CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|29|. Gadis Yang Terkena Gigitan Ular



Aldrich telah kembali ke kastil dengan diantar oleh Parker. Padahal dia sudah menolaknya, tapi pria medis itu tetap bersikukuh mengantarnya pulang. Parker tidak berpikir untuk mampir karena harus segera kembali, Aldrich tidak mendesak. Selesai berterimakasih, dia langsung berjalan masuk kedalam kastil.


Hari sudah senja. Jejak keorenan langit telah memandikan alam dengan nuansa merah oranye nya yang cantik.


Aldrich melihat ke halaman depan kastil yang tidak ada lagi tumpukan daun kering di atasnya dan sekeliling yang terlihat sangat bersih. Masuk kedalam, aroma ruangan telah di penuhi jejak manis apel dari gel pembersih lantai.


Aldrich terus berjalan hingga ke ruang tengah dengan tatapan penuh penilaian, "Dia benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik"


Ketika malam tiba. Aldrich pergi turun ke lantai bawah, berjalan ke ruang makan. Tadinya dia mengira pelayannya itu sudah menyiapkan botol darah dan gelas di meja. Tapi pemandangan yang ditemukannya itu hanya meja kosong tanpa keberadaan benda apapun di atasnya.


"Kemana dia?" Aldrich melirik arloji hitam yang melingkari tangannya, "Sudah jam delapan malam lewat, kenapa makan malam ku belum di siapkan?"


Aldrich menghela nafas panjang. Mencoba bersabar. Dia bukan seseorang yang berbesar hati untuk menoleransi kesalahan orang-orang di sekitarnya. Kecuali mereka yang memiliki poin khusus di hatinya dan selebihnya...


Mereka yang menyentuh titik rentannya. Seperti gadis pelayannya itu..


Dia sebatang kara dan bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidup.


Kemiskinan dan ketidakberdayaan yang dilihatnya pada gadis kurus itu, selalu menyentuh titik hatinya yang paling rapuh.


Alhasil Aldrich pergi ke kamar pelayan. Memangilnya untuk menyiapkan makan malam.


Tok..tok..


"Maddie"


Tidak ada jawaban.


Aldrich mengerutkan keningnya dan kembali mengetuk.


Tok..tok..


"Maddie"


"..." Hening.


"Maddie apa kau ada di dalam?"


Tok..tok..


"Maddie?"


Ceklek.


Pintu dibuka dan seonggok tubuh lemah tampak bersandar ke pintu, "T-tuan.."


Mata Aldrich berkedip terkejut melihat Maribel muncul dengan bibir pucat nya. Sorot matanya terlihat kuyu dan pelipisnya di penuhi titik-titik keringat. Dia tampak memegang perutnya yang sepertinya cukup kesakitan.


"Ada apa dengan mu?"


Maribel mencoba tersenyum berucap, "Maag saya kambuh"


"Maag?" Dia ingat penyakit tersebut pernah di alami oleh ibunya ketika makan dengan tidak teratur atau melewatkan beberapa kali waktu makan.


"Apa tadi pagi kau ada sarapan?"


Maribel menggeleng lemah, "Tidak"


"Siang?"


Maribel tersenyum miris, "Tidak juga"


"Kau ini, bagaimana bisa—"


"Uhh.." Saat Maribel meringis, itu telah menghentikan mulut Aldrich dari membebel lebih jauh.


Nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi. Maribel merasa seperti ada sesuatu yang sedang memelintir lambungnya, "Ahh.." Maribel nyaris saja ambruk ke depan.


Maribel sesaat menjadi gugup. Dia dapat merasakan bagaimana lengan kokoh itu menahan pinggang kecilnya, "Ah, maaf.." Mungkin karena sakit, akal sehatnya bekerja lebih baik daripada ketika dia sehat.


Maribel saat itu sama sekali tidak terpikirkan untuk memanfaatkan situasi tersebut sebagai langkah pendekatannya terhadap Aldrich.


Alih-alih melepaskan gadis itu, Aldrich tanpa sungkan mengangkatnya dan membawanya masuk kedalam.


Maribel merasa sedikit pusing ketika dirinya yang limbung telah digendong seperti bayi yang meringkuk oleh Aldrich. Dia mendapati tubuhnya di baringkan dengan lembut di atas kasur dan tangan kekar itu bergerak pelan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Apa kau punya obat?"


Maribel menggeleng.


Aldrich mengulum bibirnya ke dalam sambil memikirkan sesuatu dan kemudian berbalik pergi.


Tapi langkahnya tertahan, saat telapak tangan Maribel yang lembut dan hangat meraih pergelangan tangannya, "Maaf, sepertinya saya tidak sanggup menyiapkan makan malam anda malam ini"


Asam lambung nya bergerak sangat liar, membuatnya tak leluasa untuk beraktivitas. Bahkan berbaring pun, Maribel tidak pula merasa lebih baik.


Aldrich mendorong lembut tangan tirus itu dari pergelangan tangannya, "Aku mengerti situasi mu. Tunggu lah sebentar, aku akan menelpon dokter kenalan ku untuk datang"


"Ah, itu tidak perlu" Maribel merasa tidak enak. Bagiamana pun itu hanya maag kambuh biasa.


Aldrich tidak berkata apa-apa dan pergi. Melihat itu Maribel tersenyum tak berdaya, "Apa dia benar-benar akan memanggil dokter?"


Sekitar tiga puluh menit berlalu. Ketika Maribel hampir jatuh tertidur karena rasa sakit. Dia merasakan pergelangan tangannya di sentuh, menekan tepat di bagian titik nadi dan ujung stetoskop yang dingin menekan permukaan dadanya.


Pelan Maribel mengangkat kelopak matanya dan melihat seorang pria paruh baya berpakaian santai sedang memeriksanya.


"Di samping maag nya yang kambuh, tubuhnya memerlukan istirahat yang cukup" Parker mengangkat pandangannya kearah Aldrich, "Apa kau hanya memperkejakan satu pelayan di kastil mu?"


Aldrich mengangguk.


"Pantas saja tubuhnya sangat kelelahan" Parker melirik kearah Maribel yang sudah membuka matanya, "Bagaimana bisa kau memperkerjakan seorang gadis kurus seperti ini untuk mengurus kastil mu yang besar?" Parker tersenyum lembut menatap wajah tirus Maribel dan menoleh kearah Aldrich, "Harusnya kau menambah sekitar tiga atau empat pelayan lagi. Ayahmu saja memiliki puluhan pelayan yang mengurus tempat ini dulunya"


Aldrich menggosok tengkuk nya, terlihat agak bersalah, "Itu..ku pikir, sementara waktu ini aku tidak memerlukan banyak pelayan"


Parker hanya menggeleng dengan pemikirannya itu. Dia membereskan peralatannya dan memasukkannya ke dalam tas medis miliknya. Lalu dia mengeluarkan beberapa obat yang sudah tertulis jadwal minumnya dan meletakkannya di sisi Maribel.


"Ingatlah untuk makan teratur dan istirahat yang cukup" Ucapnya kepada Maribel.


"En, terimakasih dok" Angguk Maribel pelan.


"Saya seperti pernah melihat mu sebelumnya" Parker merasa mata coklat yang seperti sekumpulan pusara serbuk bunga matahari itu begitu familiar.


Aldrich berdeham pelan, mewakili untuk menjawab, "Hari itu aku pernah membawanya ke tempat perawatan mu. Gadis yang terkena gigitan ular"


"Ah, itu ternyata kamu" Parker tersenyum lebar memandangi wajah cantik Maribel dan menoleh pada Aldrich, "Nak, aku hampir saja mempercayai gadis ini adalah pacar mu alih-alih pelayan"


"Huk..huk.." Aldrich langsung terbatuk-batuk mendengarnya.


Wajah Maribel menghangat merah dan hatinya seperti tergelitik ketika mendengar ucapan dokter tersebut.


"Kau sedang tidak menipuku kan?" Tanya Parker lagi.


"Paman.." Aldrich tampaknya tidak ingin pria itu menggodanya lebih jauh.


Parker tertawa kecil, "Baiklah. Kalau begitu aku kembali dulu. Ingatlah untuk menyiapkan semangkuk bubur hangat untuknya. Jangan biarkan perutnya kosong malam ini"


"En" Aldrich mengangguk dan mengantarkan Parker keluar.


Di depan pagar, tepat ketika Parker hendak masuk kedalam mobil. Dia menoleh kearah Aldrich, tersenyum dan menggodanya sekali lagi, "Tidakkah dia terlihat cukup cantik? Apa dia tipemu?"


Aldrich mencengkeram besi tembaga yang dipegangnya itu, wajahnya terlihat kesal, "Tidak"