
Perusahaan yang dirintis ayahnya adalah sebuah perusahaan furnitur berkelas yang ada di kota J bernama Comfort yang telah melebarkan sayapnya hingga ke beberapa negara. Sepengetahuannya, produk mereka yang paling laris adalah perabotan rumah tangga yang menggunakan bahan dasar kayu alih-alih besi.
Callie menaikkan kacamatanya dan matanya fokus menatap ke layar tablet di tangannya, "Berdasarkan data kepuasan konsumen, kita mendapatkan banyak sekali ulasan buruk terutama di produk yang menggunakan bahan dasar kayu. Banyak dari mereka yang mengeluh akan produk kita yang ketahanannya tidak sebagus dulu. Jadi saya pikir keganjalan yang anda rasakan bukan tanpa sebab"
"Ketahanan yang tidak sebagus dulu?" Maribel menautkan sepasang alisnya, "Apakah seseorang telah mengubah bahan-bahan?"
Callie mengangkat sudut bibirnya ke atas, tersenyum menjawab, "Itu bukannya tidak mungkin"
Mata Maribel berkilat dingin dengan sangkaan nya tersebut, "Sepertinya kita harus pergi memeriksanya untuk mengetahuinya"
Callie memeluk tablet yang dipegangnya itu dan mengangguk penuh persetujuan akan apa yang dikatakan Maribel.
"Lalu apa agenda ku sekarang?"
"Saya berhasil mencuri informasi, kalau ada rapat selepas makan siang nanti"
"Haa, jadi kau mencurinya yaa"
"Mau bagaimana lagi Bu? Tak ada satu orangpun disini yang menganggap saya adalah sekretaris anda" Callie mengangkat bahunya tak berdaya.
Tatapan Maribel menjadi dingin, "Mereka tidak menganggap mu sama saja dengan tidak mengakui ku sebagai CEO perusahaan"
Callie sepahaman dengan Maribel. Bagaimanapun hari ini dia seperti tangan kanannya Maribel. Tapi orang-orang itu begitu berani mengabaikannya. Jelas mereka bertindak begitu karena menganggap Maribel seperti bukan apa-apa.
"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu yang buruk hari ini"
Untuk menyadarkan orang-orang itu, Maribel pikir dia perlu melakukannya.
Memasuki jam makan siang, Maribel hanya menyuruh Callie pergi seorang. Dia merasa tidak lapar hanya terus memindai laporan demi laporan terkait perusahaan dan mempelajari secara seksama.
Sebagai sekretaris yang pengertian, Callie tetap masuk membawanya beberapa bungkus roti dan satu cup espresso dingin. Dia hanya meletakkannya di meja kopi dan segera pergi meninggalkan ruang, enggan mengusik betapa seriusnya Maribel mempelajari hal-hal.
Tepat ketika jam istirahat makan siang telah habis, Callie masuk kedalam ruang Maribel mengingatkan CEO muda itu, "Bu, sudah saatnya rapat dimulai"
Maribel menutup dokumen dan bersiap pergi ke ruang rapat.
Kemunculan dirinya membuat orang-orang terheran-heran. Sedikit itu dapat diartikan, seperti mereka tidak mengira kemunculan Maribel di sana.
Breta yang duduk di bangku utama yang seharusnya menjadi milik CEO itu, ekspresi wajahnya berubah sedikit buruk melihat Maribel datang.
Biar begitu cepat-cepat dia memperbaiki ekspresinya dan tersenyum manis kepada keponakannya itu, "Sayang ku, bibi tidak mengira kau akan datang ke perusahaan hari ini, karena sejak pagi aku tidak melihat mu. Itu kenapa aku duduk disini untuk menggantikan mu"
Maribel sejujurnya merasa muak menerima sikap manis bibinya yang penuh kepalsuan itu. Tapi biar begitu dia tetap tersenyum lebar menjawab, "Ah, aku datang sedikit terlambat pagi ini dan telah mengurus sesuatu di ruang kerja ku. Mungkin itu kenapa kau tidak melihat ku bibi"
"Karena sekarang kau CEO perusahaan, kau tidak bisa memberi contoh yang buruk pada karyawan. Jadi datang lah lebih awal lain kali"
Maribel tetap mempertahankan senyum di bibirnya berkata, "Aku mengerti bibi, lain kali aku tidak akan terlambat jika bukan karena sesuatu yang mendesak"
"Itu bagus"
"Kalau begitu, bisakah anda bangun sekarang bibi?"
"Huh?"
"Itu aku akan duduk"
"Ah, baik" Biar merasa berat untuk bangun, Breta tak punya pilihan selain berdiri dan memberikan kursi tersebut kepada Maribel.
Rapat pun berjalan sebagaimana mestinya. Maribel duduk berwibawa di posisinya, menyimak setiap pembicaraan yang berlangsung selama rapat. Sesekali dia bahkan mengomentari beberapa hal dan tak ada yang membantah setiap masukan yang dia ajukan karena itu terbilang cukup masuk akal.
Tepat ketika rapat telah selesai. Maribel menahan orang-orang untuk tidak segera bubar.
Melipat kedua tangannya di atas meja, Maribel menatap setiap orang di meja rapat dengan tatapan serius nya yang sedikit memiliki sentuhan keangkuhan yang dingin.
"Aku baru saja selesai membaca laporan yang diberikan sekretaris ku semalam melalui surel" Ucap Maribel.
Orang-orang di meja rapat tampak menyimak dan Breta bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan dilakukan keponakannya itu.
"Catarina Tamara. Apa orangnya ada di sini?"
Wanita yang dipanggil oleh Maribel itu tersentak di tempat duduknya. Biar begitu dia melirik sekilas kearah Breta dan mendapatkan kepercayaan dirinya kembali untuk tetap tenang mengangkat tangan berkata, "Saya Bu"
Maribel memberinya tatapan mendalam, "Itu kamu"
Aura dingin yang menguar darinya itu, berhasil membuat beberapa orang di meja rapat merasa takut diam-diam. Tak terkecuali Catarina yang sedikit mulai menciut.
"Apa alasan mu menolak perintah sekretaris ku?"
Mulut Catarina setengah terbuka. Dia tidak tau harus menjawab apa.
"Dia meminta mu laporan hasil rapat kemarin agar aku dapat meninjau nya. Tapi apa alasan mu menolaknya?"
"I-tu.." Catarina tanpa sadar menoleh kearah Breta.
Mendapati itu, Breta langsung menatapnya tajam seolah-olah mengatakan, 'Jangan menyeret ku'.
"Jika kau tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal, maka aku tak akan sungkan memecat mu sekarang juga"
"Bagaimana bisa—" Refleksnya dia bersuara lantang.
Maribel tersenyum dingin, "Kenapa aku tidak bisa?"
Wajah Catarina menjadi pucat.
"Bagaimanapun aku tidak bisa memperkejakan karyawan yang tidak masuk akal seperti mu"
"..." Catarina benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Baik karena kau tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal atas kelakuan mu itu, mulai hari ini Catarina Tamara kau di pecat"
"Tapi Bu—"
"Semuanya sudah bisa bubar"
Eskpresi Breta menjadi jelek di tempat. Catarina ingin meminta bantuannya tapi wanita itu telah mengabaikannya.
Kembali ke ruangannya, Callie tersenyum senang kearah Maribel sambil memberinya dua jempol, "Kerja bagus Bu" Ucapnya senang, "Sekarang saya yakin, orang-orang di perusahaan tidak akan mengabaikan anda lagi dan mulai mengakui anda sebagai CEO yang akan memimpin perusahaan ini kedepannya"
Maribel hanya tersenyum simpul, "Karena ketua divisi perencanaan telah dipecat kau urus seseorang yang dapat menggantikannya. Kau bisa mengambil salah seorang dari tim yang kinerjanya baik, kepemimpinan bagus dan pastinya dapat dipercaya"
"Baik Bu, akan saya lakukan"
Tiba-tiba Maribel teringat sesuatu, "Ah, bagaimana bisa aku melupakan—"
"Melupakan apa Bu?" Tanya Callie bingung.
Maribel tidak menjawab. Dia bangun dan mencari kunci mobilnya dan berucap, "Maaf sepertinya aku harus pergi. Jika ada laporan yang membutuhkan peninjauan ku kirim saja melalui surel. Aku akan memeriksa nya nanti"