CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|47|. Kewarasannya Habis Karena Menggilainya



Aldrich membuka matanya dan mendapati dirinya telah duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangannya terikat kebelakang. Mulutnya terkunci rapat dengan lakban hitam dan hanya kedua kakinya yang bebas bergerak.


"Kau sudah bangun?"


Suara acuh tak acuh seorang wanita, membuat Aldrich mengalihkan pandangannya pada objek yang baru saja berjalan masuk kedalam ruang tempatnya di sekap.


Maribel?


Aldrich mengerutkan keningnya tak mengerti. Akan apa yang terjadi dan kenapa dia bisa disekap?


Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dia menduga itu adalah gudang kosong melihat debu dan sarang laba-laba yang memenuhi tempat itu.


Maribel berjalan mendekat. Langkahnya terlihat hebat dengan baju dalam putih dengan luaran jas merah menyala yang dipadu rok hitam selutut. Setiap langkah kakinya terdengar mantap dan berani.


Berdiri di hadapan Aldrich, jemari telunjuk Maribel yang lentik itu datang mengangkat dagu Aldrich, "Hai.." Bibirnya menekuk dalam senyuman.


Mata Aldrich menyipit tajam. Dia ingin mengatakan sesuatu, hanya mulutnya yang di lakban itu, membuatnya tak dapat melakukannya.


"Maaf sekali harus melakukan ini" Jari-jemari lentik Maribel menari lembut, mengelus rahang keras Aldrich.


Tatapan Aldrich mendingin, lurus di hantarkan pada Maribel.


"Aku akan terus menyekap mu seperti ini, sebelum kau.." Maribel membungkuk dan bibir merahnya yang penuh berbisik lembut di telinga Aldrich, "Setuju untuk menikah dengan ku"


Mata Aldrich menjeling lebar. Dia tau gadis itu sekarang adalah istrinya. Tapi dia tidak ingin menikah secara manusia dengannya. Karena dia masih memikirkan cara bagaimana menceraikan wanita itu tanpa harus terlibat hukum negri Merland.


Alhasil dia pun memberontak dan mukanya memerah oleh amarah.


Maribel hanya tersenyum halus dan menonton.


Tindakannya itu membuat Aldrich merasa berang. Dia pun siap mengamuk dan meronta. Bahkan berpikir untuk mengeluarkan bola apinya untuk membakar tali yang mengikatnya, tapi sebelum dia dapat melakukan itu...


"Kau hanya punya dua pilihan. Menikah dengan ku atau mati"


Aldrich mengangkat kepalanya dan terkejut melihat sebuah moncong pistol sudah di arahkan tepat di pelipis kirinya dan tangan wanita itu yang siap menarik pelatuk.


Saat itu Aldrich merasa begitu marah dengan Maribel. Gadis yang sudah berapa kali dia selamat kan itu, bisa-bisanya melakukan tindakan keji seperti itu hanya karena obsesi gilanya.


"Jadi, bagaimana jawaban mu?" Maribel menarik lakban yang menutup mulut Aldrich dengan sekali tarikan.


Sekilas Aldrich merasakan sekitaran mulutnya yang terasa perih karena lakban yang baru saja di tarik itu.


"Apa seperti ini balasan mu..setekah kebaikan yang ku lakukan?"


"Aku hanya ingin memiliki mu. Apa itu salah?" Maribel mengelus pipi dingin Aldrich lembut.


Aldrich langsung menjauhkan wajahnya dari jangkauan Maribel, "Apa yang membuat mu terobsesi menikah dengan ku? Apa karena ketampanan?"


Maribel diam.


"Jika kau memang sangat tergila-gila dengan ketampanan, aku dapat mencarikan satu untukmu. Jadi, hentikan kegilaan mu ini" Suara Aldrich terdengar cukup marah.


Maribel merengut kan bibirnya, "Aku hanya menginginkan mu"


"..."


"Tak ada pria di luar sana yang semurni dirimu"


Sifat dingin Aldrich dan acuh tak acuhnya, serta kebaikan nuraninya yang menyelubungi nya. Maribel dapat merasakannya dengan jelas.


Di sisi lain, Aldrich tidak tau apakah harus tertawa atau menangis dengan hal konyol yang baru saja dikatakan gadis itu. 'Murni?'


"Dan hanya kau yang menurut ku layak"


Sepasang alis Aldrich bertaut, "Apa yang membuat mu berpikir bahwa aku cukup layak untukmu?"


"Karena kau menolak menikah dengan ku"


"Mungkin ada banyak pria diluar sana yang akan bersedia menikah dengan ku. Tapi aku tidak tau.. apakah mereka benar-benar menginginkan menikah dengan ku atau barangkali karena motif tersembunyi"


"..."


"Aldrich, aku telah hidup menjadi gadis polos bertahun-tahun lamanya. Aku tidak begitu mengerti bagaimana dunia ini bekerja. Hitam putih..aku tidak bisa dengan mudah mendeteksinya"


Maribel ingat terakhir kali dia nyaris hampir menjadi korban kebusukan Griffin kalau saja malam itu Aldrich tidak datang menolongnya.


"Jadi, aku tidak mau mengambil resiko dengan menikahi pria mana-mana pun itu. Aku.. sungguh tidak mau melakukannya"


"..."


"Maaf, aku harus mengancam mu seperti ini. Tapi bisakah kau menikah dengan ku?"


"Dengan perbedaan di antara kita?"


"Itu bukan masalah"


"Bukan masalah katamu?" Sepertinya Aldrich mengerti sekarang. Gadis itu.. benar-benar telah menghabiskan separuh hidupnya dalam pemikiran naif dan polos nya yang sangat tak tertolong itu.


"Sebelum kau menyesali perbuatan mu, cepat akhiri ini. Lepas. Kan. Aku." Katanya, penuh penekanan.


"Kau dapat memanfaatkan aku"


"Apa?" Aldrich menaikkan salah satu alisnya.


"Setelah menikah nanti, kau dapat mengkonsumsi darah ku sebagai asupan sehari-hari mu. Bukannya katamu kau alergi darah hewani?"


"Maribel di mana kewarasan mu?"


"Habis"


"Hah?"


"Kewarasan ku sudah habis karena terlalu menggilai mu Aldrich"


Seketika Aldrich tergamam.


"Jadi jika kau masih terus menolak, aku benar-benar akan melakukan—" Maribel mulai bersiap dengan pistol ditangannya. Menarik pelatuk dan...


Punggung Aldrich langsung dilapisi keringat dingin. Biarpun vampir, bagaimana jika dia benar-benar akan mati dengan tembakan itu?


"Baik"


"Kau—"


"Aku bersedia menikah dengan mu"


Senyum Maribel seketika merekah ruah.


"Tapi dengan syarat..."


"Apa?"


"Jadikan aku suami rahasia mu"


......................


Maaf sekali karena part ini ada perubahan yang sangat pesat, tidak sepenuhnya mengikuti alur cuplikan yang saya buat di chapter pengumuman di VSB.


Semoga kedepannya alur cerita ini tidak mengecewakan kalian dan saya akan berusaha untuk membuat cerita ini semenarik mungkin. Walau saya rasa, sepertinya romansa yang saya bawakan cukup kurang, tapi saya akan usahakan yang terbaik.


Terimakasih atas segala dukungan dan bagi kalian yang masih setia mengikuti kisah ini💕