
Semua murid kembali berkumpul untuk makan bersama. Dini sang ketua OSIS membagikan makanan kepada teman-temannya dibantu teman yang lain.
"Udah kebagian semua?" tanya dini.
"Udah Din" balas yang lain.
"Aku kurang nih Din" ujar Gio. Mendengar itu Dini menambahkan nasi untuk Gio.
.
.
.
Siang harinya Bu Salma kembali mengumpulkan semua muridnya untuk melakukan kegiatan camping.
"Siang anak-anak" sapa Bu Salma.
"Siannnnng Buuuuuu"
"Siang ini kita akan menjelajahi lingkungan sekitar camping kita, jadi ibu harap kalian tidak berpencar agar tidak ada yang hilang nantinya " pinta Bu Salma.
"Apa semua mengerti?" tanya Bu Salma.
"Mengertiiiiiiii Buuuuuu"
.
.
.
Bu Salma memimpin rombongan di depan. Ia sedikit menjelaskan tentang kota bogor pada anak-anak muridnya.
"Kota Bogor terkenal dengan julukan kota hujan karena memiliki curah hujan yang tinggi. Jejak historis sejak Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga Hindia Belanda dibuktikan dengan beragam artefak peninggalan sejarah yang dilestarikan hingga kini"
"Nah di sini, mata pencaharian masyarakat adalah berkebun salah satunya adalah kebun teh" ujar Bu Salma saat mereka melewati perkebunan teh setempat.
.
.
.
Mala, Haura dan Dira langsung balik ke tendanya. Selesai kegiatan menjelajah tadi mereka merasa sangat kelelahan karna terus menerus berjalan.
"Aku capek banget" keluh Dira.
"Sama" balas Haura merebahkan diri di dalam tenda. Kemudian di ikuti oleh Mala dan Dira.
"Nyemil enak kali ya" ujar Mala.
"Bener tuh" balas Dira.
Mala mengeluarkan camilannya dari dalam tas dan membagikannya pada Haura dan Dira.
"Astaga Mala, ini camilan semua isi tas kamu?" tanya Haura tak percaya.
"Hehe iya"
"Yaudah sih Hau, gapapalah kan kita juga yang jadi enak" kekeh Dira.
"Yehhhh, itu si maunya kamu aja" balas Haura.
.
.
.
Malam harinya di adakan acara api unggun. Semua murid dan guru duduk melingkar di dekat api unggun. Ada yang mengobrol, menyanyi, bahkan ada yang bakar-bakar jagung.
Rakha yang memang hobi bernyanyi. Ia meminjam gitar yang di pegang oleh Rendy.
"Rendy, pinjam gitarnya dong" ujar Rakha.
"Oh iya ini, pake aja" ujar Rendy.
Rakha mulai memetik gitarnya dan mengalunkan musik yang mampu membuat teman-temannya terhipnotis dengan melodi dari nadanya.
"Dari kejauhan tergambar cerita tentang kita" lirih Rakha menatap Mala yang juga tengah menatapnya.
"Terpisah jarak dan waktu" ujarnya tersenyum hangat pada Mala. Namun Kevin yang melihat itu terlihat kesal.
"Ingin ku ungkapkan rinduku lewat kata indah"
"Tak cukup untuk dirimu"
"Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata" Tatapan mata Rakha begitu dalam pada Mala.
"Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu" mendengar Rakha bernyanyi entah kenapa Mala merasa terhipnotis dan ia seakan tak bisa berpaling darinya.
"Dan apabila tak bersamamu" tanpa sadar Mala juga ikut bernyanyi bersama Rakha.
"Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin" Melihat kekompakan antara rakha dan Mala, Dinda yang melihat itu juga ikut kesal.
"Sederhana tertawamu sudah cukup"
"Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu"
"Eeee-eeee"
"Jika hari kulalui tanpa hawamu"
"Percuma senyumku dengan dia, oooh"
"Dan apabila tak bersamamu" semua teman-teman yang lain juga ikut bernyanyi, kecuali Kevin dan Dinda yang sudah kesal sedari tadi.
"Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin"
"Sederhana tertawamu sudah cukup"
"Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu"
"Apabila tak bersamamu"
"Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin"
"Sederhana tertawamu sudah cukup"
"Lengkapi sempurnanya (sempurnanya)"
"Hidup bersamamu"
"Hu-uuuu, hu-uuuu"
"Sebab kau terlalu indah dari sekedar kata"
"Dunia berhenti sejenak menikmati indahmu" Rakha menghentikan alunannya.
Semua teman-teman bertepuk tangan untuk Rakha.
***
Pagi harinya, semua murid bangun. Dan segera berkumpul. Mereka akan mengadakan senam pagi sebelum memulai aktivitas. Senam pagi kali ini akan di pimpin oleh Bu Nining yang memang aktif dalam senam.
"Busyet dah, capek tau gak?" keluh Dira.
"Udah ikutin aja, jangan banyak ngeluh" ujar Mala.
"Tapi Mala, emang capek banget" tambah Haura.
"Mana Bu nining lincah banget lagi, aku sebagai generasi muda merasa jompo tau gak?" ujar Dira. Yang langsung di sambut kekehan dari Haura dan Mala.
"Dira-dira" ujar Mala geleng-geleng kepala.
.
.
.
Siang harinya tidak ada kegiatan. Para murid bebas melakukan apa pun yang mereka mau.
"Bentar lagi udah mau jam 2, gimana ya caranya biar aku bisa pergi ke rumah sakit?" pikir Mala.
"Minta izin aja sama Bu Salma Mala, bilang aja mau jenguk saudara yang lagi di rawat disini" usul Haura.
"Bagus tuh ide kamu, tapi gimana caranya biar si Kevin gak ngawasin aku terus?" ujar Mala melirik Kevin yang terus memperhatikannya walaupun ia sedang mengobrol bersama teman-temannya.
"Hm, gimana ya?" pikir Dira.
"Kayaknya aku tau deh Mala" ujar Haura.
"Apa?"
Haura membisikkan sesuatu di telinga Mala.
"Ide bagus" puji Mala.
"Bentar ya" ujar Haura bangkit dari duduknya.
Tak lama Haura kembali dengan mengacungkan jempol pada mala dan Dira.
"Gimana?" tanya Mala.
"Berhasil dong"
Mala, Haura dan Dira melirik kearah Kevin yang tiba-tiba saja di panggil oleh Bu salma.
"Kevin" panggil Bu Salma.
"Iya Bu"
"Kamu sama teman-teman kamu tolong cari kayu bakar ya, stok kayu bakar buat nanti malam udah habis" pinta Bu Salma.
"Baik Bu"
Melihat itu Mala terlihat senang, melihat Kevin telah pergi Mala segera menghampiri rakha di tendanya.
"Rakha ayo!" ajak Mala.
"Iya"
.
.
.
Di depan resepsionis Mala dan Rakha kembali bertanya.
"Mbak, mau ketemu dokter Usman" ujar Mala.
"Apa sebelumnya udah buat janji?"
"Udah"
"Atas nama siapa?"
"Desmala Gralind"
"Baik tunggu sebentar"
.
.
.
Mala dan Rakha di arahkan ke ruangan ini oleh resepsionis. Dengan ragu-ragu Rakha dan Mala memasukinya.
"Desmala Gralind?" ujar seorang dokter paru baya.
"Iya" balas Mala.
"Silakan duduk" pintanya.
"Ada keluhan apa?" tanya dokter Usman.
"Kita bukan mau konsultasi dok" ujar Mala.
"Lalu?" tanya dokter usman tampak bingung.
"Ini Rakha, anak dari ibu Andini" lirih Mala.
"Andini, saya seperti pernah mendengar namanya" pikir dokter itu.
"Apa dokter kenal ibu saya?" tanya Rakha sembari memperlihatkan foto mamanya yang ada di ponselnya.
"Oh iya, saya mengenalnya sekali. Dia adalah pasien saya" ujarnya.
"Maksud dokter? Tante Andini sering berobat kesini?" tanya Mala.
"Iya, dia sudah menjadi pasien saya sejak setahun yang lalu" balas dokter Usman.
"Apa gagal ginjal mama saya separah itu?" tanya Rakha.
"Gagal ginjal, tidak mama kamu tidak sakit gagal ginjal" balas dokter Usman.
"Lalu mama saya sakit apa? sehingga dia bisa jadi pasien dokter sejak setahun yang lalu?"
"Kanker, setahun yang lalu masih stadium 3. Tapi sekitar 4 bulan yang lalu tiba-tiba kankernya sudah stadium 4 sehingga saya tidak bisa membantunya lagi"
"Lalu kenapa mama saya gak pernah bilang kalau ia punya penyakit separah itu pada keluarganya, bahkan kami tau setelah mama gak bernafas lagi" lirih rakha. Ia seperti menahan air matanya untuk jatuh.
Jangan lupa like dan comen....