
Sudah 15 menit berlalu. Tapi Mala dkk belum juga kembali ke tempat camping. Hal itu membuat para guru dan teman-temannya khawatir.
"Sudah 15 menit, lebih baik sekarang kita susul mereka!" ujar Bu Salma.
"Baikk Bu"
Para guru dan teman-temannya memasuki hutan. Mereka memulainya dengan menyusuri tempat di mana jalur jerit malam di adakan.
"Tunggu bentar Bu" ujar Affan yang menyadari sesuatu. Ia mengarahkan senternya ke tanah untuk memastikan.
"Ada apa affan?" tanya Bu Salma.
"Lihat Bu, ini ada jejak kaki yang mengarah ke sana. Tapi arah panahnya mengarah ke arah sebaliknya" ujar Affan.
"Maksud kamu apa?" tanya Bu Salma.
"Apa mungkin, kalau petunjuk arahnya berputar oleh angin. Sehingga mereka tidak mengikuti arah panah menuju tempat camping, tapi malah menuju hutan" terka Zayyan.
"Yaps, sesuai prediksi ku zay, sebaiknya kita cari mereka ke sana" usul Affan.
"Gak mau ah, serem tau malam-malam masuk ke hutan" ujar Dinda yang tak ingin terlibat mencari Mala dkk.
"Yasudah kalau begitu, kalian semua kembali saja ke tenda. Biar ibu, Affan, zayyan dan guru-guru yang lain yang mencari Mala dan teman-temannya " ujar Bu Salma.
"Yaudah Bu, kita balik duluan" ujar Dinda, yang kemudian di ikuti Dinda, dini dan Tika. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain.
"Kamu gak ikut teman-teman yang lain Kevin?" tanya Bu Salma.
"Gak Bu, saya mau cari Mala. Saya di amanahkan sama orang tuanya buat jaga Mala" ujar Kevin.
"Yasudah ayo!"
Para guru, Affan, Zayyan dan Kevin memasuki hutan. Mereka berteriak memanggil-manggil rombongan yang hilang itu.
"Malaaaaa!"
"Rakhaaaa!"
"Diraaaaaa!"
"Hauraaaaa!"
"Kalian di mana?"
.
.
.
Sementara di sisi lain, rakha telah berhasil membuat api unggun. Sehingga teman-teman nya tak merasa kedinginan lagi.
"Gimana? masih dingin?" tanya Rakha.
"Udah lebih hangat" ujar Dira dan di angguki oleh Haura.
"Kira-kira, gimana caranya biar kita bisa keluar dari sini ya, masa kita harus nunggu siang sih" ujar Mala.
"Cuma itu satu-satunya cara, kalau kita tetap berputar-putar, yang ada kita gak punya energi lagi" balas Rakha.
.
.
.
Sembari mencari Affan terus saja mematah-matahkan ranting pohon sebagai tanda. Agar nantinya mereka tidak ikut tersesat di dalam hutan.
"Affan, kamu ngapain sih matahin ranting?" tanya Zayyan.
"Ini tuh, tanda biar kita gak nyasar nantinya" balas Affan.
"Ohhh"
"Diraaaaaa, kamu di mana?" teriak Affan.
"Haura, teriak dong biar kita bisa tau kalian di mana?" ujar Zayyan.
"Mala, kasih kita tanda biar bisa nemuin kalian!" pekik Kevin.
.
.
.
Dira dan Haura yang seperti mendengar sesuatu sejenak terdiam memastikan pendengaran mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Mala.
"Denger gak? kayak ada yang manggil-manggil kita" ujar Dira.
"Iya, bener. Itu kayak suaranya Zayyan" balas Haura.
"Masa sih?" ujar Mala memastikan pendengarannya.
"Ah iya benar, itu suara Kevin, Bu Salma sama guru-guru yang lain" balas Mala.
"Zayyaaaaan, aku disini!" ujar Haura.
"Affannnnn, aku takut!" teriak dira.
"Bu Salma!! tolongin kitaaaa!" ujar Mala ikut berteriak.
Sementara itu Rakha malah memperbesar nyalah api unggunnya.
"Rakha kamu ngapain? ayo bantu teriak?" pinta Mala.
"Lagi bikin tanda, biar mereka tau kalau ada kita disini" ujar Rakha.
.
.
.
Di sisi lain, Affan yang merasa jika teriakannya di sahuti oleh Dira sangat senang.
"Itu suara Dira" ujar Affan.
"Iya, suara Haura juga" balas Zayyan.
"Tapi dimana?" tanya Kevin.
Affan dan Zayyan melihat sekelilingnya.
"Lihat deh, itu ada cahaya. Sepertinya ada api di sana!" ujar Affan.
"Ayo kita kesana!"
.
.
.
Haura dan Dira yang sedari tadi berteriak. Mereka merasa lelah, apalagi saat teriakan mereka tak lagi di sahuti.
"Kok affan gak nyahut sih" ujar Dira.
"Mana tenggorokan udah kering lagi" keluh Haura.
"Dira!" panggil affan yang berhasil menemukan sang pacar yang tersesat di hutan.
"Affan" ujar Dira memeluk Affan.
"Aku takut, di sini serem. Mana dingin lagi" aduh Dira. Mendengar Dira mengeluh dingin Affan memberikan jaketnya untuk Dira.
"Makasih"
"Sama-sama"
"Haura, kamu gak papa?" tanya Zayyan.
"Gak papa kok" balas Haura.
"Mala, kamu ada yang luka?" tanya Kevin.
"Gak ada"
"Syukur deh"
"Yasudah, lebih baik sekarang kita balik ke tenda" ujar Bu Salma di angguki guru yang lainnya.
.
.
.
Bu salma kembali mengumpulkan para muridnya.
"Baik anak-anak, karena ini sudah malam. Alangkah baiknya kalau kalau kalian semua beristirahat!" pinta Bu Salma.
"Baik Bu"
***
Pagi harinya Mala bangun dan langsung keluar dari tenda. Ia sedikit menikmati pemandangan danau di dekat area camping.
"Seger banget udaranya" ujar Mala sembari menghirupnya dalam-dalam.
"Mala!" lirih Kevin yang entah sejak kapan ada di sampingnya.
"Kenapa?"
"Aku mau ngomong bentar, bisa?" tanya Kevin.
"Tumben kalau mau ngomong izin dulu, biasanya nyerocos aja"
"Bisa?"
"Iya apa?"
"Kamu secinta itu ya sama Rakha?" tanya Kevin.
"Menurut kamu?"
"Hmm cinta banget ya?" ujar Kevin terdengar kecewa.
"Iya"
"Jadi aku tak ada kesempatan?"
"Gak" geleng Mala.
"Singkat banget jawabannya" kekeh Kevin.
"Aku gak mau kamu terlalu berharap" ujar Mala.
"Kalau gitu, bisa gak aku jadi sahabat kamu aja?" tanya Kevin.
"Hah?"
"Iya, walaupun perasaan aku gak mungkin terbalas. Tapi boleh gak aku jadi sahabat kamu, sahabat yang bakalan selalu lindungin kamu" ujar Kevin sungguh-sungguh.
"Kamu serius?" tanya Mala, ia seperti melihat versi Kevin yang lebih dewasa.
"Iya" angguk Kevin.
"Jadi gimana, sahabat?" tanya Kevin mengacungkan kelingkingnya.
"Sahabat" balas Mala menautkan kelingkingnya dengan kelingking Kevin.
Keduanya tertawa hangat dengan awal dari persahabatan mereka. Tanpa mereka tau, ada sepasang mata yang melihat mereka sembari mengepalkan tangannya.
"Kenapa?" tanya Affan yang baru keluar dari tenda. Ia tak sengaja melihat Rakha yang terus saja menatap ke arah danau.
Rakha tak menjawab, ia malah kembali memasuki tendanya.
"Kenapa tuh anak?" ujar Affan bingung.
Affan juga ikut melihat ke arah danau. Sekarang ia tau kenapa Rakha terlihat emosi.
"Jadi ini alasannya" kekeh Affan.
Affan menyusul Rakha memasuki tenda.
"Aku bingung deh, sebenarnya hubungan kamu sama Mala itu gimana sih?" tanya Affan.
"Maksud kamu apa? aku sama Mala saling menyayangi" ujar Rakha.
"Tapi apa kamu udah nembak Mala?" tanya Affan.
"Belum, kita cuma baru Saling nyatain perasaan" ujar Rakha.
"Saran aku ya, lebih baik kamu tembak Mala! biar kamu punya hak buat larang dia dekat dengan cowok" kekeh Affan.
Rakha terdiam sejenak dengan ucapan Affan. Affan ada benarnya, seharusnya ia menembak Mala menjadi pacarnya. Agar tak ada yang mengganggu hubungan mereka. Termasuk Kevin.
Jangan lupa like dan comen....