Desmala Gralind

Desmala Gralind
Kamu lebih indah



Mala membuka matanya, tampaknya mentari sudah mulai terbit. Ia merasa silau saat cahaya mentari tak sengaja mengenai matanya. Saat Mala hendak bangkit ia merasa berat di bagian tangannya. Mala menoleh dan kaget ketika ada seseorang di sampingnya.


Mala mengintip sedikit untuk melihat wajahnya yang di tutupi rambut.


"Mama" lirih Mala. Tapi ia menepisnya mungkin saja saat ini ia sedang bermimpi dan belum benar-benar bangun dari tidurnya.


Mala menampar pipinya sendiri untuk memastikan.


Plakkk


"Awhhhh sakit" ringis Mala.


"Berarti bukan mimpi dong" ujar Mala.


Alisia yang mendengar jika Mala meringis kesakitan. Langsung terbangun dari tidurnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya alisia.


"Mama pulang?" tanya Mala.


"Iya, mama kangen kamu"


"Mala juga"


Keduanya berpelukan melepaskan kerinduan yang selama ini tertahan.


"Papa mana ma?" tanya Mala karna sedari tadi ia tak melihat ada papa nya.


"Lagi tidur, di luar"


"Kamu hari ini sekolah kan? sana siap-siap mama siapin sarapan" ujar Alisia.


"Iya ma"


.


.


.


Di meja makan Mala dan orang tuanya tengah sarapan bersama. Mala kembali merasakan kehangatan keluarganya. Begitu juga dengan Alisia dan Herman mereka kembali merasakan kehadiran putri tersayang mereka.


"Oh ya ma, pa. Mama sama papa tau dari mana kalau aku udah balik ke sini?" tanya mala. Karna dirinya sudah menghubungi orang tuanya tapi tidak bisa.


"Seseorang, nanti malam mereka akan datang ke sini. Papa ngundang dia buat makan malam" balas Herman.


"Mala juga gak sabar buat ketemu, Mala mau bilang makasih sama dia"


"Iyaaa, sekarang habisin dulu makanannya. Nanti telat sekolahnya" pinta Alisia.


.


.


.


Mala di antar oleh kedua orang tuanya ke sekolah. Setelah berpamitan Mala langsung memasuki sekolah.


"Dira, Haura!" panggil mala ketika ia melihat kedua gadis itu berjalan di koridor sekolah.


"Mala, kenapa seneng banget keliatannya" ujar Dira.


"Iya, kalian tau gak?"


"Gak, kan belum di kasih tau" Balas Haura.


"Iya juga ya" kekeh Mala.


"Orang tua aku udah balik" sorak Mala.


"Yang bener?" tanya Dira.


"Ahhh ikut seneng aku, akhirnya doa kamu di kabulin ya" ujar Haura.


"Iyaa" balas Mala.


"Pelukan dulu dong" ujar Dira.


Ketiganya berpelukan untuk kebahagiaan Mala.


.


.


.


"Udah rapi kan ya? aku gak sabar deh ketemu sama orang itu. Aku mau bilang makasih sama dia karna udah buat orang tua aku pulang" oceh Mala sembari menatap pantulan dirinya di cermin.


"Mala, ayo turun sayang!" panggilan mamanya membuat Mala segera turun.


"Pasti orangnya udah Dateng" ujar Mala, entah kenapa ia sangat tidak sabar.


"Iya ma" ujar Mala sembari menuruni anak tangga. Mala berdiri tepat di tengah-tengah orang tuanya.


"Kenalin ini, om Kenzo dan Tante zavi" ujar Alisia tersenyum lebar.


Mala masih bingung kenapa mereka bisa kenal. Padahal Mala belum mengenalkan mereka.


"Om kenzo ini Kakak papa yang beberapa tahun lalu hilang tanpa jejak. Dan tiba-tiba nge email papa dan bilang kalau kamu masih hidup dan ada di rumah" jelas Herman.


"Jadi ayah sama papa saudaraan?" tanya Mala dan Kenzo mengangguk mengiyakan.


"Tunggu bentar, kamu panggil kak Kenzo dengan apa?" tanya Herman.


"Ayah" balas Mala.


"Kenapa kamu panggil dia ayah? seharusnya itu om Kenzo" ujar Alisia.


"Kan dia ayahnya Zizi" kekeh Mala. Kenzo dan zavi hanya tersenyum dengan tingkah Mala.


"Zizi kan kesayangan ayah sama bunda. Iya gak ayah, bunda?" tambahnya.


"Yaps, bener banget" kekeh zavi mencubit hidungnya Mala.


"Tunggu bentar, kayaknya ada yang perlu di jelasin nih" ujar Herman.


"Papa, ayah Kenzo sama bunda zavi ini yang udah nyelamatin dan ngerawat aku selama ini. Dia juga yang udah bantu aku buat cari bukti kejahatan om Andi. Sampai aku bisa kembali ke rumah ini lagi" jelas mala.


"Oh jadi gitu ceritanya" balas Herman mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Tapi kenapa kak Kenzo sama kak zavi manggil Mala dengan Zizi?" tanya Alisia.


"Itu identitas samaran Mala, dan kami sering manggil dia dengan sebutan itu. Namanya itu Queenzie dan bisa di panggil Zizi" kekeh zavi.


"Ya-ya, aku paham sekarang" Balas Alisia.


***


Seminggu kemudian...


Kehidupan Mala sudah kembali normal. Ia menjalani rutinitasnya seperti biasa. Dari Senin sampai Jumat ia akan pergi ke sekolah. Sabtu dan Minggu ia akan ada di tempat karate. Semua itu sudah menjadi aktivitas wajib bagi Mala. Di tambah lagi ia sekarang punya dua orang tua. Jadi Mala seringkali membagi waktunya. Terkadang ia menginap di rumah dan sesekali ia menginap di rumah ayah dan bundanya.


Kali ini Mala sangat kecukupan kasih sayang dari mereka. Di tambah sahabat-sahabat nya yang selalu ada untuk Mala. Kadang-kadang sehabis sekolah mereka menyisihkan waktu untuk bermain bersama. Entah itu untuk belanja, nongkrong, makan, nonton, ataupun jalan-jalan.


Dan Rakha, dia adalah sosok pacar yang selalu setia menemani Mala. Rakha menjadi sangat romantis. Ia sering kali memberikan suprise dan juga hadiah yang bermakna bagi Mala. Sekarang Rakha juga sudah punya kesibukan selain sekolah. Ia menjadi seorang pekerja paruh waktu di sebuah kafe milik keluarga Affan. Terkadang kafe itu juga menjadi tempat nongkrong bagi Mala dan teman-temannya.


Setelah Andi masuk penjara. Semua aset miliknya di sita oleh pihak bank. Itu karna hutang yang sudah tidak bisa di bayar oleh Andi. Bahkan rumah dan mobil juga di sita. Dan sekarang Rakha tinggal di sebuah kos-kosan. Untuk memenuhi kebutuhannya Rakha terpaksa harus bekerja paruh waktu.


Meskipun Rakha tengah sibuk. Tapi ia juga meluangkan waktunya untuk Mala dan juga sekolahnya.


"Taraaa" ujar Rakha memperlihatkan sebuah kalung pada Mala. Mereka tengah ada di tepi danau. Seperti biasa mereka akan meluangkan waktu untuk bertemu di tempat itu.


"Rakha, buat apa sih kamu beliin aku kalung. Mending uangnya kamu simpen buat keperluan kamu" ujar Mala. Ia bukan tidak suka dengan hadiah Rakha, tapi Rakha sudah terlalu sering memberikannya hadiah. Akan lebih baik ia menabung untuk kebutuhannya nanti.


"Gak papa Mala, ini gak mahal kok. Di Terimah ya" ujar Rakha.


"Yaudah, tapi jangan sampai kebutuhan kamu teledor cuman karna ngasih aku hadiah ya!" pinta Mala.


"Siap" kekeh Rakha.


Didalam hidup Mala, Rakha adalah seseorang yang berarti baginya setelah papa dan mamanya. Karna hanya Rakha yang selalu ada bagi Mala. Selalu mendukung setiap keinginannya.


"Rakha, liat deh mataharinya terbenam" ujar Mala.


"Iya, indah banget" ujar Rakha melirik Mala.


"Rakha, sunsetnya disana! kenapa malah liatin aku"


"Karna kamu lebih indah" ujar Rakha.


~The End


Jangan lupa like dan comen...