CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|48|. Sampai Jumpa Nanti Malam



Seperti itu, keesokan harinya Maribel dan Aldrich pergi mengurusi pernikahan mereka. Karena memenuhi persyaratan Aldrich yang meminta untuk menjadi suami rahasia, mereka pun resmi menikah tanpa mengadakan pesta apapun.


Setelah mendapatkan buku yang menunjukkan mereka adalah suami-istri yang sah secara hukum. Maribel mendekap erat buku nikahnya itu, terasa bagai mimpi karena pada akhirnya dia berhasil menjadi istri Aldrich— cinta pertamanya yang tak lain adalah seorang vampir.


"Sekarang kita akan kemana?" Maribel baru saja masuk kedalam mobil Aldrich dan duduk. Dia menoleh ke samping, melihat Aldrich yang siap menyalakan mesin mobil dan menyetir.


"Ya mau kemana lagi?" Aldrich menaikkan alisnya, memandang Maribel, " Tentu saja pulang"


Maribel tersenyum, menarik sabuk pengaman dan memasangnya, "Pulang ke kastil mu atau ke rumah ku?"


Aldrich menoleh kearah Maribel, "Kita pulang ke rumah masing-masing"


Dia pun mulai menyetir.


"Mana bisa begitu, kita kan sudah menjadi suami-istri. Sudah tentu harus tinggal serumah"


"Suami yang kau paksa menikah denganmu?" Pandangan Aldrich fokus tertuju ke depan, "Tch, tidak perlu hidup bersama. Pernikahan kita tidak lebih seperti formalitas"


Maribel mengerutkan bibirnya, tak suka dengan apa yang baru saja didengarnya, "Formalitas apa? Aku menikah dengan mu karena murni mencintaimu"


"Aku tidak" Aldrich menoleh dan mengirimkan tatapan tajamnya, "Aku tidak mencintaimu"


Hati Maribel terus berdenyut sakit. Pangkal hidungnya terus terasa asam.


"Kau akan"


Aldrich memandang lurus ke depan. Fokus pada jalanan yang ramai dengan kendaraan.


"Kau akan segera mencintaiku"


Aldrich berdecih, "Teruskan saja imajinasi mu. Semoga saja kau tidak akan menjadi gila"


Maribel tidak menjawab lagi. Seperti itu mereka saling diam hingga Aldrich sampai mengantarnya pulang ke kediamannya.


"Turun" Titahnya dingin.


Maribel tersenyum kecut. Dia melepas sabuk pengamannya dan menoleh pada Aldrich, "Aku akan mengemasi beberapa pakaian ku dan malam ini aku akan pergi ke kastil mu"


"Tidak perlu repot-repot. Aku akan lebih senang jika kita hidup terpisah"


Maribel meremas jari-jemarinya, walau sikap Aldrich cukup menyakitkannya, dia berusaha untuk bebal.


Maribel tersenyum, "Kau suka hitam atau merah?"


Aldrich mengerutkan keningnya, "Kenapa bertanya?"


"Jawab saja"


"Hitam"


"Ah, padahal aku suka yang merah" Maribel tampak menggigit daging pipi dalam bagian kanannya, terlihat agak menyayangkan, "Tidak apa. Hitam juga bagus"


Aldrich menautkan sepasang alisnya, sama sekali tidak mengerti kemana arah pembicaraan Maribel.


"Mawar atau ceri?" Tanya Maribel lagi.


Biarpun masih tidak mengerti kemana topik itu tertuju, Aldrich hanya berkata asal, "Apa tidak ada opsi ketiga?"


"..."


"Aku tidak suka keduanya" Katanya lagi.


"Cendana"


Maribel berpikir sebentar, "Em.. baiklah"


"Sebenarnya kau bertanya buat apa?"


Alih-alih menjawab, Maribel hanya tersenyum berkata, "Aku akan datang malam ini. Jika aku tidak muncul, ingat untuk mencari ku"


Maribel bangun dari duduknya, maju ke depan dan melabuhkan bibirnya ke pipi dingin Aldrich, "Sampai jumpa nanti malam—" Mulut Maribel berbisik di telinga Aldrich, "Suamiku.."


Aldrich sedikit terlonjak. Tangannya yang memegang setir itu, tanpa sadar menggenggam erat. Biar begitu, wajahnya tetap dibiarkan dingin tak beriak.


Maribel pun menolak pintu dan turun dari mobil.


Aldrich menyentuh pipinya, tepat di mana bibir kecil Maribel baru saja mendarat, "Lupakan!" Geleng nya cepat dan bergegas pergi meninggalkan kediaman gadis itu.


Maribel telah mengambil cuti satu hari untuk tidak ke perusahaan. Hanya Callie seorang yang mengetahui alasannya.


Malam harinya, dia telah membereskan beberapa pakaiannya ke dalam koper merah muda yang besar. Kebutuhan hariannya seperti sikat gigi dan produk perawatan kulit, juga sudah memenuhi tempat itu. Tak lupa yang terakhir...


"Hitam ya..." Dia mengambil sepotong lingerie hitam dari gantungan. Benda itu baru saja dibelinya kemarin malam setelah cukup senang dengan persetujuan Aldrich yang mau menikah dengannya.


Kemudian dia mengambil kotak paket yang baru saja tiba tadi sore. Yang tak lain berisi sebotol parfum Cendana merek berkelas.


Dia menyemprotkan nya sedikit ke leher, "Aldrich...aku akan menaklukkan hati mu" Bibir merah penuhnya tersenyum dengan percaya diri.


......................


Seorang pria baru saja masuk kedalam kediaman Maribel. Hanya menyerahkan tanda pengenal nya kepada security yang tak lain bekerja untuk Breta. Dia pun dengan mudah lolos kedalam kediaman yang sangat luas itu.


Dia diam-diam bergerak menuju mobil merah milik Maribel yang kebetulan diparkir didepan perkarangan samping air mancur. Dia meletakkan bawaan nya di tanah dan siapa melakukan sesuatu dengan mobil tersebut.


Setelah segalanya selesai, dia mengeluarkan ponselnya.


"Halo Bu Breta"


"..."


"Saya sudah melakukan seperti yang ibu katakan"


Bibirnya langsung tersenyum lebar mendapatkan notifikasi pesan yang muncul di layar.


Breta baru saja menstransfer uang puluhan juta untuknya.


"Sudah masuk" Panggilan di akhiri dan pria itu secepatnya pergi meninggalkan kediaman tanpa menyisakan jejak yang memicu kecurigaan apapun.


Malam itupun Maribel pergi keluar dengan mengemudikan mobil merah kesayangan, tanpa mengetahui hal buruk apa yang tengah menantinya.


Maribel menyalakan mesin, tak lupa dia mengirim pesan kepada Aldrich sebelum bergegas.


'Suamiku, aku dalam perjalanan ke kastil mu'


'Tunggu aku'


'Muach'


Dia tersenyum dan merasa greget sendiri dengan pesan yang baru saja dikiriminya. Melempar asal ponselnya ke atas dasbor, dia pun siap mengemudi kan mobilnya pergi menuju ke kastil Aldrich.