
"Sebelum menggoreng sesuatu, kau harus memastikan minyaknya panas terlebih dulu" Jelas Aldrich.
"Ah, jadi begitu" Maribel tampak manggut-manggut dengan tatapannya tertuju kearah wajan.
Aldrich melirik Maribel dengan sorot mata heran, "Kau ini..."
Maribel mengulum bibirnya, takut pria itu akan menanyakan sesuatu, cepat-cepat dia berucap, "Telurnya..." Jari telunjuknya tampak menunjuk ke wajan.
Aldrich langsung menoleh kearah wajan.
"Aku ingin setengah matang. Jadi jangan terlalu masak"
Aldrich mengangguk mengerti, "Garam"
Maribel pergi membuka bungkusan garam yang baru dibeli dan menyobeknya, "Ini"
Aldrich menabur sedikit garam ke atas telur dan setelah di rasa cukup, dia mematikan kompor.
Seperti itu telur mata sapi setengah mata tersaji di atas piring. Maribel menatapnya dengan mata berbinar-binar. Dia mengangkat kepalanya kearah Aldrich, "Tuan, saya tidak mengira vampir seperti anda bisa memasak"
Aldrich yang sedang mencuci tangannya di wastafel itu berbicara, "Sebenarnya aku tidak bisa. Hanya dulu ketika kecil, aku sering memperhatikan ibuku memasak, jadi aku sedikit tau cara melakukannya"
"Ohh.. jadi begitu" Maribel mengangkat piring, mencium aroma telur yang gurih. Hatinya berbunga-bunga penuh cinta mengingat itu dimasak langsung oleh pujaan hatinya.
"Ini.. apakah pertama kalinya anda memasak untuk gadis manusia?" Tanya Maribel.
Aldrich menutup kran air, mengambil handuk dan mengeringkan tangannya, "Ya"
Hati Maribel semakin bergetar bahagia.
'Jadi, aku adalah yang pertama mencicipi makanan buatannya'
Meskipun itu hanya telur mata sapi setengah matang, tetap saja Maribel tak dapat menepis rasa bahagia mengingat dia...
Adalah yang pertama.
"Aku akan pergi istirahat. Jangan lupa bereskan dapur setelah kau makan"
"Baik tuan"
Seperti itu, Aldrich pergi ke kamarnya untuk tidur dan Maribel makan sepiring telur mata sapi di ruang makan dengan kegembiraan di wajahnya. Tiap kali dia mengambil sepotong dan memasukkannya kedalam mulut. Dia mengunyahnya lama sambil merasakan kesungguhan Aldrich ketika memasak telur itu untuknya.
"Andai saja ini bukan makanan, pasti aku akan memuseumkan ini" Tuturnya, hatinya penuh rasa manis untuk Aldrich.
"Tidak masalah, setelah aku membuatnya menjadi suamiku. Pasti aku akan dapat merasakan air tangannya kapanpun aku mau" Membayangkan itu, bukan main sanubarinya menjerit dengan sesuatu yang tak terkatakan. Seakan gerombolan kupu-kupu berkepak-kepak keluar dari perutnya. Itu menggelitik dan menyenangkan.
......................
Pagi harinya, Maribel bangun awal. Dia memiliki jam biologis yang baik soal tidur dan bangun. Karena dia selalu terdidik seperti itu sejak dia kecil oleh ibunya.
Maribel tidak lupa dengan statusnya sekarang yang sedang menyamar sebagai pelayan. Karena itu dia segera mandi dan mengenakan baju kerja formal yang rapi.
Berdiri di depan cermin, dia memoles wajahnya dengan bedak dan pemerah bibir bewarna coral di bibir tipisnya. Kemudian dia mengikat rambut hitam panjangnya dengan gaya kuncir kuda dan menariknya tinggi ke atas. Berkat itu leher jenjangnya yang menawan terlihat jelas setiap kali di berjalan.
Sentuhan terakhir, adalah parfum. Dia mengambil botol kaca dan menyemprot nya ke leher, pergelangan tangan dan tubuhnya. Aroma segar floral pun bercampur baur dalam kesan feminim nya yang ceria.
Dia ingat pesan Aldrich untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Di dapur, Maribel mengambil botol darah dengan label angsa dari lemari gantung di dinding.
Dia mengambil ceret, menuangkan botol darah angsa kedalam nya dan memanaskannya di atas api kompor.
"Baguslah ini hanya soal memanaskan"
Jika harus menyiapkan sarapan seperti sepiring omelette atau semangkuk salad mungkin? Sudah pastinya dia harus mengambil takeout dari sebuah restoran alih-alih menyiapkannya sendiri yang hanya menghasilkan bencana.
Setelah dia rasa cukup, dia mematikan kompor.
Aldrich baru saja keluar dari kamar mandi. Karena dia berencana untuk jalan keluar, mencari-cari udara segar. Dia pun berganti menjadi pakaian yang rapi. Celana hitam dan kemeja navy polos berkerah tinggi. Tak lupa dia mengenakan mantel hitam sepaha untuk menutup tubuhnya lebih jauh.
Berjalan turun ke lantai bawah. Aldrich berjalan ke ruang makan. Saat itu matanya langsung dikejutkan dengan gerak-gerik seorang gadis dewasa yang sedang berkutat di meja makan.
Mengenakan pakaian formal dengan paduan atasan pink dan putih di bawah, dia terlihat menyegarkan seperti tulip kuncup di pegunungan.
Tangannya yang halus saat bergerak santai menata gelas dan ceret di meja, memperlihatkan bagaimana jari-jemarinya yang cantik dengan kuku yang lentik terawat.
Setiap kali dia bergerak atau berpindah, tampak juntaian rambut hitamnya akan bergoyang dari kanan ke kiri, samar-samar mengungkapkan leher rampingnya yang putih bersih mempesona.
Saat melihat profilnya dari samping, kecantikannya yang anggun dan lembut yang mengudara itu membuat Aldrich tercenung di tempatnya berdiri dengan sepasang mata tak berkedip.
Merasakan keberadaan seseorang dan hidungnya yang mencium aroma cendana menyegarkan pria, Maribel seketika menoleh.
"Tuak Aldrich" Sapanya. Senyum lembut yang membingkai wajahnya, membuatnya kian menawan bak sakura mekar di musim semi.
Aldrich berdeham. Dia tidak tau kenapa kecantikannya didepannya itu membuatnya terpesona. Padahal itu bukan pertama kalinya dia berpapasan dengan jenis keindahan seperti itu saat di Merland.
"Pagi" Ucapnya.
Berusaha untuk tidak terlihat canggung, Aldrich berjalan santai mendekati meja.
"Pagi tuan" Maribel menarik kursi dan mempersilahkan Aldrich duduk.
"Kau berpakaian rapi seperti itu, mau kemana?" Aldrich memperhatikan pakaian formal yang dikenakan Maribel. Karena dia tidak tau soal barang bermerek, tapi dilihat dari penampilannya sepertinya itu barang mahal.
"Ah, jadi begini tuan..." Maribel mengangkat ceret dan mengisi gelas kosong di depan Aldrich dengan darah angsa hangat, "Sebenarnya saya memiliki pekerjaan lain di samping pelayan"
Aldrich menautkan alisnya, "Apa?"
"Tuan, saya mohon jangan marah. Saya bekerja keras seperti ini karena membutuhkan banyak uang" Maribel menampilkan eskpresi sedih di wajahnya, berusaha cukup keras untuk membuat bola mata coklatnya terlihat berkaca-kaca.
"Tapi anda tak perlu khawatir, saya jamin biarpun saya bekerja separuh hari diluar. Urusan kastil tetap dapat saya tuntaskan dengan maksimal" Tuturnya. Dia menatap Aldrich penuh pengharapan dan keteguhan bersamaan, "Saya mohon, saya benar-benar memerlukan pekerjaan sampingan ini"
Aldrich mengepalkan tangannya, tidak tau harus bersikap bagaimana. Dia selalu menjadi pribadi yang sensitif soal ekonomi dan gadis ini... seperti memanfaatkan dengan baik kelemahannya itu.
"Kau membutuhkan banyak uang? Apa itu karena kau harus menghidupi keluarga mu?"
Maribel tidak berniat untuk berbohong dengan menciptakan keluarga palsu, untuk itu dia berkata, "Tidak. Saya seorang gadis sebatang kara yang bekerja keras untuk menghidupi diri saya sendiri"
Mungkin kalau soal itu Maribel tidak sepenuhnya berbohong.