CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|44|. Kau Harus Bertanggung Jawab



Maribel menarik nafas dan menghelanya pelan. Dia mengangkat surai rambut hitam panjangnya yang menutupi leher dan membawanya ke samping. Leher jenjangnya yang pun terungkap sempurna, "Kalau begitu lakukan"


Aldrich menatap Maribel dalam, "Kau tidak takut sakit?"


Maribel menggigit bibir bawahnya, "Apa akan sangat sakit sekali?"


Aldrich mengedik kan bahunya, "Entahlah"


"Kalau begitu, aku butuh pengalaman pertama untuk mengetahuinya" Maribel tersenyum kecil, "Karena ini adalah yang pertama, ku mohon lakukan dengan lembut"


Aldrich mengangguk. Walau sebenarnya dia ingin menggunakan cara lain. Seperti menggigit jari gadis itu dan menghisap darahnya dari sana. Tapi melihat mulus nya leher jenjang itu, godaan itu begitu kuat seperti manusia yang baru saja melihat sepotong paha ayam hangat yang menggunggah.


Aldrich tidak ingin melewatkan nya.


Aldrich melepas sabuk pengamannya dan bangun untuk condong kearah Maribel. Dia memiringkan kepalanya tepat di hadapan leher putih Maribel yang bening dan membuka mulutnya siap menggigit.


Refleks Maribel memejamkan matanya dan kedua tangannya terkepal erat mendapati gerigi tajam mulai menancap secara perlahan ke dalam dagingnya, "A-aku tidak akan menjadi vampir setelah ini kan?"


Bagaimanapun di dunia perfilman vampir, Maribel pernah mendapati itu. Gadis manusia yang tewas karena gigitan vampir dan hidup kembali menjadi vampir.


"Tidak"


Kret!


"Ahh..."


Darah segar mengalir masuk kedalam mulut Aldrich. Itu sangat manis, penuh arum manis anggur cotton candy. Mungkin di antara darah yang pernah diminumnya, darah gadis itu lah yang benar-benar sangat sesuai dengan seleranya.


Mulut Aldrich bergerak gigih untuk menyedot kemanisan yang tiada tara itu dan merasakan betapa kental dan juicy nya itu mengalir hingga ke kerongkongannya.


Maribel spontan melenguh. Dia menggigit keras bibir bawahnya agar hal tersebut tidak lolos keluar dari mulutnya.


Aldrich meneguk dan meneguk. Setiap sesapan nya membuat dia menjadi candu dan menggila. Mata coklatnya pun sepintas memerah dan menyala. Saat itu insting vampir yang bangkit dan tanpa sadar taringnya kian mencuat masuk menembus daging lembut gadis itu.


"Arghh.." Terang saja Maribel melolong kesakitan.


"Ah, sakit.."


"Uhh..s-sakit" Maribel sadar gigitan lembut telah berubah menjadi ganas. Mulut dingin itu bergerak menjadi liar dan seperti akan menggerogoti lehernya.


Maribel panik.


"Aldrich ku mohon jangan menggigit terlalu keras"


Aldrich mengabaikan nya. Nafsu terliar dalam dirinya telah membuat nya menjadi membabi buta. Dia terus menggigit dan menghisap, tanpa memedulikan lolongan Maribel yang kesakitan.


Maribel tak dapat menahannya lagi. Begitu saja dia menunduk kan kepalanya dan menggigit keras pundak tegap Aldrich.


Saat itu Aldrich memperoleh akal sehatnya kembali. Matanya yang memerah bak darah itu telah kembali normal ke warna aslinya. Dia menarik taringnya dan berhenti menggigit leher Maribel.


"S-sakit.." Bibir Maribel bergetar saat matanya mengeluh kepada Aldrich, "Padahal awalnya kau melakukan dengan lembut, tapi kenapa tiba-tiba menjadi begitu ganas.." Begitu saja Maribel terisak. Dia sungguh tak dapat menahan rasa sakit yang masih berdenyut di lehernya yang telah meninggalkan dua lubang dalam karena gigitan vampir itu.


Air matanya bercucuran, bersimbah di wajah cantiknya yang memucat. Perasaan Aldrich menjadi kelu dengan pemandangan itu, "Maaf.." Punggung jari telunjuknya dengan lembut mengusap air mata yang berlinang di pipi gadis itu, "Sesaat aku di luar kendali karena insting vampir ku.."


"Kau sungguh meminta maaf?" Suara Maribel parau dan isak.


"En"


"Kalau begitu kau harus bertanggung jawab padaku" Maribel tidak akan melepaskan momen itu begitu saja.


Aldrich menatap mata hitam Maribel, dan diam.


"Aku ingin kau mengantarkan aku ke perusahaan dan menjemput ku juga"


"..."


"Aku tidak cukup sanggup mengemudi dengan kondisi seperti ini"


Melihat mata basahnya yang berkaca-kaca dan bibirnya yang pasi. Aldrich yang diliputi kesalahan itu, pada akhirnya mengangguk setuju, "En"


Maribel tersenyum senang dalam hatinya, "Aku akan pergi bersiap-siap. Kau ingin masuk?"


"Tidak, aku di sini saja"


Maribel bergegas masuk kedalam dan mandi. Setelah mengenakan pakaian formal nya, tak lupa dia menutupi bekas gigitan Aldrich dengan concealer dan cushion.


Seperti itu dia berangkat ke perusahaan dengan di antar oleh Aldrich.


"Di mana bekasnya?" Tanya Aldrich, menatap leher gadis itu yang sudah mulus seperti sedia kala.


Mobilnya sudah menepi tepat di depan gedung perusahaan Maribel yang besar.


"Aku sudah menutupinya dengan make up"


"Oh" Aldrich hanya mengangguk.


Maribel mengambil tas putihnya dan keluar.


Sebelum pergi, Aldrich menatap dari jendela mobilnya, melihat betapa besar dan tingginya gedung yang baru saja di masuki Maribel.


"Ah, jadi istri ku pemilik gedung besar ini"


Tiba-tiba dia kembali dengan niat awalnya, "Ah, madam Mary.."


Seperti itu, dia menyalakan mesin dan membawa mobilnya secepatnya ke kediaman kepala pelayan sebelumnya, Mary.


......................