Desmala Gralind

Desmala Gralind
Kemarahan Herman



Mala duduk di ruang tamu dengan wajah tertunduk. Alisia dan Oma Lia hanya bisa manatap Mala tak percaya. Ia tak menyangka jika Mala ternyata masih berhubungan dengan Rakha.


"Papa gak habis pikir sama kamu Mala!" ujar Herman dengan nada tegas.


"Bisa-bisanya kamu pulang sama Rakha! bukannya papa udah bilang untuk kamu jangan berhubungan lagi sama rakha!"


"Tapi kenapa pa? papa juga gak ngasih aku alasan yang jelas" balas Mala.


"Kamu ini! sejak kapan kamu berani menyela ucapan papa" bentak Herman. Mala langsung terdiam dan menunduk.


"Mulai hari ini kamu gak boleh lagi ketemu sama Rakha. Papa bakalan nugasin pak adi buat ngawasin kamu! Sekali aja ketahuan kamu papa pindahan ke Amerika" ancam papanya.


"Kenapa papa jadi gak adil gini sih" bantah mala.


"Kamu bilang papa gak adil! kamu gak sadar, ini buat kebaikan kamu sendiri!"


"Kebaikan apa sih pa, Rakha gak jahat sama aku. Malahan dia yang selalu jaga aku"


"Karna papanya mau ngacurin kita Mala! kamu paham gak sih!" bentak Herman.


Mala langsung terdiam, ia tak tau jika Andi mau menghancurkan keluarganya. Jadi, ini alasan orang tuanya melarang Mala berhubungan dengan Rakha.


"Kenapa pa? kenapa papanya Rakha mau ngehancurin kita? emangnya kita salah apa sama mereka?" tanya Mala.


"Sudah! kamu gak perlu tau! sebaiknya kamu masuk kamar sekarang!"


"Tapi pa_"


"Jangan bantah papa Mala!"


Mala terpaksa menuruti papanya. Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.


"Sebenarnya ada masalah apa? kenapa papa bisa semarah dan se posesif itu sama aku! apa benar papa Rakha mau ngehancurin keluarga ku. Tapi kalau pun iya? apa Rakha juga punya keinginan yang sama?" pikir Mala menerka-nerka.


Pusing dengan pikirannya sendiri. Ketukan pintu kamarnya membuat Mala sangat kaget.


Tok Tok Tok


"Astaga" ujar Mala kaget.


"Mala, ini mama! buka pintunya mama mau ngomong!" ujar Alisia.


Mala membuka kan pintu untuk mamanya. Ia terlihat murung, sepertinya ada sesuatu yang ingin di sampaikan Alisia pada Mala.


"Ada apa ma?" tanya Mala.


"Kamu mau tau kan? ada masalah apa antara keluarga Rakha dan keluarga kita?"


"Iya" Mala mengangguk cepat.


"Sini, biar mama ceritain" ujar Alisia duduk di tepi ranjang Mala.


Mala menghampiri mamanya dan duduk di samping Alisia.


"Dulu, waktu mama masih SMA mama punya teman baik. Namanya Andini, dia gadis yang cantik dan baik hati. Dulu mama sama dia selalu main bareng, kemana-mana bareng. Sampai kami bertemu dengan pasangan masing-masing. Mama ketemu sama papa kamu, dan Andini ketemu sama Andi. Seiring berjalannya waktu kami tumbuh dewasa dan akhirnya punya keluarga masing-masing. Andini dan Andi pindah ke Bogor karna di sana orang tua Andi tinggal. Dan mama sama papa tetap stay di Jakarta"


"Satu tahun setelah menikah mama hamil kamu dan di waktu yang bersamaan mama dapat kabar dari Andini kalau dia juga sedang hamil 7 bulan. Beberapa Minggu kemudian, mama dapat kabar dari Andini kalau dia telah melahirkan. Mama langsung menjenguknya kesana bersama papa. Ternyata Andini mengalami kecelakaan saat menuruni tangga sehingga dokter harus melakukan operasi Caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayinya"


"Bayi itu adalah Rakha. 17 tahun setelah kejadian itu, mama dan Andini tak lagi saling memberi kabar. Hingga tiga bulan yang lalu mama menemani papa ke Bogor untuk bertemu kliennya. Dan di sana mama gak sengaja bertemu dengan Andini. Dia masih cantik seperti 17 tahun yang lalu. Hanya ada beberapa kriput di wajahnya"


"Seminggu kemudian mama melakukan operasi transplatansi ginjal dan berhasil. Namun, yang tidak mama ketahui adalah ternyata ginjal Andini yang lainnya tidak berfungsi dengan baik. Sehingga saat operasi itu selesai mama kehilangan Andini selamanya"


"Andi yang mengetahui itu marah besar. Ia memaki-maki mama dan papa. Dan ia menyesali dirinya yang terbujuk dengan bujukan Andini untuk ia mendonorkan ginjalnya untuk mama. Namun, yang namanya takdir tak ada yang tau. Tak ada yang menduga jika takdir Andini hanya sampai disitu."


"Sejak saat itu, andi bersumpah. Ia akan menghancurkan keluarga kita. Hingga mama dan papa tak lagi bertemu dengannya. Dan satu bulan setelah itu, Andi datang ke Jakarta dan menemui papa di kantor. Ia meminta maaf pada papa atas kesalahannya. Dan saat itu juga ia bilang mau pindah ke Jakarta agar bisa melupakan kenangan-kenangan istrinya. Papa menawarkan sebuah rumah di komplek kita dan Andi menyetujuinya"


"Setelah pindah ke Jakarta, Andi kembali menghubungi papa. Ia mau mengajak keluarga kita makan malam bersama di rumahnya. Dan gak lama Oma pulang ke Indonesia. Mama dan papa sedikit berdebat dengan Oma tentang Andi. Papa dan mama bersikeras kalau Andi telah berubah. Tapi Oma menunjukkan bukti jika Andi adalah dalang dari penculikan kamu. Makanya papa dan mama juga Oma melarang kamu untuk dekat dengan Rakha"


"Kamu paham kan sekarang! Mama dan papa cuma gak mau kamu kenapa-kenapa" ujar Alisia membelai sayang rambut Mala.


"Tapi Rakha gak ada hubungannya dengan kejadian itu ma"


"Mama tau Rakha anak yang baik, papa juga tau itu. Tapi papanya bisa membahayakan kamu kapan saja"


Mala hanya terdiam sembari menunduk. Ia tak tau harus berkata apa lagi sekarang.


"Turutin papa ya!" pinta Alisia. Ia keluar dari kamar Mala dan meninggalkan Mala yang terus saja memikirkan apa yang harus di lakukannya.


***


Malam harinya, Herman kembali mengetuk pintu kamar Mala.


Tok Tok Tok


"Masuk! gak di kunci!"


Herman memasuki kamar Mala, ia melihat Mala tengah belajar.


"Mala ngapain?" tanya Herman.


"Ngerjain tugas pa"


"Udah selesai"


"Udah" angguk Mala.


"Kalau gitu sekarang kamu siap-siap! dandan yang cantik!" pinta papanya.


"Mau kemana pa?"


"Malam ini kita makan di luar"


"Dalam rangka apa?"


"Gak ada, udah sana kamu siap-siap! papa tunggu di bawah!"


"Iya pa"


Setelah papanya keluar Mala bersiap sesuai permintaan papanya. Setelah selesai ia turun dan menghampiri Oma dan mama yang ternyata juga sudah siap.


"Kita mau kemana?" tanya Mala.


"Suprise dong" ujar papanya terkekeh.


Jangan lupa like, comen dan vote...