
Mala kini berada di depan rumahnya. Rumahnya terlihat kosong. Orang tuanya masih belum tau tentang kabar nya yang masih hidup. Orang tuanya tersiksa karena mereka pikir anak semata wayang mereka telah pergi selamanya.
"Maafin Mala pa, ma. Mala gak maksud buat kalian sedih, tapi ini buat kebaikan kita semua pa, ma. Mala gak mau om Andi terus menerus ganggu keluarga kita" lirih Mala. Tatapan nya sedih melihat rumahnya yang biasanya di penuhi kehangatan kini tampak kosong. Bahkan bi inem dan pak Adi juga sudah berhenti bekerja di rumah ini.
"Sabar ya Mal, mama papa kamu pasti seneng kalau tau kamu udah balik dan baik-baik aja" ujar Rakha mengusap bahu Mala. Rakha bermaksud menenangkan Mala, agar ia tidak terus menerus bersedih.
"Iya, makasih ya Rakha" balas Mala.
"Sekarang apa? kamu mau tetap tinggal di rumah ini?" tanya Rakha.
"Ya, aku mau nunggu mama sama papa pulang"
"Tapi gimana? rumah ini di kunci"
"Biasanya mama selalu naroh kunci di pot bunga" ujar Mala.
Mala langsung menuju pintu masuk rumahnya. Dan mengecek pot bunga yang ada di depan pintu.
"Benerkan?" ujar Mala, ia memperlihatkan kunci rumahnya pada Rakha.
"Iya, kamu bener" Balas Rakha.
"Udah, sekarang kamu pulang aja! aku gak papa kok sendiri" ujar Mala.
"Kamu yakin? gak mau aku temenin aja?"
"Gak usah, aku baik-baik aja"
"Yaudah"
.
.
.
Mala memasuki rumahnya, semua barang-barang dirumah sudah mulai berdebu. Sudah satu bulan rumah itu di tinggalkan. Jadi wajar jika barang di rumah itu tidak terurus.
"Gak nyangka, aku bakal balik ke rumah ini. Tapi dengan kondisi yang berbeda" lirih Mala.
Mala menaiki anak tangga menuju kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya. Suasananya masih sama, tak ada yang berubah di kamar itu.
"Aku kangen sama kamar ini" ujar Mala.
Di balkon kamar, Mala bisa melihat Rakha yang tengah memarkirkan motornya di depan rumah.
"Balkon ini, disini aku bisa liat Rakha terus" gumamnya senang.
Mala menghempaskan tubuhnya di kasur. Setelah beberapa Minggu ia menjadi orang lain, rasanya tenaganya cukup tersita.
"Capek banget" lirihnya.
.
.
.
Mala terbangun, ternyata ia ketiduran. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
"Aku laper"
Mala menuju dapur untuk melihat persediaan makanan yang ada di kulkas.
"Yahhh kosong" ujar Mala.
"Cari makan di luar aja deh" ujarnya. Mala kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket, dompet dan ponselnya.
Tepat saat membuka pintu, Mala di kagetkan dengan kedatangan ayah Kenzo dan bunda zavi.
"Ayah, bunda, ngapain disini?" tanya Mala.
"Bunda kangen Zizi" balas Zavi.
"Zizi juga kangen sama bunda. Ayo bunda, ayah, masuk dulu" ajak Mala.
"Rumah kamu besar juga ya zi" puji Kenzo.
"Ya gini aja yah"
"Ohya, bunda bawain makanan buat kamu. Zizi pasti belum makan kan?" tanya zavi.
"Belum bund"
"Yaudah kita makan bareng-bareng ya"
"Iya" angguk Mala.
"Bunda siapin dulu ya, dapurnya di sana ya?" tanya zavi.
"Iya Bun, Zizi bantuin ya"
"Gak usah, kamu tunggu sini aja sama ayah" pinta zavi.
Kenzo melihat sekeliling rumah Mala. Ia penasaran dengan sebuah foto yang tertutup kain putih di dinding.
"Zizi, itu apa?" tanya Kenzo. Sembari menunjuk sesuatu di dinding.
"Oh itu, kayaknya foto keluarga deh yah. Karna semuanya udah pergi jadi di tutup" ujar Mala.
"Ayah boleh liat?"
"Iya, boleh" balas Mala.
Mala berjalan menuju foto itu. Ia menarik kain putih yang menutupinya.
"Astaga" ujar kenzo.
"Kenapa ya? kok kaget gitu?" tanya Mala.
"Kamu anaknya Antonio Herman Gralind?" Tanya Kenzo.
"Iya, ayah kenal sama papa?" tanya Mala.
"Loh kok malah bengong! ayo makan!" ujar zavi ketika melihat Zizi dan Kenzo masih diam di tempat.
"Ah iya bunda" balas Mala.
"Ayo yah" ajak Mala.
"Iya-iya"
***
Keesokan paginya, Mala kembali kesekolah dengan identitas lamanya. Setelah menjelaskan semuanya, akhirnya teman-temannya Mala mengerti kenapa Mala memalsukan identitas dan juga kematiannya.
Sekarang Mala dan teman-temannya sedang ada di kantin. Mereka seperti biasa, membicarakan gosip-gosip terbaru yang lagi viral di kalangan mereka.
"Eh iya mal, kamu kan tinggal sendiri di rumah itu? gak takut apa?" tanya Haura.
"Enggak sih, emang kenapa?"
"Ya gak papa sih. Rumah itu kan udah lama di tinggalin"
"Ngaco kamu Haura" kekeh Mala.
"Tapi mal, emangnya kamu gak hubungin orang tua kamu?" tanya Dira.
"Udah tapi nomor mereka gak bisa di hubungin"
"Kasihan banget sih Mala" lirih Haura.
Di tengah obrolan mereka, segerombolan siswi lewat dan menatap sinis pada Rakha.
"Eh itu anaknya kan ya?"
"Iya, dasar anak pembunuh"
"Kenapa ya Mala masih mau pacaran sama anak dari orang yang mau bunuh dia"
"Kalau aku jadi Mala, aku bakalan langsung mutusin dia"
"Iya, gak tau malu banget ya"
Celotehan para siswi itu terdengar jelas di telinga Rakha dan juga teman-temannya.
"Udah Rakha, gak usah di masukin hati" ujar Affan.
"Anggap angin lalu aja Rakha!" pinta Zayyan.
"Aku ketoilet dulu" ujar Rakha. Ia pergi meninggalkan teman-temannya.
"Aku susul Rakha dulu ya" ujar Mala. Dan di angguki oleh teman-temannya.
.
.
.
Dibelakang sekolah, Rakha tengah duduk di atas rerumputan. Ia terdiam di sana, dari kejauhan mala bisa melihat kalau Rakha tengah sedih dengan keadaannya.
"Katanya mau ketoilet" ujar Mala dari belakang Rakha.
"Iya, tadi udah. Jadi mampir kesini bentar" balas Rakha.
"Alasan"
"Hmm"
"Kenapa? kepikiran sama omongan mereka?"
"Iya, kamu gak ada niatan mutusin aku?" tanya Rakha.
"Gak" Singkat Mala.
"Lagian ngapain sih, dengerin omongan gak penting kayak gitu. Yang tau hidup kita ya kita, mereka cuman tau yang mereka liat aja" ujar mala.
"Tapi Mala, mereka bener. Aku anak dari orang yang hampir bunuh kamu?"
"Trus apa? kalau ayahnya ngelakuin dosa trus anaknya juga ikutan dosa gitu?"
"Gak kan?" tanya Mala.
Rakha hanya terdiam dengan perkataan Mala.
"Kamu jangan berkecil hati kayak gitu Rakha!" pinta Mala.
"Mala" lirih Rakha.
"Ya"
"Makasih ya, udah selalu ada di samping aku"
"No problem" balas Mala.
Bel masuk telah berbunyi, tapi Rakha dan Mala masih tetap pada posisi mereka. Keduanya saling menyenderkan kepala mereka.
"Rakha"
"Apa?"
"Udah bel"
"bolos aja yuk!"
"Katanya gak boleh bolos"
"Sekarang boleh"
"Yaudah deh"
Keduanya terkekeh dengan percakapan singkat keduanya. Untuk saat ini mereka ingin menghabiskan waktu berdua. Mereka tidak ingin di ganggu, bahkan oleh bel sekolah sekali pun.
Jangan lupa like dan comen ya...