CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|45|. Berikan Kepada Kekasihmu



Aldrich sudah tiba di kediaman Mary yang tidak besar dan tidak pula kecil. Dia dijamu dengan sangat ramah di ruang tamunya yang hangat. Mary terlihat sudah cukup tua dan keriput kulitnya yang kendor terlihat jelas. Wanita itu tidak lagi begitu bertenaga seperti dulu karena faktor umur. Alih-alih tinggal bersama anak-anaknya yang sudah besar, dia memilih tinggal seorang diri sambil merajut untuk menutupi kesepiannya. Kemudian menanti hari-hari dimana cucu-cucunya akan datang sekali-kali.


"Aku baru saja merajut kemeja kecil untuk cucuku yang baru saja beberapa bulan" Mary mengangkat hasil rajutan nya yang masih separuh jadi, "Bagaimana? Apa terlihat bagus?"


Aldrich tersenyum sopan mengangguk, "Ya, juga terlihat hangat"


Bibir Mary tersenyum lebar, terlihat lega dengan tanggapannya, "Syukurlah" Dia meletakkan barang-barang rajutan nya di meja dan kepalanya mendongak ke arah Aldrich, "Tiba-tiba kau datang kemari, pasti ada hal penting yang kau butuhkan?"


Aldrich tersenyum kecil, "Tebakan anda cukup akurat"


Tawa renyah khas sekali wanita tua itu jatuh dan terdengar di ruang yang sepi.


"Katakan, apa kebutuhan mu tuan muda?"


"Itu..Aku ingin menanyakan sesuatu terkait pernikahan mama dan.." Mulut Aldrich bergerak begitu berat ketika menyebut kan.."Papa"


Mary tersenyum lembut, "Apa yang ingin kau ketahui?"


"Bagaimana upacara pernikahan mereka berlangsung?"


Pertanyaan itu membuat Mary terkenang dengan malam indah, menegangkan dan menyedihkan bersamaan. Malam di mana dia menjadi saksi seorang wanita yang dipaksa untuk menikah dengan seorang vampir karena suatu ambisi, "Sulit dikatakan..."


"..."


"Malam itu...bunga-bunga di taman belakang lagi mekar-mekarnya dan bermandi indah dengan sinar rembulan. Ibumu muncul begitu menawan dalam gaun putih pengantin yang membungkus halus tubuhnya yang ramping. Wajah mudanya yang cantik diliputi jejak ketakutan dan bibirnya yang merah penuh—tampak mengetat seperti menahan tangis. Aku tidak berdaya melakukan apapun untuknya yang telah memohon dan bahkan mencoba melarikan diri walau gagal. Bagaimanapun tugas ku adalah menyelesaikan upacara itu agar berjalan lancar"


Aldrich merasa masam dalam hatinya. Sekilas dia dapat membayangkan betapa takut dan tidak berdayanya sang ibu malam itu.


"Suasana yang cukup mencekam pun terjadi. Aku membawa nampan yang berisi pisau dan menggunakan itu, ayahmu menggores telapak tangan ibumu hingga berdarah dan tak lupa dia menggoreskan tangannya sendiri. Seperti itu telapak tangan mereka bertemu dalam genggaman erat dan darah hitam vampir telah bercampur dengan darah merah gelap ibumu yang manusia. Dengan bertemunya dua darah tersebut, mereka pun resmi menjadi sepasang suami-isteri. Sekilas, seperti itulah upacara pernikahan mereka berlangsung"


Aldrich tertegun, "Dengan bertemunya dua darah?"


Mary mengangguk, "Aku dengar begitu. Bangsa vampir menikah seperti itu. Dengan mengikat perjanjian darah"


Aldrich tergamam.


'Paman Sean tidak berbohong ternyata'


'Aku sungguh... telah melakukan kesalahan'


"Tuan muda, kenapa anda tiba-tiba menanyakan ini?"


Aldrich menggeleng, "Bukan apa-apa, aku hanya sedikit penasaran"


Mary tersenyum lembut dan meraih tangan Aldrich yang dingin menggenggamnya lembut, "Ini adalah takdir bagi ibumu bertemu dengan ayah mu. Walau awalnya tidak baik, tapi mereka telah saling mencintai sekarang. Jadi.. jangan terlalu membenci ayahmu"


"Apa masih ada hal lain yang ingin anda tanyakan?"


"Tidak ada lagi"


Mary tersenyum dan mengambil sebuah syal yang baru selesai di rajut nya semalam. Warnanya merah muda lembut seperti kelopak sakura, "Awalnya, ini ingin ku berikan pada cucu perempuan pertama ku yang sudah remaja, tapi aku lupa kalau dia tidak menyukai warna merah muda. Jadi..ambilah saja untuk mu"


"Tapi ini.."


"Kau dapat memberikan ini kepada kekasih mu"


"A-aku..."


"Pria tampan seperti anda, pasti sudah memiliki kekasih bukan?"


Aldrich tidak tau harus menjawab apa. Pertanyaan itu membuatnya teringat pada gadis manusia yang telah tanpa sengaja menjadi istrinya.


Mary tersenyum, "Ku harap..dia dapat menyukai rajutan ku" Mary meletakkan syal tersebut di telapak tangan Aldrich.


Membayangkan leher jenjang Maribel yang mulus, tertutup dengan lingkaran syal merah muda yang lembut, sekilas Aldrich dapat membayangkan betapa cantik dan menggemaskan nya dia terlihat.


"Dia pasti akan menyukainya"


"Baguslah" Mary tersenyum lega.


Di samping itu di perusahaan, Maribel baru saja membaca kilat sebuah novel yang entah bagaimana terdampar di atas meja kopi di ruangan nya.


Seluruh waktu makan siangnya habis dengan membolak-balik novel roman tersebut yang entah bagaimana terus membuatnya penasaran seperti apa akhirnya.


Tok..tok..


"Masuk"


Callie mendorong pintu dan masuk. Dia berjalan ke meja kerja Maribel dan meletakkan beberapa dokumen penting yang perlu tanda tangannya, "Anda dapat membacanya sekali lagi sebelum mendatangi dokumen-dokumen ini.."


"..."


"Bu Maribel?"


"..."


"Bu?"


Callie menoleh ke belakang dan matanya berkedip terkejut melihat Maribel yang tenggelam dengan novel ditangannya, "Anda membaca hal membosankan seperti itu?"