CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|11|. Seperti Perjanjian Hidup Dan Mati



Maribel telah berputar-putar, tapi tak kunjung menemukan kamar mandi. Begitu banyak pintu, tapi hampir semuanya dikunci. Hingga dia menemukan dapur dan berjalan ke wastafel tempat cuci piring.


Dia hanya bisa menggunakan tempat itu untuk membasuh wajahnya, membersihkan kedua sudut matanya dan menggosok giginya dengan jari.


Tak ada sikat gigi, tapi setidaknya dia harus membersihkan mulutnya.


Setelah berkumur-kumur, dia mendapati seseorang datang menepuk pundaknya.


"Apa yang kau lakukan?"


Deg!


Maribel sedikit tersentak. Buru-buru dia mencuci bersih tangannya dan berbalik.


Matanya bertemu dengan tatapan menelisik tajam pria itu. Maribel meremas jari-jemarinya, tersenyum gugup, "Itu..aku baru saja mencuci muka"


Aldrich menautkan sepasang alisnya, menatap gadis itu dalam dan bibirnya yang terkait rapat tidak mengucapkan sepatah katapun.


Maribel tidak bisa tidak tegang dengan sikapnya yang begitu.


'Ayolah, katakan sesuatu!'


'Jangan tatap aku begitu'


Batinnya. Jantungnya saat itu agak berdebar tak menentu.


"Kau akan bekerja mulai hari ini"


Maribel membelalak kan matanya terkejut, "A-apa? B-bekerja?"


Aldrich tampak mengangkat bahunya, berbicara, "Ya. Lalu apa lagi? Bukannya kau datang kemari untuk bekerja di kastil ku?"


Maribel tanpa sadar menelan saliva nya, 'Sepertinya, dia telah salah paham tentang sesuatu'


"Itu sebenarnya..."


"Tidak perlu kau jelaskan" Aldrich mengangkat tangannya, "Aku mengerti"


Tampak sepasang mata Maribel berkedip dalam kebingungan.


'Mengerti?'


'Memangnya apa yang dia mengerti?'


Aldrich berdeham, menyilang kan kedua tangannya ke belakang, meneruskan kalimatnya, "Aku mengerti kenapa kau masuk begitu saja ke dalam kediaman ku tanpa izin. Bagaimanapun tidak ada yang mendengarkan bunyi bel yang kau tekan berkali-kali dan kau seorang gadis, tidak aman bagimu berdiam diluar. Jadi..."


"..." Maribel menggigit bibirnya. Bola matanya agak berkaca-kaca, 'Dia tipe yang pengertian'


"Untuk kali ini aku akan memaklumi" Ucap Aldrich kemudian.


Maribel tersenyum penuh haru, "Terimakasih banyak"


Aldrich berdeham, melambaikan tangannya, "Ikut aku ke ruang tengah"


"En" Maribel mengangguk, senyuman masih memenuhi mata coklat beningnya yang indah.


Menatapi itu, Aldrich sedikit tersengat. Dia dapat merasakan rasa panas di daun telinganya yang memerah.


Cepat-cepat Aldrich menggosok telinganya dan berjalan ke depan lebih dulu. Maribel di belakang, terus mengikutinya.


Di ruang tengah, Aldrich menyuruh Maribel duduk di sofa panjang dan dia pergi duduk di sofa tunggal.


Melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap gadis didepannya itu dengan sorot mata yang serius, "Sebelum bekerja padaku, kau harus melakukan perjanjian rahasia"


Maribel tertegun, 'Ah, aku masih belum menyelesaikan kesalahpahaman nya'


"Maaf, itu sebenarnya aku—"


"Aku tidak dapat mengatakan isi dari perjanjian itu sekarang. Ini perjanjian utama yang bersifat rahasia dan sangat dirahasiakan" Ucap Aldrich penuh penekanan, "Karena seperti yang kukatakan tadi, ini 'perjanjian rahasia'. Jadi jika kau merasa ragu, kau bisa memilih untuk pergi sekarang"


Maribel mengedipkan matanya. Sesaat dia terlupa dengan kesalahpahaman yang belum diluruskan dan mulai tertarik pada...


"Rahasia?"


"En"


Dia ingat pertemuan pertamanya dengan penolong nya itu. Pria itu barangkali terlihat ketus dan acuh. Tapi pribadinya cukup tulus untuk membantu dan begitu saja, dia telah jatuh hati pada pandangan pertama padanya.


Maribel menatap pria itu yang sepertinya masih menunggunya berpikir.


Dari tampangnya, dia tipikal pria cuek soal romansa. Tidak murah senyum pada para gadis dan hanya tau mengerutkan kening dengan tatapannya yang dingin. Hidupnya hanya soal dirinya, kepuasan dan kesenangannya semata. Tidak mau ambil pusing untuk merawat apa lagi mengurus seseorang di sisinya. Jelas dia tipe pemuda kaya yang hanya tau kemaslahatan diri.


Keselurahan, dia bukan tipe pria yang mudah didekati. Godaan kecantikan nakal tidak akan menjeratnya dengan mudah. Teratai putih yang lemah, tidak akan cukup untuk menyentuh garis pertahanannya yang sekeras baja.


Mungkin hanya ada satu cara untuk menghancurkan dinding pembatas yang dibangunnya.


Waktu.


Maribel mengaitkan bibirnya dalam senyuman, 'Sepertinya aku membutuhkan waktu yang banyak untuk mendekatinya'


'Bagaimana..jika aku memanfaatkan kesempatan ini?'


Karena di samping waktu, dia juga memerlukan...


Jarak.


Dengan bekerja sebagai pelayan di kediamannya. Maka dia akan punya banyak waktu dan jarak yang cukup dekat untuk mendekatinya secara perlahan di masa depan.


'Seperti itu, aku akan punya banyak kesempatan untuk menaklukkannya di masa depan'


Mengulum bibirnya dalam senyuman, Maribel menatap pria didepannya itu penuh kesenangan yang dirahasiakan dalam hatinya, "Baik, lakukan saja seperti maumu"


Aldrich menatap gadis itu, menajamkan pandangannya, "Kau yakin?"


"En"


"Bagaimana jika perjanjian ini akan merugikan mu?" Aldrich bertanya-tanya, darimana datangnya keyakinan gadis itu.


Normalnya, orang-orang akan cenderung berhati-hati jika dihadapkan dengan situasi tersebut dan memilih untuk tidak mengambil resiko dengan menolak pekerjaan yang ditawarkan.


"Harap pikirkan sekali lagi, setelah perjanjian dilakukan. Tidak ada waktu bagimu untuk menyesalinya"


Maribel tetap tersenyum penuh kepercayaan diri, mengatakan, "Aku yakin aku tidak akan menyesalinya"


"Kenapa?"


"Ya kenapa lagi? Karena kau seorang pria yang baik. Jadi aku yakin, sebagai atasan kau tidak akan membuat perjanjian yang akan merugikan bawahannya"


Aldrich tersenyum lucu, "Darimana kau melihat ku baik?"


Maribel tersenyum penuh arti, "Bagaimanapun kau sudah menolong ku kemarin. Jadi ku pikir jika kau pria jahat, kau pasti tidak akan melakukannya"


Bibir Aldrich berkedut. Dia hampir menertawai betapa polos dan naifnya gadis manusia didepannya itu.


"Baiklah jika kau berpikir begitu"


Aldrich sedikit maju ke depan dari posisi duduknya. Mata hitamnya yang memikat selalu membuat jantung Maribel berdetak keras setiap kali memandanginya.


"Pertama-tama, kau harus melukai jarimu dulu untuk melakukan perjanjian ini"


Mata coklat Maribel membesar kaget, "Apa? Melukai jari?"


'Kenapa harus sampai melukai jari?'


Aldrich mengangguk santai, "Ya. Karena aku memerlukan darahmu untuk mengikat perjanjian ini"


Maribel kian membelalak kan matanya, "Memerlukan darah?"


Apa jangan-jangan pria didepannya itu adalah pengikut salah sebuah sekte sesat? Biar bagaimanapun memerlukan darah untuk mengikat perjanjian itu sangat...


"Ini tidak seperti yang kau pikirkan" Aldrich jelas telah membaca pikirannya, "Ini hanya bagaimana teknis melakukan perjanjian tersebut. Namanya perjanjian darah, tapi klise nya ini seperti perjanjian hidup dan mati"


Maribel meneguk saliva nya, dia tak dapat menahan perasaan merinding dan mendapati bulu kuduknya berdiri dan keringat dingin melapisi pelipisnya.


"H-hidup dan mati?"


"Ya. Sederhananya, jika kau melanggar perjanjian ini, maka kau akan mati. Sebaliknya, Jika tak melanggarnya, maka kau akan baik-baik saja"


Maribel meremas tangannya yang menekan sofa. Dia nyaris akan bangkit, dan melupakan keinginannya untuk mendekati pria itu. Tapi di sisi lain, hasratnya untuk memiliki ketampanan itu begitu menjadi-jadi.