
"Ya?"
"Ini sudah mau pukul sembilan malam lewat. Kau bisa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam mu sendiri"
"Ah, baik" Maribel mengambil nampan dan pergi ke dapur.
Di siang hari dia hanya makan roti sebagai pengganjal perut, karena itu meskipun Aldrich tidak menyuruhnya, dia akan tetap pergi karena merasa lapar. Mengeluarkan ponselnya, dia berniat untuk mengambil delivery makanan.
Tapi malangnya, ponselnya kehabisan daya.
"Haa.." Seharian ini dia telah sibuk bekerja sampai lupa mengisi daya ponselnya.
Mengelus perutnya yang keroncongan, dia menatap sekeliling dapur, "Haruskah aku pergi memasak?"
Di kediaman, dia memiliki pelayan yang menyiapkan makanan untuknya. Saat merantau di luar negri, dia hanya akan memesan makanan setiap waktu atau pergi ke restauran terdekat untuk mengisi perutnya yang intinya, dia tidak pernah memiliki pengalaman apapun soal memasak.
Pergi membuka pintu kulkas, Maribel menatap isi dalamnya yang sudah penuh dengan sayuran, memikirkan apa yang kira-kira paling mudah di olah. Hingga ketika matanya melihat telur, senyumnya seketika terbit, "Ku pikir telur mata sapi mudah dibuat"
Dia mengambil dua butir telur dari kulkas dan meletakkannya di meja samping kompor. Mengambil wajan yang tergantung di dinding, dia meletakkannya di atas kompor. Menyalakan api, Maribel langsung menuangkan minyak ke atasnya sampai dia rasa cukup.
Hanya Maribel tidak menyadarinya sama sekali. Yang dikiranya cukup, sebenarnya hampir memenuhi wajan.
Dia mengambil satu butir telur, mengetuk nya pelan dengan spatula dan langsung menuangkan isinya ke atas wajan yang berisi minyak. Telur pun jatuh tenggelam di dalam minyak yang sangat banyak.
Maribel menonton telur yang tenggelam di minyak bening, menantinya yang belum juga menunjukkan proses kematangan.
Beberapa menit menanti, dia tidak melihat tanda-tanda minyak yang menunjukkan proses penggorengan telur. Dia hanya melihat kondisi minyak yang menampilkan titik-titik kecil didalamnya hingga tak lama setelah itu, pinggiran putih telur mulai bergerak-gerak.
"Kenapa lama sekali?" Rengut nya. Dia menggosok perutnya yang sudah sangat lapar.
Ketika dia mendengar bunyi meletup-letup kecil, menampilkan minyak yang mulai panas. Maribel langsung refleks menjauh karena takut terkena percikannya.
Bunyi krenyes minyak yang mulai menggoreng telur pun terdengar. Maribel tidak berani mendekati kompor. Dia meletakkan spatula di samping kompor dan menunggu telur matang dengan bersandar di atas kulkas.
Kebetulan saat itu Aldrich pergi memasuki dapur, berbaik hati membawa botol dan gelas ke tempat cucian piring.
"Kau sedang memasak apa?" Tanya Aldrich. Hidungnya samar-samar mencium aroma minyak goreng yang mengudara.
"Telur mata sapi" Jawab Maribel. Sikapnya terlihat santai, melipat kedua tangannya di depan dada seraya menunggu.
"Kenapa kau berdiri di sini? Tidak pergi melihat wajan?"
"Tidak, aku takut terkena minyak"
Aldrich mengerutkan keningnya bingung, "Lalu bagaimana kau tau itu sudah matang atau tidak?"
Maribel menarik kedua sudut bibirnya tersenyum menjawab, "Kira-kira saja. Jika saya pikir itu sudah matang, saya akan langsung mematikan apinya"
Aldrich ter-pelongo sejenak.
Meskipun tidak pernah menyentuh dapur, tapi ketika dia kecil dulu, dia sering menonton ibunya memasak. Ibunya akan menunggu di depan kompor sambil mengaduk wajan penggorengan dengan spatula memastikan hal yang di gorengnya matang merata, begitupun dengan panci sup, ibunya akan memeriksa sesekali sambil mengaduknya dengan sudip memastikan matang atau tidaknya.
Tapi gadis ini...
"Apa kau memasak selalu dengan cara seperti ini?"
Bagaimana harus menjawabnya? Itu adalah kali pertama dia menyentuh dapur. Maribel tersenyum kecil, "En"
"Bagaimana kau memperkirakan matang atau tidaknya tanpa memeriksa wajan?"
Aldrich berjalan mendekati kompor. Matanya langsung membelalak kaget melihat minyak yang begitu banyak memenuhi wajan dan telur yang tenggelam di dalamnya tampak berusaha keras naik ke permukaan.
"Apa kau pernah memasak sebelumnya?" Aldrich berbalik, menoleh kearah Maribel yang berdiri bersandar di dekat kulkas.
Maribel pikir, tidak ada gunanya berbohong. Pria itu pasti sudah menemukan kesalahannya itu, kenapa berkata begitu.
Menggigit bibirnya, Maribel menggeleng dengan senyum menyedihkannya, "Belum"
Aldrich tampak menghela nafas. Sungguh dia bertanya-tanya dari mana Sean mendapatkan pelayan yang bahkan cara memasak telur saja tidak tau, "Jadi kau berbohong sebelumnya"
Bukannya dia baru saja memberitahu kalau begitu caranya memasak?
Maribel menggigit bibirnya dengan perasaan bersalah, "Itu...saya takut anda akan memecat saya karena tau saya tidak bisa memasak"
Mematikan api kompor, Aldrich berucap, "Mungkin jika aku manusia aku akan memecat mu" Karena dia adalah vampir yang tak perlu makan seperti manusia makan, jadi dia tidak akan mempermasalahkan pelayannya itu yang sama sekali tidak bisa memasak.
Maribel mengelus dadanya, tampak menghela nafas lega.
"Ambilkan aku cangkir kosong"
"Ah, baik" Maribel mengangguk dan buru-buru mengambil cangkir seperti yang dimintakan Aldrich.
"Ini"
Aldrich mengambil cangkir dan menuangkan setengah minyak yang memenuhi wajan ke dalam sana hingga meninggalkan sedikit minyak yang tersisa.
Kemudian dia mengangkat telur mata sapi setengah matang yang sangat berminyak itu, "Piring"
"Oh" Maribel langsung berlari mengambil piring yang ada di rak dan menyerahkannya pada Aldrich.
"Lihat" Aldrich meletakkan telur mata sapi yang penuh minyak itu di atas piring, "Dengan minyak sebanyak itu, apa kau ingin membuat dirimu sakit?"
Maribel menggosok lehernya, tersenyum malu, tidak tau harus berkata apa.
"Ambil telur yang lain" Suruh Aldrich kemudian.
Maribel mengangguk dan mengambil satu telur yang ada di meja. Saat dia akan menyerahkannya pada Aldrich, dia melihat pria itu yang tampak menggulung kan lengan bajunya ke siku dan lengangnya yang kokoh itu bergerak memukau ketika menyalakan kompor.
Aldrich menadahkan tangannya, "Berikan"
"Oh!" Maribel yang beberapa saat lalu sempat terpesona sehingga melamun, tersentak dan langsung meletakkan telur itu di tangan Aldrich.
"Jika kau hanya ingin masak telur mata sapi, tidak perlu menaruh minyak terlalu banyak. Tapi secukupnya saja, seperti ini" Aldrich menunjuk wajan yang hanya tersisa sedikit minyak di dalamnya, "Atau jika tidak, kau hanya membuatnya terendam alih-alih menggorengnya, kau mengerti?" Aldrich menatap wajah Maribel yang berdiri di sampingnya.
"Eun" Maribel menyampirkan sejumput rambutnya ke belakang telinga dan mengangguk. Dia tampak tersipu karena dikuliahi seperti itu oleh Aldrich.
Mengambil spatula dan memecahkan telur dengan sekali ketukan, Aldrich langsung menuangkan isinya ke atas minyak yang sudah panas.
Mata Maribel membesar takjub saat melihat telur tersebut langsung mengembang dengan suara krenyes minyak, "Woah, cepat sekali reaksinya. Kenapa tadi aku begitu lama?"
Sikap Maribel tampak melebihi bocah empat tahun yang penuh ketakjuban ketika melihat sesuatu yang baru.
"Apa kau sudah memastikan minyaknya panas sebelumnya?" Aldrich tampak menautkan sepasang alisnya, menoleh kearah Maribel.
"..." Maribel menatap Aldrich bingung.