Desmala Gralind

Desmala Gralind
Menjengkelkan



Mala segera menuju pintu utama, dan benar saja Kevin tengah berdiri di depan pintu.


"Kevin, ngapain kesini?" tanya Mala.


"Gak boleh aku mampir?"


"Ya boleh"


"Gak di tawarin masuk nih?" tanya Kevin.


"Yaudah, ayo masuk!"


Kevin duduk di ruang tamu setelah Mala menyuruhnya duduk. Dengan senang hati Kevin duduk.


"Bi Inem, bikinin minum!" pinta Mala pada bi Inem.


Tak lama Bi Inem datang dengan nampan di tangannya.


"Ini minumannya" ujar Bi Inem menaroh di atas meja.


"Ada keperluan apa?" tanya Mala lagi. Tidak mungkin Kevin datang ke rumahnya tanpa ada tujuan yang jelaskan. Sedari tadi Mala sangat penasaran, tapi setiap kali Mala bertanya jawaban Kevin semakin bertele-tele.


Lama-kelamaan menemani Kevin membuat Mala bosan. Ia menjadi mengantuk dengan cerita Kevin tentang dirinya sendiri. Sungguh tak ada manfaatnya untuk Mala.


"Nih anak kapan selesai ngomongnya ya?" batin Mala.


Suara klakson mobil membuat nyawa Mala kembali terkumpul. Sepertinya itu papanya yang baru saja pulang meeting.


"Udah pulang pa?" tanya Mala.


"Ini papa udah di rumah, kalau belum selesai papa belum pulang kali Mala" kekeh Herman dengan pertanyaan aneh putrinya itu.


"Iya juga ya"


"Ini siapa Mala?" tanya Herman, ia tidak pernah melihat laki-laki yang berdiri di samping Naura sebelumnya.


"Temen pa"


"Ohh"


Herman pamit ke kamarnya, ia ingin mandi dan beristirahat karna badannya terasa lelah.


"Kamu gak mau pulang? udah sore" ujar Mala.


"Kamu ngusir aku?" tanya Kevin.


"Gak, aku cuma ngasih tau"


"Yaudah, aku pamit ya"


"Akhirnya" batin Mala.


Kevin berpamitan pulang, namun ia janji akan datang lagi besok.


"Kenapa mesti datang lagi sih" batin Mala. Ia heran dengan cara berfikir Kevin yang tak paham dengan kodenya jika ia tak suka dengan kehadirannya.


***


Jumat siang Mala pergi ke tempat latihan karatenya di antar pak Adi.


Di depan pintu masuk ia langsung bertemu dengan Kevin. Sangat menjengkel kan bagi Mala. Apalagi saat Kevin malah tersenyum padanya. Jika orang lain yang berada di posisi mala mungkin mereka akan terpesona. Tapi itu tidak berguna untuk Mala. Karna ia malah risih dengan cara Kevin menatapnya.


"Mau latihan karate ya?" tanya Kevin.


"Gak, mau yoga"


"Ini kan tempat karate?"


"Udah tau nanya lagi?" ketus Mala.


Mala memasuki tempat latihan dan menganti pakaiannya sebelum akhirnya pelajarannya di mulai oleh pelatih.


Tiga puluh menit berlalu, mala telah selesai dengan latihannya. Seperti biasa sebelum pulang Mala duduk di pinggir lapangan sembari beristirahat.


"Udah latihannya?" terdengar suara Rakha. Mala langsung mendongak ke atas. Dan benar saja Rakha tengah berdiri di sampingnya.


"Nih minum dulu" Rakha memberikan botol air mineral pada Mala. Dan Mala meminumnya.


"Habis ini mau langsung pulang?" tanya rakha.


"Jalan-jalan dulu ya"


"Sesuai perintah tuan putri" ujar rakha.


Pulang dari tempat karate mala dan rakha hanya berkeliling dengan motor menikmati suasana sore kota Jakarta.


Asyik menikmati suasana, perhatian Mala teralihkan oleh sesuatu yang tak asing.


"Rakha berhenti!" pinta Mala. Reflek Rakha langsung menghentikan motornya.


"Ada apa?"


"Liat deh! itu papa kamu bukan?" Rakha melihat kearah yang di tunjukkan Mala.


"Iya benar itu papa"


"Papa kamu ngapain ngobrol sama dua orang itu?"


"Aku gak tau, kamu tunggu sini aku mau cari tau dulu" pinta Rakha.


Rakha mengintip di balik pepohonan, Ia berniat menguping pembicaraan papanya dengan dua orang di depannya.


"Ini bayaran kalian" ujar Andi memberikan amplop coklat.


"Terimah kasih bos"


Kedua orang itu pergi meninggalkan Andi yang tersenyum karna rencana nya berhasil.


"Aku yakin pasti keluarga Gralind sedang ketakutan karna ancaman semalam" kekeh Andi terlihat sangat bahagia.


Lalu tiba-tiba ia terdiam.


"Mereka pantas mendapatkan itu semua, aku kehilangan Andini karna mereka!" ujar Andi. Dari sorot matanya terlihat jelas ada api dendam yang sangat kentera dari matanya.


"Sebenarnya papa ada masalah apa dengan keluarga Mala? kenapa papa benci banget sama mereka. Dan apa hubungannya dengan kematian mama?" batin Rakha.


Rakha kembali ke tempat di mana Mala menunggunya. Mala yang penasaran ia langsung menanyai Rakha.


"Papa kamu ngapain Rakha? dia ngomong apa sama dua orang itu?" tanya Mala. Ia sangat penasaran saat ini.


"Papa lagi bahas proyek sama pekerjanya" ujar Rakha berbohong. Ia tak ingin Mala membenci nya jika tau ancaman semalam di rumah mala adalah ulah papanya.


Rakha akan terus menyembunyikannya sampai ia bisa mengetahui masalah apa yang membuat papanya begitu dendam pada keluarga Mala.


"Oh, aku pikir lagi ngapain? mungkin aku yang terlalu curiga ya" ujar mala tak enak pada Rakha.


"Iya gak papa"


Rakha dan Mala kembali menaiki motor, setelah mendengar obrolan papanya tadi Rakha menjadi takut jika papanya akan menyakiti Mala. Rakha langsung mengantarkan Mala menuju rumahnya. Ia tak ingin jika Mala terlalu lama berada di luar maka itu akan mengancam keselamatannya sendiri.


Setelah mengantar Mala, Rakha langsung pamit pulang. Di rumah Rakha, rakha memastikan jika papanya belum pulang. Ia berniat ingin mencari sesuatu di dalam ruang kerja dan kamar papanya.


Setelah merasa aman, Rakha langsung memasuki kamar papanya. Ia memeriksa semua laci, lemari dan tempat-tempat tersembunyi di kamar papanya. Namun ia tak menemukan apa pun.


Rakha beralih ke ruang kerja papanya. Tak jauh berbeda dari kamar papanya Rakha juga tak menemukan apapun di ruang kerja. Hanya ada surat-surat dan berkas-berkas kantor.


Rakha duduk di kursi kerja papanya. Ia merasa putus asa karna tak menemukan apa pun di ruang kerja maupun kamar papanya.


"Gak ada apa-apa? gimana aku bisa tau kalau gak ada petunjuk sedikit pun" lirih Rakha. Ia hendak berdiri dari duduk, namun tak sengaja Rakha menjatuhkan buku coklat di atas meja kerja. Saat Rakha ingin memunguti buku itu, ada sebuah foto yang keluar dari buku itu.


"Foto, foto siapa?" ujar rakha membalik foto itu. Ia kaget ketika melihat foto mamanya bersama dengan mamanya Mala.


"Ini kan fotonya mama sama mama Mala" lirih Rakha. Keduanya terlihat masih muda di dalam foto itu. Apalagi di dalam foto keduanya terlihat tengah mengenakan baju putih abu-abu. Yang mana menandakan jika keduanya masih berada di bangku SMA saat itu.


"Jadi mama sama mamanya Mala itu satu sekolah?" pikir Rakha. Ia menjadi semakin bingung saat ini. Jika keduanya berteman saat masih SMA. Lalu kenapa papanya begitu membenci keluarga Mala. Sebenarnya kejadian apa yang tak di ketahui oleh Rakha. Ini sungguh membuat Rakha bingung.


Jangan lupa like dan comen...