CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|27|. Bekerja Di Kediaman Yang Lain



Maribel tidak dapat menganggap paman dan bibinya sebagai keluarga mengingat hal kejam apa yang telah mereka lakukan. Karena itu dia berjuang sangat gigih untuk mengambil alih perusahaan, semua untuk memperjuangkan kepemilikan juga untuk memperkuat posisinya.


Atau kalau tidak, dia hanya akan hidup sebagai tumbal untuk paman dan bibinya yang rakus dan bengis.


"Karena hanya untuk menghidupi dirimu sendiri, ku pikir kau tidak perlu bekerja terlalu keras untuk itu, bukankah aku benar?"


Maribel dengan cepat menggeleng, "Tentu saja tidak"


"Kenapa?"


"Yaa..biar bagaimanapun hidup di kota besar seperti ini tidaklah mudah bagi gadis lajang seperti saya. Semua serba mahal dan terlebih sebagai seorang gadis, tentunya terkadang saya memiliki hasrat untuk membeli beberapa barang bermerek, belum lagi seperangkat alat perawatan kecantikan dan produk-produk kosmetik yang cukup menguras dompet. Jadi...tentunya saya harus memiliki uang lebih untuk semua itu"


Memperhatikan penampilan gadis itu, yang alih-alih terlihat seperti pelayan tapi lebih seperti wanita karir yang terawat, akhirnya dia mengerti kenapa.


"Jadi kau bekerja keras untuk semua itu? Kenapa kau tidak sadar di—" Saat akan mengatakan itu, tiba-tiba Aldrich teringat dengan ibunya. Semenjak bekerja keras untuk menghidupinya, kecantikan ibunya pun sedikit tersamarkan dengan garis-garis kelelahan di wajahnya.


Ketika itu, ibunya masih bekerja serabutan. Tapi ketika dia memutuskan untuk bekerja di bar. Wajahnya meskipun terlihat menawan dan memikat, tapi garis lesu selalu menyelimuti profilnya. Kerapkali dia bahkan memiliki gatal-gatal di wajahnya karena menggunakan merek kosmetik murah, tapi dia tak punya pilihan selain tetap menggunakannya demi menghemat pengeluaran.


Mengenang itu, hatinya menjadi sakit.


"Aku bisa menaikkan gaji mu jika kau mau. Jadi tidak perlu mengambil pekerjaan lain diluar"


Maribel tidak menduga akan mendengar jawaban seperti itu dari Aldrich.


'Dia.. seseorang yang cukup murah hati ternyata'


Hatinya tersenyum lembut dengan pemikiran itu. Tapi di sisi lain dia merasa bersalah karena telah membohongi pria itu.


"Itu tidak perlu tuan" Matanya menyipit dengan senyum tulus, "Saya hanya akan merasa tidak enak jika meminta anda untuk itu"


"Lalu nyaman bagimu meminta kerja sampingan di tempat lain?"


Maribel menggigit bibirnya, "Itu.."


"Pergilah!"


"Y-ya?" Jantung Maribel berdegup kencang. Apa maksudnya ini? Pergi? Apakah dia dipecat?


Aldrich menjepit sepasang alisnya kesal, "Bukannya kau akan bekerja?"


Mata coklat Maribel langsung terbit dengan senyum cerah, "Ah, jadi maksud anda..saya bisa.."


"Hum, jadi pergilah sebelum aku berubah pikiran"


Maribel berjingkrak riang sambil berseru kegirangan, "Terimakasih banyak tuan... Kalau begitu saya pergi dulu"


"Tunggu"


Maribel langsung menghentikan langkahnya, "Ya?"


"Hari ini aku akan pergi keluar dan akan kembali di sore hari. Jika aku melihat kondisi kastil tidak terurus, aku akan memecat mu"


"Anda tidak perlu khawatir tuan. Sekalipun saya memiliki pekerjaan di luar, saya jamin kastil tetap tidak akan terabaikan"


"Semoga saja. Jika tidak, seperti kataku, aku akan memecat mu" Tukas Aldrich dengan penuh penekanan.


Maribel mengangguk dan pergi meninggalkan ruang makan dengan tas tangan putih di tangannya. Melangkah keluar halaman dia dikejutkan dengan seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari taxi dan menyeret tas besar di tangannya.


Melihat kemunculan Maribel, wanita paruh baya itu tersenyum. Dia menduga kalau Maribel adalah nyonya pemilik kediaman besar tempat di mana dia akan bekerja.


"Pagi nona muda" Sapanya, tersenyum santun.


Maribel tercekat, "P-pagi"


Maribel tergugu, jangan bilang wanita paruh baya didepannya itu...


"Maaf, anda ini—"


Wanita paruh baya itu meletakkan tas berat di tangannya ke tanah dan tersenyum memperkenalkan dirinya, "Saya Diana, nona. Yang diutus ke tempat ini untuk bekerja sebagai pelayan di kediaman anda"


"Huk..huk.." Spontan Maribel terbatuk-batuk dan hatinya dalam kekacauan memikirkan...


Itu gawat jika wanita itu masuk kedalam menjumpai Aldrich. Bisa-bisa penyamarannya terungkap. Padahal dia baru saja memulai misinya.


Tidak bisa..


Melihat wajah pucat Maribel, wanita itu bertanya prihatin, "Anda baik saja nona?"


"Ah, aku baik-baik saja"


Saat itu dia mendengar suara mobil baru saja menepi. Mengangkat kepalanya, dia tersenyum lega, 'Syukurlah Callie datang di waktu yang tepat'


Callie mencabut sabuk pengamannya dan melongok kearah jendela, "Bukannya ini kastil yang kemarin?"


Awal pagi sekali Maribel mengirimkan lokasinya dan memintanya untuk menjemputnya. Karena itu sebelum ke perusahaan, dia pergi kemari untuk mengambil bosnya.


Callie keluar dari mobil dan berjalan mendatangi Maribel yang sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya di depan pagar kastil.


"Maaf Bu Diana, anda akan bekerja. Tapi bukan di sini"


Diana mengerutkan keningnya heran, "Bukan di sini? Apa saya salah alamat?"


"Ah, tidak-tidak. Anda datang di alamat yang tepat. Tapi, saya membutuhkan anda untuk bekerja di kediaman saya yang satunya lagi"


Diana menatap gadis cantik didepannya itu dengan bola mata bergetar takjub, "Anda masih begitu muda, tapi sudah sesukses ini. Baik, kalau begitu di kediaman yang mana itu?"


Maribel melihat Callie berjalan kearah mereka, "Callie, berapa menit lagi sebelum rapat pagi di mulai?"


Callie melirik arloji silver yang melingkari tangannya, "Masih ada sekitar tiga puluh menit lagi Bu"


Maribel menoleh pada Diana, "Saya akan antar kan anda ke sana. Mari Bu"


Bagaimana pun dia hanya akan tenang membawa wanita itu pergi dari sana secepatnya. Jika Aldrich keluar dan menemukan ini...


Maka semua akan benar-benar berakhir.


......................


Maribel membawa Diana untuk bekerja di kediaman besarnya. Sekalipun tempat itu sudah memiliki banyak pelayan, tapi hampir dari mereka semua adalah orang-orang yang dipekerjakan bibinya. Walaupun sejauh ini tidak ada tindakan yang mencurigakan dari mereka. Tapi tidak ada salahnya jika dari sekarang Maribel harus berjaga-jaga.


"Sebenarnya saya memiliki banyak pelayan, tapi mereka tidak dapat dipercaya. Jadi, Jika ada salah seorang pekerja di sini yang terlihat mencurigakan atau bertindak aneh, anda dapat langsung melaporkannya pada saya"


Diana mengerti kehidupan orang kaya cukup rumit. Dia merasa kasihan dengan gadis cantik didepannya itu. Masih begitu muda tapi sudah harus menanggung beban berat itu di pundaknya.


"Baik nona muda" Diana tersenyum mengangguk.


"Jangan biarkan orang-orang didalam tau kalau anda dipekerjakan oleh saya. Jika ada yang menanyakan ini, katakan saja kalau kau dikirim dari salah sebuah perusahaan ketenagakerjaan"


"En, saya mengerti"


Maribel menghela nafas lega. Akhirnya dia sudah dapat mengatasinya. Bukan hanya mengatasi, dia bahkan berhasil memanfaatkannya.


'Maafkan aku Aldrich, sepertinya buat sementara waktu ini aku harus meminjam pelayan mu selagi aku masih menyamar menjadi pelayan mu'