
Hari ini adalah jadwal Mala untuk latihan karate. Ia sudah siap dan segera berangkat menuju tempat latihan karate. Sepulang sekolah ia sudah sangat antusias untuk belajar karate. Ia sangat ingin bisa menjaga dirinya sendiri. Agar ia tak bergantung pada orang lain dan selalu bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Sesampainya di tempat latihan karate, Mala langsung di arahkan kelapangan di mana ia dan teman-temannya yang lain akan di ajarkan seni bela diri karate.
Untuk awal latihan Mala dan teman-temannya yang lain di ajarkan dasar-dasar nya saja. Tapi untuk belajar itu cukup membuat Mala kelelahan.
Selesai berlatih, Mala dan teman-temannya di perbolehkan untuk pulang oleh pelatih. Sebelum pulang Mala duduk di tepi lapangan melihat anak-anak lain belajar karate. Ia sangat lelah dan haus tapi sayangnya ia lupa membawa minuman. Dan di tempat ini juga tak ada yang jual minuman.
"Haus banget lagi" lirih mala sembari mengelus kerongkongannya yang terasa serek.
"Nih" sebuah botol Aqua terlihat di depan Mala. Ia langsung berbalik siapa yang memberikannya Aqua tersebut.
"Rakha!" ujar Mala tak percaya.
"Iya ini aku, nih minum haus kan?" Mala mengambil Aqua yang di berikan Rakha dan meminumnya hingga tersisa separuhnya.
"Makasih"
"Ngapain ngehindarin aku?" tanya Rakha tiba-tiba.
Sontak pertanyaan Rakha membuat Mala terdiam. Ternyata Rakha sangat peka jika ia menghindarinya.
"Kenapa diam? benarkan ucapan aku?" tanya Rakha terkesan memaksa.
"Apaan? siapa juga yang ngehindarin kamu" ujar marah pura-pura tertawa.
"Keliatan banget pura-pura ketawanya" balas Rakha dengan raut wajah datarnya.
Hufttt
Mala menghela nafas sebelum akhirnya ia mengungkapkan semuanya pada Rakha.
"Iya aku emang ngehindarin kamu" lirih Mala.
"Kenapa Mala?"
"Karna kita gak akan mungkin jalan beriringan"
"Maksud kamu?"
"Aku gak mau perasaan aku semakin bertumbuh sama kamu!" ujar Mala tegas.
"Kenapa gak mau? aku juga punya perasaan sama kamu" balas Rakha terlihat senang dengan penuturan Mala.
"Aku tau kamu juga punya perasaan yang sama, tapi masalahnya bukan itu!"
"Lalu apa masalahnya?" tanya Rakha.
"Keluarga kita" lirih Mala.
"Papa kamu punya niat terselubung sama keluarga ku, dia bahkan dalang dari penculikan aku seminggu yang lalu" ujar Mala berterus terang.
"Ya, aku tau itu makanya aku selalu berusaha buat jagain kamu"
"Jadi kamu udah tau kalau papa kamu yang ingin menculik aku?" tanya Mala tak percaya.
"Ya"
"Jangan-jangan kamu juga_" ucapan Mala terpotong ketika Rakha memotong ucapannya.
"Gak aku gak akan nyakitin kamu, justru aku yang akan berada di garis terdepan jika papaku nyakitin kamu" ujar Rakha yakin.
"Tapi kenapa? kenapa kamu lebih milih aku ketimbang papa kamu sendiri?" tanya Mala kurang percaya dengan ucapan Rakha.
"Karna yang di lakuin papa itu salah, dia selalu iri pada orang yang lebih tinggi darinya!"
Mala terdiam dengan ucapan Rakha, ternyata Rakha orang yang begitu bijak. Ia bahkan bisa menentang papanya sendiri jika hal itu salah.
"Emangnya kamu gak takut durhaka sama papa kamu?" tanya Mala.
"Gak, justru aku yang berdosa kalau ku biarin papaku tetap di jalan yang salah dan tak menasehatinya"
Mala sangat kagum dengan Rakha, dia memang sosok yang sangat bijak. Dia tidak pernah pandang bulu pada siapa pun. Ia akan menentang apabila hal itu salah, walaupun itu papanya sendiri.
"Kenapa diam? kamu mau tetap ngehindarin aku?" tanya Rakha.
"Sorry" lirih Mala.
"Gak papa, tapi jangan hindarin aku lagi ya?" ujar Rakha.
"Gak, gak akan pernah" balas Mala tersenyum tulus pada Rakha begitu pun sebaliknya.
***
Sepulang dari tempat karate itu, Rakha mengajak mala ke suatu tempat. Tempat yang biasa ia gunakan untuk menenangkan diri.
"Ya, airnya yang tenang mampu membuat pikiran juga ikut tenang" balas Rakha.
"Kamu benar, tempat ini juga sangat nyaman" balas Mala.
"Kamu suka?"
"Sangat suka" balas Mala.
"Mulai sekarang tempat ini akan jadi tempat favorit kita, setuju?"
"Setuju" balas mala.
Rakha duduk di pinggiran dan Mala juga ikut duduk disamping Rakha.
"Mau tau sesuatu gak?" tanya Rakha.
"Apa?"
"Kamu cantik" balas Rakha, hal itu membuat Mala tersipu malu.
"Makasih"
Beberapa saat mereka terdiam menikmati keindahan danau di sore hari. Suasana nya yang tenang, angin sepoi yang membuat mereka bertambah nyaman menghabiskan waktu di sana. Dan danau ini juga tak ada orang, hanya mereka berdua yang ada di sana.
Tak terasa matahari sudah tenggelam, Mala dan Rakha memutuskan untuk pulang. Setelah mala sampai di rumahnya Rakha langsung berpamitan pulang.
Mala memasuki rumah dan langsung di sambut oleh Oma Lia. Oma Lia heran dengan cucunya itu yang pulang dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Kenapa nih cucu Oma, senang banget keliatannya?" ujar Oma penasaran.
"Abis jalan-jalan Oma" balas Mala.
"Jalan-jalan, sama siapa?" tanya Oma.
"Ada deh, Oma kepo deh"
"Udah mulai rahasia-rahasiaan sama Oma? cowok ya?" tanya Oma.
"Oma kepo!" balas Mala dan segera berlari menuju kamarnya.
"Kenalin dong sama Oma!" kekeh omanya melihat cucunya yang tersipu malu.
"Nanti Mala kenalin" sahut Mala dari kamarnya.
Didalam kamar, Mala masih belum bisa berhenti tersenyum. Hari ini Rakha sungguh membuatnya salah tingkah. Perlakuan-perlakuan kecil Rakha membuat Mala menjadi melayang.
Mala melemparkan tasnya di atas kasur dan langsung merebahkan diri. Hari yang melelahkan tak terasa melelahkan bagi Mala ketika ia menghabiskan waktunya bersama Rakha.
"Aku benar-benar udah falling in love ini mah" kekeh Mala.
***
Malam harinya Mala tengah makan malam bersama keluarganya. Ada Herman, Alisia, Oma Lia dan Mala.
"Mala" ujar Herman.
"Iya pa?" balas Mala.
"Kamu jangan terlalu dekat ya sama Rakha!" ujar Herman. Hal itu langsung membuat Mala yang sedang mengunyah makanannya langsung tersedak.
"Minum dulu sayang!' ujar Alisia.
Setelah meminum air mala merasa agak baikan.
"Kenapa pa?" tanya Mala.
"Papa gak suka kamu dekat sama putra Andi itu!" balas Herman terdengar tegas.
"Tapi pa_"
"Udah Mala dengerin papa ya!" pinta Alisia memotong ucapan mala.
"Oma_"
"Mala jangan negebantah papa ya, ini semua buat kebaikan kamu juga!" balas Oma.
Mala hanya diam dan melanjutkan makannya. Ia sebenarnya tau kenapa orang tua dan omanya melarang ia dekat dengan Rakha. Ia pernah mendengar orang tua dan omanya berdebat jika dalang dari penculikannya seminggu yang lalu adalah ulah dari Andi. Tapi Mala pura-pura tidak tau agar orang tuanya tak khawatir.
Selesai makan mala pamit ke kamarnya. Di dalam kamar ia kembali murung bagaimana bisa ia tidak dekat dengan Rakha di saat hubungan keduanya baru saja membaik. Mala sangat bingung saat ini, apakah ia harus menuruti orang tuanya? atau menuruti kata hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan comen ya...