Desmala Gralind

Desmala Gralind
Makan malam



Malam harinya di kediaman Gralind semuanya sudah rapi untuk pergi ke rumah kediaman Hermawan. Siang tadi entah ada angin apa Andi Hermawan menghubungi Herman. Ia bilang jika ia akan pulang hari ini ke jakarta. Dan ia ingin keluarga Gralind datang untuk makan malam dirumahnya.


Dan Herman yang sudah menganggap Andi sebagai teman baiknya pun tak menolak. Ia dengan senang hati menerima undangan dari temannya itu.


"Udah siapkan? ayo berangkat" ujar Herman.


"Udah pa" balas Mala.


Keluarga Gralind berangkat menuju rumah Hermawan. Sesampainya di depan gerbang satpamnya menyambut keluarga Gralind dengan ramah. Dan membiarkan mereka masuk.


Saat memasuki rumah, art rumah Hermawan menuntun mereka menuju meja makan. Dan di sana sudah ada Rakha dan papanya Andi Hermawan.


Saat kedatangan keluarga Gralind mereka langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.


"Herman"


"Andi"


Ujar keduanya saling berpelukan.


"Udah lama ya kita gak ketemu?" ujar Andi.


"Iya udah 17 tahun" balas Herman.


"Kenalin, ini istriku Alisia, dan di sampingnya putriku Mala" ujar Herman memperkenalkan istri dan anaknya.


"Alisia"


"Andi"


"Mala om"


"Andi"


"Oh iya, kenalin ini anakku Rakha" ujar Andi meperkenalkan putranya.


"Rakha" ujar Rakha pada orang tua Mala.


"Ayo-ayo silakan duduk" ujar Andi.


Mala, dan orang tuanya duduk di meja makan.


"Jadi gimana nih perkembangan bisnis kamu?" tanya Andi.


"Ya gak gimana-gimana, seperti yang kamu liat gini-gini aja" balas Herman.


"Kamu ini dari dulu suka sekali merendah" kekeh Andi.


"Oh ya mbak Alisia, kalau gak salah pemilik Alisia Glow? produk skincare terkenal di Indonesia" ujar Andi.


"Iya benar" balas Alisia.


"Wahh sungguh keluarga yang berbakat ya" balas Andi.


Herman dan alisia hanya terkekeh dengan pujian Andi.


"Dan Mala om dengar kamu udah beberapa kali menang olimpiade di sekolah?"


"Iya om"


"Sekarang Mala kesibukannya apa?" tanya Andi sedikit penasaran dengan putri dari keluarga Gralind ini. Karna ia jarang sekali tersorot Karna keluarga Gralind baru memperkenalkannya pada usianya yang 17 tahun pada publik.


"Seperti yang om ketahui aku lagi sibuk sekolah" balas Mala. Ia sungguh tak suka dengan cara Andi bertanya. Seperti ada sesuatu yang ingin di selidiki olehnya.


"Hm kamu sama seperti orang tua kamu, suka sekali merendah"


Dalam perbincangan itu, Andi tak sengaja menangkap basah putranya dan putri Gralind tengah bertatapan. Andi tersenyum aneh melihat itu.


"Mala, kamu bukannya satu sekolahan sama Rakha?" tanya Andi.


"Iya om"


"Kalau gitu Rakha gak jahil kan sama kamu? dia anaknya emang suka jahil" kekeh Andi.


"Gak kok om. Rakha baik sama aku dan beberapa kali dia yang nolongin aku"


"Oh ya, nolongin dari apa?"


"Waktu itu aku mau di culik, trus Rakha yang nolongin"


"Bagus Rakha, kamu emang harus jagain perempuan. Apalagi Mala" ujar Andi menatap Rakha. Namun, tak ada yang tau arti dari sorot mata itu kecuali Rakha.


"Iya pa"


"Udah jam 9, sebaiknya kita akhiri perbincangan ini dan makan" ujar Andi.


"Iya baiklah" balas Herman.


Di acara makan malam itu Mala dan Rakha tidak bisa bicara banyak. Keduanya hanya bisa mendengarkan obrolan orang tuanya seputar bisnis.


Sepulang dari acara itu, Mala ingin bertanya pada orang tuanya tapi ia sedikit ragu.


"Pa" panggil Mala.


"Kenapa?"


"Gak jadi deh"


"Kamu ini!"


"Mala ke kamar dulu" pamit Mala.


"Iya tidur ya, jangan begadang" ujar Alisia.


Setelah menutup pintu kamarnya. Mala kembali teringat dengan sorot mata Andi saat menanyai orang tuanya dan dirinya. Dan hal itu sangat jelas terlihat waktu Andi menatap Rakha. Seperti ada percikan api di matanya.


"Ada apa sama om Andi? kenapa seperti ada sesuatu yang membara di matanya" ujar Mala lirih.


"Tapi aku juga harus tetap waspada" batin Mala.


Mala kembali mengingat kejadian setelah hari ulang tahunnya. Di mana saat itu Mala di perkenalkan orang tuanya ke publik. Sejak saat itulah semuanya berubah, para penculik itu selama ini tidak pernah mengusik Mala. Kehidupannya tenang-tenang saja selama ini.


"Sepertinya aku harus bisa jaga diriku sendiri" ujar mala.


.


.


.


Pagi harinya mala kembali berangkat sekolah bersama Rakha. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam-diam saja. Sesampai di sekolah keduanya pun tetap diam. Tak ada yang memulai pembicaraan.


"Rakha!" panggil Mala.


"Ya?"


"Kamu tau tempat belajar bela diri gak?" tanya Mala.


"Bela diri? buat apa?"


"Aku mau belajar"


"Gak usah, aku bisa kok jagain kamu"


Sontak perkataan Rakha membuat Mala seakan terbang melayang. Perkataan Rakha sungguh manis.


"Kan gak selamanya kamu ada disamping aku" balas Mala.


Mendengar perkataan Mala ada benarnya juga Rakha akhirnya menuruti keinginan Mala.


"Kalau gitu nanti pulang sekolah kita ketempat itu buat daftarin kamu" balas rakha.


"Beneran?"


"Iya"


Mala sangat senang hingga ia melompat-lompat kegirangan dan reflek memeluk Rakha.


Saat Mala sadar tindakannya sungguh bodoh. Ia segera melepaskan pelukannya dari Rakha.


"Maaf gak sengaja" balas Mala.


"Gak sengaja sampai bikin aku gak bisa nafas" batin Rakha, entah kenapa ia merasa gugup saat Mala memeluknya.


"Iya gak papa"


"Udah ayo ke kelas" ajak Mala ia berjalan lebih dulu. Kemudian Rakha mengikutinya dari belakang.


***


Sepulang sekolah Rakha langsung mengajak Mala pada tempat latihan karate. Dimana disanalah Mala akan di daftarkan.


"Permisi, teman saya mau daftar disini!" ujar Rakha.


"Silakan isi formulirnya"


Setelah mengisi formulir Mala sudah bisa mengikuti kelas Minggu depan. Mala kebetulan mendapatkan waktu latihan pada hari Jumat Sabtu dan Minggu.


Selesai dengan pendaftaran Mala dan Rakha langsung meninggalkan tempat itu.


"Rakha!"


"kenapa!"


"Makasih ya!"


"Buat apa?"


"Semuanya" balas Mala.


Kemudian keduanya saling diam dan menikmati suasana sore di kota jakarta yang penuh dengan kemacetan.


Sesampainya di rumah Mala, Rakha langsung pamit pulang. Sebenernya Mala heran kenapa Rakha tidak pernah mau mampir ke rumahnya terlebih dahulu. Dan selalu ingin cepat pulang.


"Mungkin dia punya urusan kali ya, makanya buru-buru" batin Mala.


Mala memasuki rumah dan alangkah terkejutnya dirinya melihat sendal yang sangat tidak asing baginya.


"Oma!!" teriak Mala menuju ruang tamu.


"Omaa, Mala kangen!" ujar Mala mengetuk pintu kamar tamu.


Seseorang membukakan pintu. Wanita itu tersenyum lembut pada Mala. Wajahnya yang sudah di penuhi keriput tidak memudarkan kecantikkannya.


"Kamu ini, baru aja pulang sekolah udah teriak-teriak" ujarnya menjewer telinga Mala.


Oma Lia, wanita yang sangat menyayangi Mala. Bahkan lebih dari putrinya sendiri. Bagi Oma Lia cucu lebih penting dari pada anaknya.


"Udah Oma nanti telinga Mala putus" ujar Mala. Dan benar saja Oma Lia langsung melepaskan jewerannya.


"Sakit tau Oma" balas Mala cemberut sembari mengelus telinganya yang terasa panas.


"Siapa suruh teriak-teriak, kamu ini anak gadis"


"Iya Oma maaf"


"Oma kapan datang?" tanya Mala.


"Tadi pagi"


Jangan lupa like dan comen...