
Aldrich sampai di kantor kepolisian. Melaporkan terkait hilangnya Maribel. Hanya laporannya mendapatkan penolakan.
"Tunggu setelah dua puluh empat jam, jika benar teman anda tidak muncul. Anda dapat melapor kembali"
"Tapi bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya?"
"Begitulah prosedurnya. Setelah dua puluh empat jam"
Aldrich mendengus dingin, pergi keluar meninggalkan kantor kepolisian. Masuk kedalam mobilnya, dia menghela nafas berat, "Apa yang harus ku lakukan sekarang?"
Aldrich tiba-tiba terpikirkan, bahwa Maribel bersiap pergi menuju ke kastil nya. Itu berarti jika dia hilang mendadak pun, pasti sebelumnya menggunakan jalan yang tertuju ke kastil nya.
Seperti itu, Aldrich menyusuri jalan menuju ke kastil nya sambil mengedarkan pandangan ke kanan-kiri. Mata nya membidik seperti elang, mencari dan mencari dengan sangat teliti.
Hingga sesampainya di jalanan yang sudah jauh dari kota, mendekat ke hutan. Samar-samar dia mencium aroma darah manusia. Tapi dikarenakan letaknya yang jauh, dia tidak dapat begitu memastikan seperti apa baunya.
Teringat kemungkinan yang bisa saja itu adalah Maribel. Aldrich langsung menepikan mobilnya ke pinggir dan dia pun turun.
Dia masuk kedalam lembah yang dipenuhi rerumputan liar dan pepohonan tinggi, sedang langkah kakinya terus mengikuti dari mana aroma yang mengusik penciumannya berasal.
Di sisi lain, Maribel tengah bersusah payah memanjat ke atas, keluar dari jurang. Tangannya berusaha keras memegang erat tanaman liar yang merambat dan kakinya mencakar kuat memanjat naik ke atas.
Namun nihil.
Tanah yang licin itu membuat kakinya tergelincir dan telapak tangannya terus tergores sekian kalinya. Itu perih dan berdarah.
"Hiks, bagaimana ini"
"Aku gak mau bermalam disini"
"Bagaimana jika tidak ada satu orangpun yang menemukan aku disini?"
"Hikss.."
Maribel berjongkok dan menangis sesenggukan.
Aldrich dikejutkan dengan keberadaan mobil merah menyala yang menabrak pohon besar. Dia langsung mengenali mobil siapa itu dan berlari...
"Maribel" Aldrich menarik pintu mobil dan mendapatinya bangku kemudi kosong.
"Dia tidak ada disini"
Aldrich semakin menajamkan penciumannya. Hidungnya mengerut dan bergerak, berusaha keras mencari dari mana asalnya aroma darah manusia yang manis lagi tak asing. Seperti perasan anggur cotton candy yang bercampur dengan besi.
"Ini pasti Maribel" Yakinnya.
Aldrich berlari cepat menggunakan tenaga dalam vampir nya, siap menggeledah tempat tersebut. Mulutnya pun siap berteriak keras, "MARIBELLL"
"MARIBEL KAU DI SANA?"
"MARIBEL"
Teriakan keras Aldrich itu menggema dan sampai ke telinga Maribel.
"Aldrich"
"MARIBELLL"
"Iya itu Aldrich" Mata basah Maribel terus tersenyum senang.
"ALDRICHH" Teriaknya, AKU DI SINII"
Aldrich menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara tersebut dan langkah kakinya perlahan bergerak, mendapati jurang. Melongok ke bawah, matanya langsung menemukan sosok tubuh di bawah sana...
"Aldrich.."
Aldrich dapat mendengar lirihan Maribel serta nafas kelegaannya.
"Haa, syukurlah.." Maribel tersenyum dalam kelegaannya.
Aldrich melompat ke bawah.
Maribel menekan wajahnya ke dada bidang Aldrich dan menangis, "Hiks..aku takut. S-sangat takut.."
Aldrich mengangkat tangannya dan menepuk pelan punggung Maribel.
"Hiks..t-terimakasih. Terimakasih karena sudah ingat untuk mencari ku"
Dagu Aldrich turun, menekan lembut kepala Maribel, "En.."
Kemudian tangannya langsung menggendong tubuh wanita itu, "Peluk erat aku"
Maribel mengencangkan tangannya yang melilit leher Aldrich.
Seperti itu, Aldrich membawanya melompat dari jurang dan menginjak kembali daratan atas.
Aldrich pun membawa Maribel pulang ke kastil.
Sesampai di kastil Aldrich, Maribel langsung pergi membersihkan tubuhnya dan mandi. Karena koper nya tertinggal di mobilnya yang masih di lembah.
Dia pun meminjam pakaian Aldrich.
Jubah hitam pria yang besar telah membungkus tubuh kurusnya. Maribel mengikat tali jubah tidur itu dan berjalan keluar dengan rambutnya yang masih basah.
Aldrich melirik kearah Maribel yang telah muncul mengena kan jubah tidur nya. Tampak tangannya tenggelam karena lengan baju yang kepanjangan. Pakaian itu juga terlihat kedodoran di badannya yang kecil.
Aldrich tersenyum tipis, "Duduk" Tangannya menepuk sofa kosong di sampingnya.
Malu-malu Maribel berjalan dan duduk di samping Aldrich.
"Aku keringkan rambut mu dulu" Aldrich meletakkan handuk di kelapa Maribel dan mulai menggosok lembut rambut kepalanya yang basah.
Maribel memilin jemarinya, hatinya terasa hangat menerima perlakuan tersebut.
"Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa berakhir di jurang?" Tanya Aldrich. Kedua tangannya terus menggosok.
"Itu..." Maribel pun mulai menceritakan kronologi nya.
Dari cerita tersebut, Aldrich langsung menemukan kejanggalan.
"Seseorang pasti sudah melakukan sesuatu pada mobil mu"
Maribel langsung terpikirkan, "Ah, jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa?"
Maribel mendongak ke arah Aldrich. Matanya menatap lembut mata dingin pria itu yang terasa menyejukkan hatinya.
"Ini bukan kali pertama" Maribel menyandar kan kepalanya ke dada bidang Aldrich, "Seseorang ingin mencelakai ku" Maribel menggesek kan wajahnya, mencari posisi nyaman.
Aldrich meletakkan handuk kecil itu di lengan sofa, "Kau memiliki banyak musuh?"
Maribel mengedik kan bahunya, "Entahlah"
"..."
"Aku hanya menduga, ini perbuatan bibiku" Maribel tersenyum getir, "Dia ingin aku mati agar bisa mengambil alih perusahaan"
"Dan kau masih sesantai ini?"
"Hum?"
"Harusnya kau bergerak melakukan sesuatu" Aldrich menatap lamat wajah Maribel.
Maribel tersenyum, "Seperti yang pernah ku katakan.." Tangan Maribel terangkat naik, mendarat di belahan pipi Aldrich, "Aku hidup bertahun-tahun dengan kenaifan dan kobodohan..."
Jemari lentiknya bergerak lembut mengusap pipi Aldrich.
Entah bagaimana, Aldrich sama sekali tidak berniat menyingkirkannya dan memilih menikmatinya.