CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|35|. Karena Ingin Menikahinya



"Ah, bagaimana itu mungkin pak? Nyonya Diana telah mengkonfirmasi kepada kami bahwa dia sudah mulai bekerja dan memiliki tuan rumah yang sangat baik"


Sean mengerutkan keningnya. Menolak bertanya lebih jauh dia berkata, "Boleh anda berikan kontak nyonya Diana"


"Saya pikir anda telah memilikinya. Baiklah disini" Wanita itu mengambil selembar kertas, menulis kan serangkaian nomor dan menyerahkannya kepada Sean.


"Terimakasih" Sean bangun dan segera keluar meninggalkan perusahaan tersebut.


Naik kedalam mobilnya, dia mendapati notifikasi pesan dari Aldrich.


'Sebenarnya kau mendapatkan pelayan ini dari perusahaan apa?'


'Kenapa tidak ada hal yang dapat dilakukannya dengan benar?'


Sean mengetapkan bibirnya saat mulai berpikir, "Haa, benar-benar mencurigakan"


Semua berlangsung begitu cepat. Keesokan harinya Sean menghubungi nyonya Diana dan telah mengkonfirmasi keberadaannya yang ternyata bukanlah di kastil. Melainkan di sebuah kediaman besar milik putri muda yang baru saja mewarisi bisnis keluarganya.


Dia tidak tau siapa yang telah mengatur semua itu terjadi. Tapi tidak mungkin hal tersebut dilakukan atas niat buruk mengingat Aldrich tidak memiliki musuh apapun di dunia manusia.


"Bisa anda ikut dengan saya sekarang?"


Diana mengelap tangannya di celemek, "Maaf?" Menatap Sean dengan raut wajah kebingungan.


"Di sini bukanlah kediaman yang seharusnya anda bekerja"


Diana tiba-tiba terpikir kan kastil besar yang sebelumnya didatanginya. Itu adalah kediaman yang sesuai dengan alamat yang tercantum di kertas, hanya...


"Tapi seorang nona muda mendatangiku dan menyuruh ku untuk bekerja di sini?"


Sean menaikkan salah satu alisnya.


Diana menatap Sean lamat, "Apa saya telah melakukan kesalahan?"


Sean mengkedikkan bahunya, "Saya pikir anda akan tahu pastinya, setelah ikut dengan saya"


Seperti itu, Diana pun meninggalkan pekerjaannya kepada salah seorang pelayan lain dan pergi bersama Sean.


Maribel telah sibuk di perusahaan sejak pagi. Dia mengurus banyak hal. Menjalani rutinitas rapat seperti biasa, memeriksa tiap dokumen tanpa memberikan celah kepada bibinya untuk bisa menemukan kesalahannya.


Dia merasa agak lega. Karena setelah hari di mana dia hampir celaka di vila nya yang ada di dekat hutan, bibi dan pamannya belum melakukan hal-hal untuk mencelakakan nya.


"Sepertinya mereka sedang berpikir untuk berehat"


"Ya?" Callie yang sedang duduk memilah dokumen di meja kopi, mengangkat kepalanya kearah Maribel, "Anda baru saja mengatakan apa?"


Maribel menggeleng, tersenyum samar, "Bukan apa-apa"


Menjelang sore, seperti biasa Callie mengantar Maribel kembali ke kastil.


Tepat ketika Maribel masuk kedalam kastil. Sebuah suara dingin menyapa gendang telinganya.


"Ah, jadi seperti ini pelayan mu bekerja"


Langkah Maribel berhenti dan bola mata hitamnya membesar gugup saat melihat Sean— yang tak lain paman angkat Aldrich duduk di sofa dengan bersila kaki seraya melayangkan senyum dingin kearahnya.


"Pergi pagi dan kembali sore, bisa-bisanya kau tidak curiga?" Sean melirik kearah Aldrich yang duduk di sofa tunggal.


Aldrich memijit pelipisnya, "Dia berkata padaku kalau memiliki pekerjaan sampingan"


Bibir Sean berkedut, "Dan kau percaya begitu saja?"


Aldrich mengatupkan bibirnya.


"Ha, aku takut kenaifan ibumu telah menurun cukup banyak padamu"


Aldrich langsung mencekam Sean dengan tatapan membunuhnya, "Jangan bawa-bawa mama ku"


Sean melarikan pandangannya kearah Maribel, "Jadi nona cantik, bisa kau katakan pada kami apa maksud mu melakukan semua ini?"


Maribel meremas jari-jemarinya, menarik nafas dalam, tetap tenang dan bertanya, "Maaf, maksudnya melakukan semua ini?"


Sean tersenyum mencibir, "Kau sudah ketahuan. Jadi tidak perlu memperpanjang permainan peran mu lagi"


Bulu mata Maribel seketika bergetar. Lututnya terasa melemah dan seketika dia terjatuh.


"Maaf.." Maribel telah bertekuk lutut di lantai. Kepalanya merunduk penuh penyesalan dengan dua tangannya terkatup di depan dada, "Mohon jangan salah paham. Aku tidak bermaksud buruk. Aku melakukan ini...dan pura-pura menjadi pelayan..itu karena murni..aku..aku.." Mulutnya berucap cepat dan begitu saja menjadi gugup.


Sean menyipitkan matanya tajam, "Karena apa?"


Sean benar-benar sangat menakutkan Maribel. Dia merasa akan mati lemas dengan tatapan dinginnya yang mencekik, "Karena...a-aku..aku..."


Sean menajamkan tatapannya, menegaskan ketidaksabarannya.


Itu membuat kedua pundak Maribel berguncang hebat dan keringat dingin telah membasahi sekujur punggungnya.


"Karena..."


"Karena aku ingin menikahi tuan Aldrich"


Mata Sean terbuntang lebar dan Aldrich memutar kepalanya kearah Maribel dengan tatapan tak percaya.


"Alasan macam apa in—"


"Aku tidak berbohong" Potong Maribel. Dia melanjutkan dengan bibir bawah dan atasnya bergetar, "Aku telah jatuh hati padanya pertemuan kami saat di hutan— hari dimana dia menyelamatkan ku. Mungkin ini terdengar konyol bagi anda, tapi saya sungguh-sungguh telah jatuh cinta padanya sejak hari itu"


Takut-takut Maribel menatap Sean dan meneruskan, "Awalnya aku mencoba melupakannya begitu saja. Tapi seperti takdir, malam ketika aku akan celaka, aku telah melangkah masuk melewati pagar kastil ini untuk menyelamatkan diri dan bertemu dengannya keesokan harinya. Dia mengira aku adalah pelayan yang baru saja datang bekerja. Saat itu juga aku langsung terpikirkan..."


Maribel kali ini menoleh kearah Aldrich. Yang membeku diam dengan ekspresi tak terbaca, tapi mata coklatnya yang indah itu sedang menatap kearahnya, "Mungkin aku dapat menggunakan kesempatan itu untuk mencoba peruntungan ku akan mendapatkan cinta pertamaku. Menjadi pelayannya dan setelahnya..."


"Menjadi istrinya?" Sean terdengar cukup sarkastik.


"Inilah kenapa aku membenci manusia. Aku benci pikiran naif mereka yang membosankan seperti sampah"


Aldrich melempar kan tatapan tajamnya ke Sean, "Jangan keterlaluan"


"Maaf, aku lupa ibumu manusia"


Sean semakin terdengar menyebalkan di telinga Aldrich, "Kau bisa pergi"


Sean benar-benar kehabisan kata.


"Nyonya Diana"


Wanita empat puluhan keatas berjalan keluar dari persembunyiannya, "Ya tuan"


Maribel terkejut melihat kemunculan Diana.


"Ku pikir kau telah mendengar semuanya. Kau bisa pergi tinggal di apartemen pamanku untuk mengurus segala macam jenis perjanjian dengannya"


"Kau mengalihkan tugas mu padaku?"


"Tidak" Aldrich menggeleng dengan senyum dingin, "Aku meminta bantuan mu paman"


"..."


"Bagaimanapun, aku harus mengurus kekacauan ini" Aldrich melirik kearah Maribel dengan tatapan yang tak terdefinisi.


Biar begitu Maribel agak berguncang.


"Baik"


Sean bangun dan mengajak Diana pergi bersamanya. Sebelum itu, Diana sempat melihat kearah Maribel dengan tatapan agak mengasihaninya. Melihat mata hitam besar yang betapa murni dan indahnya. Dia langsung terpikirkan, 'Sungguh gadis yang malang. Dia terlalu naif menyikapi cinta pertamanya'


Diana menepuk pundak Maribel pelan, "Jaga dirimu baik-baik"


Bola mata hitam Maribel bergertar, berkaca-kaca saat perasaan merasa bersalahnya merebak, "M-maafkan kebohongan saya bu Diana.." Suaranya terdengar agak parau.


Diana tersenyum lembut, "Aku mengerti. Tidak perlu merasa begitu bersalah. Selesaikan urusan mu"


Seperti itu, Diana pergi segera menyusul Sean.


Dalam ruang tamu yang besar, sekarang Maribel telah tinggal seorang diri bersama...


Aldrich yang menatapnya datar tanpa kata.


......................