CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|53|. Lagipula Kau Suamiku Sekarang



"Ouch" Terdengar suara Maribel mengaduh sakit.


Sore harinya ketika sedang mandi, Maribel menggunakan spon begitu kuat ketika menggosok tubuhnya dan tanpa sengaja telah membuka luka di telapak tangannya kembali basah. Itu kenapa dia mengaduh sakit.


Berdiri di bawah shower, Maribel segera membilas bersih tubuhnya. Sesudahnya dia membungkus tubuhnya dengan handuk.


Keluar dari kamar mandi, Maribel menarik pita rambut dan menggerai rambutnya. Mengambil sejumput rambut hitam panjangnya itu dia mencium, "Em...bau apek"


Mengangkat pandangannya ke depan, dia melihat Aldrich yang tengah duduk santai di atas sofa dengan buku ditangannya. Dia terlihat serius dengan bacaannya. Tampak sinar matahari sore jatuh begitu indah di atas rambut jagung nya yang tersisir rapi.


Maribel tersenyum memandangi ketampanan didepannya itu.


'Ah, akhirnya...pria tampan itu menjadi suamiku juga'


Maribel berlari dengan kaki basahnya dan handuk ditubuhnya, menghampiri Aldrich. Tapi kakinya yang licin, tanpa sengaja tergelincir dan...


"Aaa... Aldrich"


Hup!


Maribel mendarat dan jatuh terduduk tepat di atas pangkuan Aldrich. Buku ditangan Aldrich sudah jatuh ke lantai. Matanya berkedip terkejut melihat Maribel yang hanya terbungkus handuk itu telah jatuh dengan begitu intim ke atas tubuhnya.


Maribel tersenyum kecil, "Maaf" Tangannya menekan lembut pundak Aldrich, mencoba untuk bangun. Tapi...


"Sebentar" Spontan Aldrich memegang lilitan handuk putih di tubuh Maribel ketika mendapati itu akan jatuh.


"Huh?" Bulu mata Maribel bergetar gugup, mendapati di mana tangan Aldrich mendarat. Itu di handuk tepat di bagian depan dadanya.


Seketika wajah cantik Maribel memerah malu.


"Ah, jangan salah paham" Aldrich menarik tangannya, tapi ketika melihat handuk itu sekali lagi akan jatuh, cepat-cepat dia memegangnya lagi, "Itu..ini hampir jatuh. Jadi aku.."


Maribel mengulum bibirnya rapat, mencoba menepis kegugupan. Biar begitu, hawa panas telah menjalar hingga ke daun telinganya, "Tidak apa-apa" Katanya, mengulum senyum malu-malu di bibir, "Lagipula kau suamiku sekarang, jadi..kau bahkan boleh melakukan lebih dari itu"


Deg!


Jantung Aldrich seperti baru saja jatuh ke perut. Dia tidak dapat menepis fakta bahwa tubuhnya sedikit bereaksi dengan perkataan wanita itu.


"Ini.. cepat pegang lah!"


Maribel pun mengambil alih dan memasukkan sepotong kain handuk itu kedalam dadanya untuk memperkuat lilitan handuk ditubuhnya.


Pergerakan tangan Maribel itu yang sedang mempererat handuknya, begitu saja membuat Aldrich tanpa sadar menelan saliva nya. Bola matanya bahkan sempat bergetar memandangi bagaimana lekuk indah tulang selangka wanita itu yang telanjang hingga pundak kecilnya yang mulus.


Di tambah dengan aroma sabun Cendana miliknya yang menguar dengan manis dari tubuh feminim nya. Begitu saja gejolak terdalam dari dirinya bangkit.


"Cepat pindah" Suara Aldrich jatuh begitu berat, seperti tenggorokannya sedang menahan sesuatu.


Melihat bagaimana wajah tampan itu mengetat, Maribel bertanya dengan polos, "Kau...kenapa?"


Aldrich tidak dapat menahannya lagi, dia langsung mengangkat pinggang ramping Maribel dan mendudukkannya di sebelahnya. Lalu dia bangun berdiri.


Aldrich meraup wajahnya sambil berusaha keras menekan gejolak yang tengah meradang, "Bukan"


"Lalu kenapa tiba-tiba kau..."


Aldrich membungkuk, mengambil bukunya yang jatuh di lantai, "Karena seperti inilah pria normal bereaksi"


Tubuhnya tegap kembali dan menatap Maribel tanpa ekspresi khusus, "Jadi tidak perlu dipikirkan"


"Oh.." Maribel tergamam. Dia tidak mengerti tapi tidak bertanya lagi.


Tepat ketika melihat Aldrich akan pergi. Tangannya dengan cepat meraih lengan baju pria itu, "Aldrich"


Aldrich menghentikan langkahnya dan berbalik, "Kenapa?"


"Itu..aku ingin meminta bantuan mu"


Aldrich menaikkan salah satu alisnya, "Bantuan apa?"


"Itu.." Maribel terlihat malu mengatakannya, "Bisa tidak kau mengkeramasi rambutku?"


"Ya?"


"Luka di telapak tangan ku basah lagi. Pasti akan pedih jika aku menggunakan tangan ku. Itu kenapa aku meminta bantuan mu"


"Kalau begitu tidak perlu keramas. Tunggu saja sampai luka mu mengeri—"


"Rambut ku sudah sangat lepek dan bau. Aku tak tahan" Maribel mengangkat sejumput rambutnya dan menunjukkan ekspresi tak tertahan ketika menciumnya.


"Lagi pula aku istri mu sekarang. Sudah seharusnya kau merawat ku yang sedang terluka ini"


"..." Aldrich menatap Maribel diam.


"Kau tidak mau ya?" Maribel terlihat sedih, "Ha, aku tau kau adalah vampir. Tapi apa para vampir memang memperlakukan istri mereka sedingin ini? Tidak mau merawat istri. Huft..bangsa kalian buruk sekali" Wajah cantik itu sudah tertekuk menatap lantai. Terlihat kecewa dan murung.


Aldrich menyugar rambutnya dan menghela nafas, "Baik"


Maribel terus mengangkat kepalanya.


"Aku bantu kau keramas"


Kedua sudut bibir Maribel langsung tertarik dengan senyuman, "Serius?"


"Cepatlah.." Aldrich sudah memutar langkahnya, siap menuju ke kamar mandi, "Sebelum aku berubah pikiran"


Seperti itu cepat-cepat Maribel bangun dan mengejar langkah Aldrich yang sudah masuk kedalam kamar mandi.


Saat itu bukan main hatinya menjerit kesenangan karena berhasil membujuk Aldrich untuk membantunya keramas.