
Aldrich berjalan maju ke depan, mengambil satu, menciumnya dan mulai memilih. Setelah mengambil dari botol ke botol, dia belum menemukan satu yang cocok.
"Coba yang ini!"
Aldrich berhenti mengambil botol shampo yang ada di rak dan menoleh pada gadis disampingnya yang baru saja menyerahkan sebotol shampo hitam bergaya maskulin.
Aldrich menautkan alisnya, mengambil botol tersebut.
"Bagaimana?" Mata Maribel berbinar cerah, "Aroma menthol dari mint yang berbaur sempurna dengan Cendana yang maskulin, di tambah dengan ekstrak Citrus yang menyegarkan— kombinasi ini sangat cocok dengan gaya anda bukan?"
Aldrich menatap Maribel yang asyik berbicara dan hidung nya menunduk ke tutup botol. Dia dapat mencium aroma yang sesuai dengan deskripsi yang dijelaskan gadis itu padanya, "Eum"
Itu memang sesuai dengan seleranya.
Maribel bertepuk tangan senang. Dia langsung mengambil botol yang lainnya dan menyerahkannya kepada Aldrich, "Ini sabun yang dilengkapi aromaterapi didalamnya. Anda dapat mandi dengan berendam di air hangat sambil merilekskan tubuh dan pikiran anda dengan ini" Terangnya.
Aldrich meletakkan botol shampo di tangannya ke troli dan mengambil botol sabun yang diserahkan gadis itu padanya. Matanya menelusuri badan botol memperhatikan, "Kalian manusia memproduksinya seperti ini?"
Di Merland sabun dan aromaterapi adalah barang terpisah. Tidak ada yang di produksi dengan kombinasi tersebut.
"Tempat kelahiran ku memang yang terbaik" Sudut Bibir Aldrich tertarik keatas saat matanya tersenyum. Dia pun memasukkan botol sabun tersebut kedalam troli.
Pasangan suami-istri baru saja lewat dibelakang mereka dan tanpa sengaja mendengar ucapan Aldrich.
"Gaya bicaranya cukup lucu" Bisik wanita itu pada suaminya yang mendorong troli.
Suami wanita itu tergelak kecil, "Kalian manusia katanya? Pftt.."
"Seperti dia bukan manusia saja" Lanjut pria itu lagi dan istrinya terkikik.
Meskipun mereka berbicara dengan suara rendah, Maribel dan Aldrich masih dapat mendengarnya.
Maribel mendekat ke Aldrich dan berbisik, "Tuan..anda harus menjaga gaya bahasa anda mulai sekarang. Jangan berbicara seperti tadi.."
Orang-orang mungkin tidak akan mencurigai Aldrich. Tapi mereka hanya akan menganggapnya aneh.
Aldrich hanya menatap dingin pada pasangan yang baru saja pergi itu. Bukan manusia?
Dia adalah vampir dengan beberapa persen gen manusia di dalamnya, dapatkah dia dikatakan bukan manusia? Hanya tumbuh besar di Merland, membuatnya terlupa dengan beberapa persen gen manusia dalam tubuhnya. Membuatnya merasa seperti vampir murni.
Karena tak ada lagi populasi vampir campuran di Merland semenjak berlalunya tahun dengan fungsi sistem pengasingan.
"Kenapa aku harus menjaga lidah ku? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Aldrich mengangkat bahu tak peduli terhadap pengingat yang diberikan pelayannya.
Maribel menghela nafas tak berdaya. Dia tidak berbicara lagi dan mendorong troli sambil menanyakan kebutuhan apa lagi yang diperlukan pria itu. Setelahnya mereka membeli beberapa kebutuhan kastil, seperti gel pembersih lantai, pengharum ruangan, sabun pencuci piring dan beberapa barang lainnya.
"Sudah semua kan? Kalau begitu ayo kita ke kasir" Seru Maribel sambil mendorong troli ke salah satu antrian.
Tapi dia mendapati Aldrich menahan bahunya. Dia pun berhenti.
"Anda masih membutuhkan apa lagi tuan?" Tanyanya.
Aldrich menatap pundak kecil yang di pegang nya itu. Merasakan dagingnya yang hanya tulang dan membatin di hatinya, 'Dia sangat kurus. Apa dia tidak memiliki makanan yang cukup karena kekurangan uang?'
Jika Maribel mendengar suara hati pria itu, entahlah dia akan menangis atau tertawa.
Kehidupan yang miskin, selalu membuat Aldrich terkenang dengan masa kecilnya yang serba kekurangan dan itu menyentuh hatinya seperti sobekan sutra yang lembut. Sangat halus dan rapuh.
Dia menatap gadis itu dengan perasaan kasihan, mengatakan dengan tulus, "Bukankah kau perlu makan selama tinggal di kastil ku?"
Maribel mengedipkan matanya, "..."
Maribel mengedipkan matanya dan memandangi tubuh kurus kecilnya dengan perasaan terkejut. Dia tau tubuhnya yang ramping itu kurus dan tipis. Semenjak menghabiskan studi S2 nya di luar negri, dia kerapkali tidak makan teratur sehingga kondisi tubuhnya terganggu.
Kebiasaan pola makannya yang buruk itu masih mengikut hingga sekarang. Tapi...
'Apa aku terlihat seperti gadis kekurangan gizi?'
Mereka pun pergi mengambil semua yang dikatakan Aldrich. Melihat troli yang sudah penuh dengan daging segar dan sayuran hijau, Maribel melirik kearah Aldrich, "Tidakkah ini terlalu berlebihan?"
Bagaimanapun dia hanya seorang pelayan di kastil nya, tapi Aldrich memperlakukannya dengan sangat...
Seperti membaca pikirannya, Aldrich menjawab dengan lugas, "Hanya memberi makan pelayan ku tidak akan membuat ku miskin. Aku cukup kaya"
Mata Maribel yang memandangi Aldrich itu berbinar dengan keharuan. Dia merasa sangat tersentuh dengan kebaikannya. Biarpun dia hanya seorang CEO yang diam-diam menyamar sebagai pelayan, tapi tetap saja di mata pria itu dia hanyalah pelayan nya.
Sejauh ini, itu adalah ketulusan pertama yang dimilikinya dalam hidupnya yang penuh glamor dan status.
'Pria seperti dia...'
'Aku benar-benar harus menjadikannya sebagai suamiku'
Aldrich berdeham. Dia tau gadis itu merasa sangat tersentuh dengan apa yang dilakukannya, "Kenapa matamu berbinar sekali? Apa sebelumnya kau tidak pernah bertemu dengan seorang tuan yang murah hati seperti ku hum?" Tanyanya setengah bercanda.
Maribel menggeleng dengan matanya yang tak terlepas menatap pria itu dalam, "Tidak. Belum pernah sama sekali"
"Berarti kali ini adalah keberuntungan mu bertemu dengan ku"
Hati Maribel berdesir, serasa deruan ombak yang halus datang menerpa hatinya...
'Ya..ini adalah keberuntungan ku bertemu dengan mu'
"Yasudah, ayo pergi!" Aldrich mengambil alih troli dari tangan Maribel dan mendorongnya.
Maribel buru-buru berkata, "Tuan tidak perlu. Biar saya saja"
"Ini berat. Biar aku saja" Katanya.
Maribel menggigit bibirnya dalam senyuman, "Tuan..anda benar-benar sangat baik" Pujinya tulus.
Aldrich mengangguk kan kepalanya, menerima dengan bangga pujian gadis itu.
Mereka pun mengantri dan setiba di depan kasir.
"Semua totalnya tujuh ratus ribu ya pak"
Itu bukan nominal yang mengejutkan untuk Maribel, tapi yang membuat matanya terbuntang lebar tak percaya..
"Ini"
Kartu hitam yang baru saja di sodorkan Aldrich ke kasir.
Sontak orang-orang yang mengatri di belakang ikut tercengang. Mereka bertanya-tanya apa pekerjaan pria semuda itu hingga bisa memiliki kartu hitam yang hanya hitungan jari pemiliknya.
Kasir menerima kartu tersebut sambil menatap wajah tampan Aldrich dengan sorot mata tak terduga. Setelah menggesek nya dan biaya pun terproses. Kasir menyerahkan slip pembayaran kepada Aldrich bersama kartu hitamnya.
Seperti itu mereka menenteng kantong belanjaan bersama, pergi meninggalkan pusat perbelanjaan dan kembali ke kastil.
......................