini bukanlah Zizi. Tapi Mala, pacar yang selama ini di carinya.


"Mala" lirih Rakha menatap nanar gadis di depannya.


Mendengar nama Mala di sebut. Zizi langsung menyeka air matanya.


"Sorry Rakha, aku harus pulang! jemputan ku udah datang" ujar Zizi. Ia langsung berlari meninggalkan Rakha. Namun, saat menaiki mobil jemputannya, Zizi menoleh kebelakang dan menatap Rakha yang juga tengah menatapnya.


"Maaf" lirih Zizi dengan gerakan bibir tanpa suara.


.


.


.


Rakha memasukkan motornya ke dalam garasi rumah. Melihat mobil papanya yang juga sudah ada di garasi Rakha sudah bisa menduga jika papanya sedang ada di rumah.


Rakha langsung menuju kamarnya. Namun, baru beberapa anak tangga yang ia naiki suara papanya membuatnya menghentikan langkahnya.


"Rakha"


Panggilan itu, panggilan yang sudah satu bulan lebih tak pernah lagi ia dengar. Papanya sudah satu bulan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Dan hari ini baru kembali.


"Ada apa pa?"


"Besok kita kembali ke Bogor" ujar Andi.


"Untuk apa pa?"


"Karna rumah kita di sana"


"Gak, aku mau tetap disini!"


"Papa gak terima penolakan! papa udah urus surat kepindahan kamu dari sekolah!"


"Papa apa-apaan sih! aku gak suka papa selalu ngatur-ngatur hidup aku!"


"Apa maksud kamu Rakha? papa itu orang tua kamu! sudah seharusnya papa ngatur hidup kamu"


"Tapi gak gini caranya pa"


"Keputusan papa udah final! kamu akan tetap kembali ke Bogor bersama papa!"


"AHHHHH" teriak Rakha kesal.


.


.


.


Zizi sudah 2 jam standby di depan laptopnya. Dan ia akhirnya bisa tersenyum senang saat apa yang di tunggu-tunggu nya akhirnya terjadi.


"Yessss, akhirnya aku dapat buktinya" ujarnya senang.


Zizi menutup laptopnya dan menelfon seseorang.


"Halo ayah" ujarnya.


"..."


"Aku udah dapatin tujuan aku! besok ayah sama bunda balik ke indo ya! aku mau selesaikan semuanya"


"...."


"Makasih ayah, bunda udah mau bantuin aku sejauh ini"


"...."


"Byeeee"


.


.


.


Rakha menatap keluar jendela. Saat ini ia sedang ada di rumah Affan. Setelah perdebatannya dengan papanya Rakha langsung pergi dari rumah dan menuju rumah Affan.


"Aku balik ke Bogor besok!" ujar Rakha.


"Jangan becanda deh rak! gak lucu!" bantah Affan yang beranggapan jika Rakha hanya sedang mengerjainya.


"Siapa yang becanda, aku serius!"


"Gak percaya!"


"Kamu bisa nolak kan?"


"Papa gak terima penolakan"


"Astaga, om Andi kenapa sih? suka banget semena-mena sama kamu Rakha!"


"Udahlah, aku juga capek Affan. Kayaknya aku bakal nurutin papa, tujuan aku buat tetap di sini juga udah gak ada. Mala udah pergi" lirihnya.


Affan yang mengerti jika sahabatnya sedang bersedih hanya bisa menghiburnya.


"Sabar ya Rakha!"


***


Keesokkan harinya, Zizi sengaja tidak masuk sekolah. Ia ingin menjemput ayah dan bundanya di bandara.


"Halo, ayah Zizi udah di depan bandara nih"


"..."


"Yaudah, Zizi tunggu sini ya"


"..."


Sudah 10 menit Zizi menunggu di depan bandara. Tapi ayah dan bundanya juga belum datang.


Tiba-tiba saja matanya di tutup dari belakang. Zizi dapat menebak jika itu adalah ayahnya.


"Ayah" tebak Zizi.


"Yaps bener" balasnya. Seorang pria paru baya tersenyum lebar padanya. Ia langsung mendekap zizi kedalam pelukannya.


"Ayah udah kali pelukannya, bunda juga mau peluk" celetuk wanita paru baya di sampingnya.


"Bundaaaa" pekik Zizi kegirangan.


"Uhhhh bunda kangen deh" lirihnya sembari memeluk Zizi.


"Zizi juga"


"Tuan Kenzo, nyonya zavi. Mari saya antarkan pulang!" ujar sopir yang mengantar Zizi ke bandara.


Kenzo dan Zizi mengangguk. Ketiganya langsung menaiki mobil. Dan sang sopir mengemudikannya.


"Zizi kamu gak akan ninggalin bunda kan?" tanya zavi.


"Gak akan bunda" balas Zizi.


"Makasih ya, udah mau jadi anak bunda. Walaupun bunda tau kalau kamu masih punya orang tua kandung"


"Bunda juga orang tua Zizi kok" balasnya.


"Jadi gimana? Zizi udah dapet bukti yang valid?" tanya Kenzo.


"Udah, semua berkat bantuan ayah" balas Zizi.


"Liat deh yah, Zizi rasa ini udah bukti yang kuat banget" ujar Zizi memberikan laptopnya pada Kenzo.


"Wahhhh, ini gak bakalan bisa bikin dia mengelak lagi! anak ayah emang smart" puji Kenzo.


"Enak aja! anak bunda juga!" celetuk zavi.


"Iya anak bunda sama ayah" balas Kenzo. Yang kemudian di akhiri dengan kekehan mereka.


.


.


.


Di kediaman keluarga Hermawan. Rakha dan papanya sedang memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.


"Sudah semua?" tanya Andi.


"Sudah" singkat Rakha.


"Ayo berangkat!" ujar Andi.


Baru saja akan berangkat, sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah mereka.


"Apa benar ini rumah Andi Hermawan?" tanya polisi.


"Ya saya sendiri, ada apa pak?" tanya Andi, karna ia merasa tidak melakukan kesalahan yang berhubungan dengan hukum.


"Kami membawa surat penangkapan untuk saudara atas dugaan pembunuhan berencana pada saudari Desmala Gralind" balas polisi.


"Tapi saya gak melakukan apa-apa pak, atas dasar apa tuduhan itu di tuduhkan kepada saya?" tanya Andi.


Polisi itu menunjukkan sebuah video, dimana Andi sedang berada di ruang kerjanya. Dan dalam video itu Andi sedang menelfon dengan seseorang. Dan mengatakan jika ia adalah pelaku yang merencanakan pembunuhan tersebut pada Desmala Gralind.


"Gimana bisa video itu_"


"Jadi papa yang udah bikin Mala meninggal!" ujar rakha.


"Gak_gak Rakha ini salah paham!"


"Salah paham apa lagi pa! semua nya udah jelas!" Ia tak menyangka jika penyebab dari kehilangannya saat ini adalah ulah papanya sendiri.


"Papa bisa jelasin semuanya!"


"Aku benci sama papa!" bentak rakha. Rakha memalingkan wajahnya dari papanya.


"Ayo ikut kami ke kantor polisi sekarang!" ujar polisi menarik paksa Andi.


Jangan lupa like dan comen...