
Parker tergelak, "Cepat sekali kau menjawabnya"
Aldrich memutar bola matanya bosan.
"Perlakukan dia dengan baik, itu akan lebih mudah jika kau ingin memulai hubungan dengannya nanti" Parker tersenyum dan mengedipkan matanya pada Aldrich. Kemudian dia masuk kedalam mobil.
Aldrich melihat kepergian mobil itu dari pandangannya dengan menghela nafas panjang, "Haa, kenapa dia senang sekali menggoda ku"
......................
Aldrich berpikir untuk mengambil takeout, tapi dia tidak memiliki satu nomor restoran pun di ponselnya. Dalam hal kemajuan, Merland masih tertinggal jauh dengan negri manusia. Itulah kenapa dia sama sekali tidak tau ada yang namanya aplikasi untuk delivery makanan di dunia manusia.
Sekalipun lahir di negri manusia, namun dia tumbuh besar di Merland. Jadi beberapa hari tinggal di sini, dia dapat terbilang baru beradaptasi.
Alhasil dia membuka internet dan mencari cara memasak bubur dari sebuah situs. Mengikuti petunjuk yang tertera, dia mulai mengambil beberapa genggam beras dan mencucinya hingga bersih.
Membuka pintu kulkas, dia mengambil beberapa sayur seperti brokoli, wortel dan seledri. Setelah mencuci semuanya, dia memotong sayuran tersebut menjadi potongan yang sangat kecil di atas telenan.
Sekitar sepuluh menit berlalu, dia mengangkat tutup panci dan mencium aroma brokoli, wortel dan seledri yang mengudara.
Mematikan api kompor, dia mengambil centong dan menuangkan bubur tersebut kedalam mangkuk.
Dia tersenyum puas menatap mahakarya pertamanya, "Ternyata memasak cukup menyenangkan"
Tapi sayang, tubuhnya yang lebih di dominasi gen vampir itu tidak dapat menikmati makanan selayaknya manusia pada umumnya. Karena itu dia tidak dapat menikmati makanan buatannya sendiri.
Aldrich meletakkan mangkuk dan segelas air putih di atas nampan. Dia pun pergi membawa nampan tersebut ke kamar pelayannya yang tengah terbaring lemah di atas kasur.
Maribel mendengar pintu terbuka, matanya berkedip lemah melihat Aldrich masuk dengan nampan di tangannya.
"Makanlah, aku sudah membuatkan mu bubur" Aldrich meletakkan nampan yang di bawanya itu di atas meja.
Lalu dia berjalan mendekati kasur dan membantu Maribel bangun, membuat punggungnya bersandar di kepala kasur.
Dia mengambil mangkuk bubur yang ada di meja dan menyerahkannya pada Maribel, "Ini pertama kali aku memasaknya, semoga itu tidak buruk"
Maribel melihat mangkuk bubur hangat yang dipegang pria itu dan menatapnya dengan sorot mata haru, "Anda memasaknya secara pribadi?"
"Un"
Maribel selalu berpikir vampir adalah makhluk dingin yang tak punya hati. Seperti itulah pemahaman yang didapatkannya dari menonton film yang bertajuk makhluk penghisap darah.
Tapi melihat pria berkulit pucat dan tampan didepannya itu...
"Ah, saya jadi merasa tidak enak"
"Tidak perlu merasa begitu. Ini salahku karena memperkejakan mu seorang untuk mengurus kastil sebesar ini" Dia ingat kalau Parker mengatakan gadis kurus itu kekurangan istirahat disamping maag nya yang kambuh.
Meskipun Maribel hanya menyamar sebagai pelayan, tapi tetap saja. Perlakuan yang diterimanya dari pria itu, membuatnya merasa sangat tersentuh. Padahal dia kelelahan bukan karena mengurus kastil, tapi barangkali karena terlalu fokus mengurus perusahaan.
Apa jadinya jika Aldrich tau dia adalah CEO yang menyamar, yang telah menyewa tenaga kerja bersih-bersih untuk membersihkan kastilnya yang besar?
"Uhh.." Maribel meringis, memegang perutnya. Asam lambungnya kembali melonjak ke ulu hati membuat matanya memanas pedih dan berkaca-kaca.
Melihat bibir pucat gadis itu yang merintih, begitu saja dia tergerak menawarkan, "Biarkan aku menyuapi mu"
"Um" Aldrich menyodorkan sesendok bubur ke hadapan bibir tipis Maribel yang pasi dan kering.
Jika tadinya gejolak asam lambung, kini itu telah tergantikan dengan gelora samudra yang bergejolak indah di hatinya. Untuk pertama kalinya Maribel merasa sangat senang maag nya kambuh.
Membuka mulutnya, dia menerima suapan tersebut.
Tekstur bubur yang lembut pecah di lidahnya bersama rasa hijau brokoli dan seledri yang harum. Rasa garam yang pas dan pedas lada yang cukup menghangatkan. Maribel terus mengunyah dan begitu menikmatinya.
Aldrich memperhatikan pergerakan mulut kecil yang sedang mengunyah pelan itu, bertanya, "Apa rasanya buruk?"
Maribel menggeleng cepat, "Ini sangat enak" Dia tidak berbohong. Rasanya mungkin tidak seperti bubur restoran. Tapi itu sangat khas rumahan sekali.
"Baguslah" Aldrich menyendok bubur lagi dan menyuapinya ke Maribel.
Mata coklat Maribel dipenuhi senyuman saat mulut kecilnya membuka, menyambut suapan pria itu. Hatinya berdesir penuh keinginan...
'Ah, aku ingin menikahinya segera'
Suapan demi suapan terus Aldrich berikan secara bertahap dan sabar. Dia menunggu dengan damai memperhatikan mulut kecil itu mengunyah dan sorot matanya yang terus tertuju kearahnya penuh makna.
Sesudah mangkuk itu kosong, Aldrich mengambil gelas air dan obat.
"Minum obatmu"
Maribel meminum obatnya dan mengambil gelas air dari tangan Aldrich, meminumnya teguk demi teguk hingga habis.
"Istirahat lah"
Seperti itu, Aldrich membereskan gelas dan mangkuk di atas nampan, berlalu pergi meninggalkan kamarnya.
Maribel menarik selimut, dia memejamkan matanya dengan wajah penuh senyuman. Hatinya yang begitu berbunga-bunga malam itu, sedikit telah menepis asam lambungnya yang masih bermain.
Keesokan paginya, Aldrich sudah mandi dan telah berpakaian rapi dalam setelan bajunya yang kasual— celana panjang coklat susu yang membungkus indah kaki panjangnya dan kaos navy yang menyatu sempurna di kulit putih pucat nya yang bersih.
Dia berjalan turun ke bawah. Selangkah ke ruang makan, dia melihat Maribel yang sudah tampil rapi seperti pagi sebelumnya.
Rok hitam selutut dan kemeja kotak-kotak merah-hitam dengan rompi luar bewarna putih susu. Tampak rambut hitam legamnya dibiarkan tergerai bebas dan jatuh ke pinggang seperti tinta tumpah. Seperti itu, dia terlihat seperti gadis-gadis remaja di sekolah sihirnya dulu. Penuh gairah muda dan mengesankan.
"Kau sudah baikan?"
Maribel yang sedang mengatur gelas dan ceret di meja, mendongakkan wajahnya ke asal suara, "Ya. Berkat perawatan anda" Senyum manis memenuhi wajah cantiknya.
Sedetik, dua detik, tiga detik... Aldrich membatu, terkesima.
"Pagi ini saya menghangatkan darah rusa untuk anda" Maribel menuangkan darah rusa hangat ke dalam gelas bening yang ada di meja, "Sebenarnya saya sedikit penasaran, apakah ada perbedaan rasa dari darah-darah hewan ini?"
Aldrich menarik kursi dan duduk, "Tentu saja ada"
Maribel mengangkat gelas yang sudah terisi penuh dengan darah rusa hangat itu dan meletakkannya tepat di depan Aldrich, "Seperti apa bedanya?"
Aldrich mengambil gelas tersebut dan menyesapnya sedikit, "Darah rusa manis dan lembut. Darah angsa juga manis, tapi agak pekat. Darah kelinci juga termasuk manis, tapi ada sedikit rasa asam— mungkin ini kedengarannya seperti asam strawberry yang manis"
"Strawberry?"