
Maribel mendongak sekilas, "Ini sangat manis. Bagaimana bisa kau berpikir ini membosankan?"
Callie kehabisan kata.
"Novel itu milik adikku. Aku baru saja menyitanya karena ku pikir itu novel dewasa yang belum pantas di baca anak seusianya"
"Jadi, kau telah tanpa sengaja meninggalkannya di sini?"
"En"
"Oh.." Maribel kembali fokus membaca, "Aku tidak mengira dalam roman, CEO-CEO pria digambarkan dengan sangat menakjubkan seperti ini"
"Menakjubkan seperti apa?"
"Berkuasa dan sangat mendominasi"
"Ku pikir itu menyebalkan"
"Ah, menurut mu begitu?"
Callie hanya mengangkat bahunya sebagai tanggapan.
Mata Maribel tiba-tiba berkilat kegirangan, "Callie.."
"Ya bu?"
"Aku telah berpikir sangat keras akan bagaimana memiliki seorang pria yang sangat aku inginkan"
"Pria yang membuat anda sampai-sampai rela menyamar menjadi pelayannya itu?"
"En"
"Lalu?"
"Dalam novel ini, tokoh utama pria tidak ingin membuang-buang waktu dengan mengejar. Dia langsung saja menculik tokoh utama wanita dan memaksanya dan bahkan mengancamnya untuk menikahinya"
"Jadi?"
"Bagaimana jika aku melakukan hal yang sama?"
Callie tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Bu..ku pikir itu bukan hal yang baik"
"Callie.." Maribel tersenyum nakal.
"Bu.."
"Aku butuh bantuan mu, ku mohon" Maribel mengedipkan matanya memohon.
"Tapi Bu..."
"Callie" Desak Maribel.
Callie menghela nafas kasar, "Baiklah, anda ingin saya melakukan apa?"
"Itu..." Senyum licik telah membingkai wajah cantik Maribel dan mulutnya pun membuka- menutup mengatakan rencananya.
"Tapi Bu yang anda lakukan ini kriminal"
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melukainya"
'Lagipula, bagaimana mungkin aku melukai calon suami ku sendiri?'
......................
Sore harinya, Aldrich yang tengah bersantai di taman belakang dengan buku bacaan di tangannya itu menemukan ponselnya berbunyi. Dia meletakkan bukunya di atas meja dan merogoh sakunya. Sebuah notifikasi pesan muncul dari Maribel.
'Kau sudah bisa menjemput ku sekarang'
Aldrich menghela nafas pelan. Hampir saja dia melupakan itu. Dia pun bangun dan bersiap-siap keluar untuk pergi menjemput Maribel.
Setiba di perusahaan, dia menelpon Maribel.
"Aku sudah di depan perusahaan mu"
"Bisa kau masuk kedalam sebentar?"
"Tidak, aku akan menunggu diluar"
Maribel mendengus kesal dalam hatinya. Dia sudah menduga jawaban itu.
"Akh.." Maribel menggigit bibir bawahnya, mengeluarkan suara seakan sedang menahan sakit.
Dia mengerti satu hal. Sekalipun Aldrich dingin, tapi kelemahannya yang paling fatal adalah...
Nurani nya.
"Kau kenapa?"
"Shh, Entahlah aku tidak tau. Tiba-tiba leher ku terasa sakit tepat di bagian bekas yang kau gigit tadi..ess"
"..."
"Baiklah" Aldrich melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobilnya.
Maribel tersenyum puas dan menatap panggilan yang baru saja berakhir.
Aldrich berhasil memakan umpannya.
Melangkah masuk kedalam, Aldrich menghampiri meja resepsionis, "Saya ingin bertemu dengan nona Maribel"
Wanita yang berdiri di meja resepsionis itu, menatap takjub dengan kemunculan pria tampan di depannya. Mengukir senyum di bibir, "Apa anda sudah memiliki janji temu sebelumnya?"
"Dia baru saja menyuruh ku untuk masuk"
Wanita itu tergamam, sebenarnya siapa pria tampan itu. Mungkin kah...
"Maaf anda adalah?"
"Tuan Aldrich" Callie datang menyela.
Aldrich langsung menoleh kearah wanita yang baru saja datang dan menyebut namanya.
"Anda tuan Aldrich?" Callie memperbaiki letak kacamatanya.
"Ya"
"Mari ikut saya"
Aldrich pun berjalan pergi mengikuti Callie.
Di belakangnya, para staf wanita tak henti mencuri pandang. Mereka tampak begitu terpesona dengan ketampanan Aldrich.
"Siapa pria tadi?"
"Entahlah, dia datang mencari Bu Maribel. Mungkinkah pacarnya?"
"Sepertinya.."
"Tapi, apa Bu CEO kita punya pacar?"
Seperti itu, gosip pacar rahasia CEO pun dimulai.
Di dalam ruangannya, Maribel sedang memberi arahan pada dua pria kekar yang baru dipekerjakan Callie.
"Ketika dia datang, kalian berdua langsung bersembunyi. Dan ketika aku mengangkat jari telunjuk ku, itu saatnya bagi kalian bergerak. Kalian mengerti?"
"Kami mengerti"
Tok..Tok..
"Dia datang, cepat lah" Bisik Maribel, menyuruh dua pria kekar itu bersembunyi ke sudut.
Setelahnya dia memperbaiki sikapnya, "Masuk"
Pintu di buka dan pria tampan dengan mantel hitam panjangnya yang cukup mencolok itu melangkah masuk.
Callie tidak ikut masuk kedalam dan memilih menunggu di luar.
"Bagaimana tiba-tiba menjadi sakit?" Aldrich berjalan menghampiri Maribel yang tanpa diketahuinya tengah berangkting.
Wanita itu tampak bersandar lemah ke pinggiran meja sambil memegang lehernya tepat di mana bagian bekas gigitan Aldrich. Dia tampak mengetap kan bibirnya yang dibuat bergertar sedemikian rupa, membuat akting nya kian sempurna.
"Aku tidak tau.. tiba-tiba saja ini berdenyut dan membuat seluruh tubuh ku terasa lemas" Maribel tanpa sungkan menjatuhkan tubuhnya ke hadapan Aldrich.
Pria itu dengan sigap menangkap Maribel dan menahannya di dada bidangnya, "Coba ku lihat"
Maribel mengangkat lehernya dan membiarkan Aldrich fokus memeriksa.
Kemudian dia mengangkat telunjuknya, mengisyaratkan agar dua orang itu beraksi.
Pria kekar itupun segera keluar dari persembunyian dan dengan langkah yang cepat melakukan...
"Di mana bekasnya? Aku tidak melihatnya.."
"Itu di sini. Aku telah menutupinya tadi"
"Yang mana di sini?" Aldrich menekan lembut salah satu titik.
Dan bersamaan dengan itu...
Buk!
Pukulan yang sangat hebat menghantam punggung Aldrich. Seketika dia merasa dunianya seperti berputar dan seperti itu...
Aldrich linbung dan tak sadar kan diri.
"Cepat angkat" Seru Maribel.
Dua pria kekar tadi pun cepat-cepat mengangkat Aldrich dan membawanya pergi keluar.
......................