
"Soal janji itu, paman bohong kan?"
Sean menautkan alisnya, "Bohong bagaimana?"
"Maksudku, setiap janji yang keluar dari mulut ku pada gadis itu, tidak akan menjadi janji mati, selama aku tidak bermaksud untuk berjanji mati"
"Kalian sudah menikah Aldrich. Sistematika nya akan berbeda"
"Tidak berbeda, itu sama. Aku pernah melihat pria sial*n itu dulu melakukan janji mati pada mama"
"Woah, kau masih memanggil ayahmu pria sial*n? Haa.. hatinya pasti akan sakit mendengar ini. Baiklah, anggap saja hal itu memang tidak benar karena aku ingin sedikit menakuti mu. Tapi soal kau yang telah tanpa sengaja memperistri gadis manusia itu...aku sama sekali tidak berbohong"
Aldrich tiba-tiba bangun, "Aku akan memastikannya sendiri"
"Silahkan"
Seperti itu, Aldrich pergi meninggalkan ruang dan berniat pergi meninggalkan bar.
Setelah memastikan Maribel benar-benar tak sadarkan diri, Griffin mengalungkan tangan Maribel ke lehernya, menekan punggung belakangnya dan dengan sigap mengangkatnya.
Griffin pun bergegas membawa Maribel keluar dari bar.
Aldrich baru saja keluar dari lift. Tatapannya yang agak lesu lemas itu tanpa sengaja bertemu dengan seorang pria yang menggendong seorang gadis dengan gaun merah pendek. Membuat betis mulus putihnya yang sedikit terpapar, terungkap. Itu langsung mencuri perhatian Aldrich. Bukan karena betapa mulus nya kulit gadis itu.
Tapi...
Itu karena dia mengenali dengan sangat jelas siapa kecantikan itu.
"Tunggu" Aldrich berlari cepat dan menahan pundak pria itu.
Griffin mengehentikan langkahnya dan menoleh kearah seseorang yang baru saja menghentikannya, "Maaf, ada apa ya?"
Griffin tidak mengenali Aldrich.
Begitupun Aldrich yang tidak mengenalinya.
"Mau kau bawa kemana gadis ini?"
Mata Griffin berkedip heran, "Ku pikir itu bukan urusanmu"
Bibir dingin Aldrich melekuk tajam, "Kenapa itu bukan urusanku?"
Griffin tersenyum dengan sorot mata merasa muak dengan orang asing didepannya itu yang datang-datang langsung ikut campur.
"Dia pacar ku. Baru saja tertidur, jadi aku mau membawanya pulang"
"..."
"Jadi tolong tuan sok ikut campur, anda bisa minggir" Griffin menarik bahunya yang di pegang Aldrich dan kembali berjalan maju ke depan.
Tapi betapa menyebalkan nya.
Sekali lagi Aldrich menahan pundaknya, menahannya untuk berhenti.
Griffin membuang nafas kasar, "Haa, kau—" Dia baru saja akan mengumpat hanya tenggorokannya langsung tercekat ketika mendengar Aldrich berbicara.
"Dia istriku, bagaimana bisa menjadi pacar mu?"
Deg!
Mata hitam Aldrich yang berkilat dingin itu menatap lurus ke dasar mata Griffin, "Kau baru saja berbohong. Kau pasti memiliki niat buruk pada istriku bukan?"
"Bagaimana dia bisa menjadi istri mu? Itu kau yang berbohong. Wanita ini jelas-jelas datang ke kencan buta ku karena masih lajang"
"Ah, jadi kencan buta. Itu berarti dia belum menjadi pacarmu. Bukannya ini adalah kali pertama kalian bertemu hum?"
Griffin kehabisan kata.
"Haa, jelas sekali kau berbohong. Tapi masih saja mengelak" Bibir dingin Aldrich meringkuk dengan senyum mengejek.
Mata Griffin membesar dalam kemarahan, "Lalu apa bedanya dengan mu? Datang-datang mengaku sebagai suaminya?"
Aldrich tidak tau kenapa. Matanya yang setiap kali menyoroti lengan pria itu yang memeluk kecantikan itu dalam gendongannya. Aldrich merasa hatinya mendingin.
Aldrich tidak menjawab. Tangannya diam-diam bergerak membuat kepulan api kecil dan melemparkannya tepat mengenai sepatu kulit pria itu.
Mencium bau asap, Griffin refleks melirik kebawah, "A-pi..?"
Griffin spontan berteriak, mencak-mencak mencoba memadamkan api kecil yang entah datang dari mana— muncul begitu saja di sol sepatunya.
Memanfaatkan momen itu, Aldrich segera merebut kecantikan itu ke dalam dekapannya.
Kecantikan yang kata pamannya, telah tanpa sengaja dia nikahi.
Sebelum pergi, Aldrich menepuk pundak Griffin yang masih sibuk memadamkan api di sepatunya itu dan mengatakan, "Ingat ini...aku adalah suami rahasianya"
Aldrich mengedipkan matanya kepada Griffin dan segera pergi membawa Maribel.
"Sial!" Umpat Griffin. Setelah menendang sepatunya ke dinding, dia akhirnya mendapati api di sol sepatunya telah padam dan melihat separuh depannya yang sudah hangus. Dia bersyukur karena kakinya tidak terbakar.
"Aneh sekali, sebenarnya dari mana api ini berasal?"
Tiba-tiba notifikasi pesan muncul di ponselnya. Itu tak lain dari...
'Bagaimana?'
'Apa kau berhasil?'
Membaca pesan itu, Griffin menghela nafas berat.
'Seorang pria mengambilnya'
'Katanya dia adalah suaminya'
'Jadi, keponakan mu sudah menikah?'
Breta yang malam itu masih selonjoran di sofa, membaca pesan tersebut, langsung terperanjat dari posisi baring nya di lengan sofa.
Kemudian pesan lainnya muncul.
'Maaf sekali, jika benar keponakan mu ternyata sudah menikah'
'Maka kita tidak perlu berurusan lagi'
Breta langsung mengetikkan balasan.
'Pria itu jelas orang acak yang sedang mengambil kesempatan'
'Kenapa kau begitu saja melepasnya?'
'Ingat ini, keponakan ku masih lajang. Dia belum menikah'
Membaca balasan itu, Griffin tersenyum puas.
'Aku tau'
Breta langsung membalas dengan perasaan geram.
'Jika tau kenapa kau membiarkan nya?'
Balasan dari Griffin pun muncul.
'Pria ini agak sulit'
'Lagi pula, tidak perlu terburu-buru'
'Masih ada hari esok'
Breta melempar ponselnya ke ujung sofa, merasa sangat kesal, "Sial"
Lagi-lagi, rencananya berantakan.
......................