CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|56|. Tidak Bisa Membencimu



Dia berdiri membelakangi Maribel. Kakinya seperti enggan berputar balik.


"Kedua telapak tangan ku sama-sama terluka jadi.."


Maribel belum menyelesaikan kata-katanya, mendapati Aldrich sudah berbalik dan berjalan menghampirinya.


Maribel tersenyum manis melihat Aldrich yang sudah duduk di sampingnya. Mengambil salah satu obat oles yang ada di kotak, "Ulur kan tanganmu.."


Maribel mengulur kan telapak kanannya lebih dulu.


Seperti itu, Aldrich dengan serius mengoleskan obat yang berbentuk cream putih itu ke atas telapak tangannya. Rasa dingin dari obat oles pun memenuhi telapak tangannya.


"Kenapa bisa sampai terluka begini? Sebenarnya apa yang kau lakukan waktu itu ketika terjebak di jurang?"


"Aku berusaha keras memanjat ke atas dengan menggunakan tanaman yang merambat, tapi...ya begitulah"


"Tangan satunya.."


Maribel menarik tangan kanannya dan mengulurkan yang kiri.


Aldrich memencet obat yang modelnya seperti odol itu dan mengoleskan nya di telapak tangan kiri Maribel yang sama parahnya dengan yang kanan. Dari luka tersebut, Aldrich sekilas dapat membayangkan betapa gigihnya Maribel malam itu berjuang untuk naik keatas.


"Aldrich.." Maribel menatap lembut wajah tampan yang tengah serius mengoleskan obat ditangannya itu.


"En"


"Maaf..."


Aldrich mengangkat tatapannya, melihat Maribel yang sudah tertunduk seperti menyesali sesuatu.


"Seharusnya...aku tidak memaksa mu untuk menikah dengan ku, bahkan sampai mengancam— harusnya aku tidak melakukannya"


"..." Ekspresi di wajah Aldrich tidak berubah.


"Tapi biar begitu, kau masih memperlakukan aku dengan baik. Aku..merasa sangat bersyukur karena kau tidak membenci ku" Senyum lembut terukir di bibir Maribel saat matanya menatap dalam mata Aldrich.


Walau Aldrich menolaknya dan enggan mengakuinya, tapi dia... tetap peduli dan mau memperhatikannya.


"Aku tidak bisa membenci mu" Kalimat tersebut pun meluncur begitu saja dari bibir Aldrich.


Tampak bulu mata Maribel bergetar, "K-kenapa?"


Aldrich menatap Maribel lamat, 'Karena aku sudah lebih dulu membuat mu menjadi istriku'


'Jauh sebelum kau mengancam ku untuk menjadikan ku suami mu'


"Aldrich?" Panggil Maribel. Melihat Aldrich yang lama terdiam, "Kenapa kau bisa tidak membenci ku?"


Maribel mengulangi lagi pertanyaannya.


Tampak Maribel mengedipkan matanya.


"Itu kenapa aku tidak dapat membenci mu"


Jawab Aldrich yang tidak sepenuhnya berbohong.


......................


Malam harinya setelah makan malam. Aldrich tak lupa meminum obat alerginya. Padahal Maribel sudah dengan murah hati menawarkan darahnya, tapi pria itu menolaknya. Aldrich tidak mau menjadi ketergantungan terhadap darah wanita itu. Bagaimanapun wanita itu adalah istrinya, bukan mangsa nya.


Dia tidak mau memperlakukan istri manusianya seperti ayahnya memperlakukan ibunya.


Sekalipun dia tidak mencintai wanita itu, dia akan tetap menghormatinya sebagai istrinya.


Ketika sudah tiba waktu tidur, Maribel tanpa ragu naik ke atas ranjang Aldrich dan berbaring di sana. Dia telah membuat kamar pria itu sebagai mana kamarnya sendiri.


Aldrich pun tidak mengusirnya pergi. Dia mengakui Maribel sebagai istrinya dalam hatinya walau di permukaan dia begitu keras menolak.


Malam itupun, kesekian kalinya dia berbaring di atas ranjang yang sama dengan seorang wanita yang tak lain adalah istrinya sendiri.


Jam demi jam telah berlalu. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Maribel mengetahuinya setelah melihat pukul yang tertera di layar ponselnya.


Dia sengaja tidak tidur. Karena ada hal yang ingin dilakukannya. Setelah memastikan Aldrich benar-benar terlelap.


Maribel turun dari ranjang dan menanggalkan seluruh pakaiannya. Kemudian dia menggigit keras beberapa bagian di tubuhnya yang dapat dijangkau nya dengan mudah. Seperti lengan atas dan paha. Dia menggigitnya lumayan keras hingga lebam.


Saat melakukannya, dia mengetap keras bibirnya agar suara mengaduh kesakitannya tidak keluar.


"Maafkan aku Aldrich..aku harus melakukan ini"


Maribel perlahan naik ke atas ranjang dan dengan sangat pelan membuka tali jubah tidur hitam yang membungkus tubuh kekar Aldrich. Karena pria itu berbaring terlentang, itu lebih memudahkannya.


Dia tidak menanggalkan jubah itu sepenuhnya dari tubuh Aldrich. Hanya membuat nya terdedah di bagian atas dadanya.


Seperti itu Maribel membaringkan kepalanya selembut mungkin di atas dada berotot Aldrich yang tersingkap dan membuat posisinya lebih intim dengan memeluknya. Selimut pun di tarik untuk menutupi tubuh telanjangnya.


"Aldrich... sekali lagi maafkan aku" Maribel menggosok pelan pipinya di atas dada Aldrich yang keras, "Takutnya jika aku tidak melakukan ini..kau akan pergi meninggalkan ku"


Maribel mengeratkan pelukannya di tubuh kekar itu, "Aldrich...kau adalah suami dan satu-satunya keluarga yang ku punya"


Dia tidak dapat menganggap paman dan bibinya adalah bagian dari keluarganya lagi setelah kejahatan bengis apa yang mereka lakukan padanya dan kedua orangtuanya.


"Jadi aku mohon... tolong jadikan aku bagian dari hidup mu"


'Sebagaimana aku yang menjadikan mu bagian dari hidupku'


......................