
Maribel membuka matanya dan langit-langit asing menyambut retinanya. Dia tidak ingat telah tertidur berapa lama. Memegang kepalanya yang agak pusing, matanya berkedip heran menatap sekeliling.
"Di mana aku?" Dia ingat terakhir kali masih berbicara dengan Griffin di bar hingga kantuk yang kuat merenggut kesadarannya.
"Tidak mungkin" Maribel langsung terkesiap dan bangun dari baringan. Dia baru saja menyadari tubuhnya telah berbaring di bawah selimut dan di atas ranjang besar yang empuk.
Melihat pakaiannya yang masih lengkap, Maribel menghembuskan nafas lega. Tapi hatinya tak dapat menepis kekesalannya pada Griffin. Dia langsung tau skema buruk apa yang akan dilakukan pria itu padanya dengan membuatnya tertidur di atas ranjang seperti ini.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan suara langkah kaki bersama gesekan handuk menggosok di rambut.
Maribel menduga itu adalah Griffin. Dia langsung buru-buru turun dari ranjang, menghampiri pria yang belum di lihatnya jelas siapa. Siap melayangkan tangannya ke udara dan memberikan pukulan...
Plak!
Tamparan yang cukup keras mengenai pipi kanan Aldrich. Wajahnya yang tertunduk menatap lantai itu terperanjat.
"Brengsek!"
"Sialan kau!"
"Kau sengaja memasukkan obat tidur ke dalam jus jeruk yang ku minum semalam huh? Dengan begitu kau dapat membingkai ku dengan jebakan kotor ini?"
"Haa, aku tidak mengira kau sehina ini"
Aldrich menghela nafas kasar, "Itu bukan aku"
"Bukan kau bagaimana?" Pekik Maribel. Suaranya keras dan menggelegar hingga ke langit-langit kamar.
"Jelas-jelas semalam aku minum berhadapan dengan mu. Kalau bukan kau, bisa siapa lagi hah?"
"Dasar breng—" Maribel siap melayangkan tamparan untuk kedua kalinya.
Merasakan energi yang kuat itu, Aldrich dengan sigap menahan pergelangan tangan gadis itu dan dia mengangkat kepalanya, "Itu benar, bukan aku"
Bola mata coklat Maribel membulat terkejut, "K-kamu—" Mulutnya ter-pelongo melihat wajah tampan di depannya. Yang alih-alih wajah brengsek yang membuatnya geram, tapi itu malah wajah yang sangat dirindukannya.
Aldrich melepas pergelangan gadis itu dan mengusap pipinya yang masih terasa agak kebas, "Tamparan mu keras sekali"
Maribel mengulum bibir bawahnya ke dalam, tatapannya yang tertuju pada Aldrich penuh perasaan bersalah, "Maaf"
Aldrich meraih handuk kecil yang terkalung di lehernya dan kembali menggosok rambutnya yang basah, "Semalam aku tanpa sengaja melihat mu di gendong seorang pria"
Aldrich berjalan ke depan melewati Maribel dan pergi duduk ke sofa panjang yang ada di kamarnya,"Mungkin karena sesama pria, aku begitu saja langsung mendeteksi niat buruknya, jadi aku merebut mu darinya"
Hati Maribel merasa begitu manis ketika mendengar Aldrich mengucapkan, 'merebut mu darinya', hal itu langsung menimbulkan senyum kecil di kedua sudut bibirnya.
"Semoga kau tidak keberatan"
"Tidak sama sekali" Seru Maribel. Dia sadar terdengar begitu bersemangat dan pasti itu terlihat begitu jelas.
Aldrich hanya memiringkan kepalanya dan tidak berbicara lagi. Situasi pun sesaat menjadi canggung.
Maribel menggosok belakang lehernya dan ragu-ragu matanya melirik pada Aldrich yang sedang membuang pandangan kearah jendela, "Ku pikir kau tidak mau melihat ku lagi"
"...." Aldrich hanya diam.
"Terimakasih sebelumnya karena sudah menolongku. Ini sudah kesekian kalinya dan aku...jadi merasa bersalah karena tidak bisa membayar kebaikan mu"
"..."
"Jika tidak keberatan mungkin kau ingin aku mentraktir mu makan di restoran atau cafe?"
"Ah, maaf. Aku lupa kau kan..." Maribel ingin mengutuk kebodohannya dalam hatinya. Bisa-bisanya dia mengajak vampir makan di restoran manusia.
Mengepalkan tangannya, Maribel benar-benar tidak tau harus berkata apa lagi, "Ah, kalau begitu jika kau memerlukan sesuatu kau dapat menghubungi ku"
Maribel baru saja berpikir untuk mengambil kartu namanya. Tapi dia teringat semalam telah meninggal kan tas tangannya di mobilnya dan mobilnya sekarang pasti masih terparkir di depan bar.
Menggigit bibir bawahnya, takut-takut dia berucap, "Kau ingin kita bertukar kontak?"
"..."
"Bagaimanapun nanti kau memerlukan kontak ku untuk menghubungi ku"
"Apa ini termasuk caramu?"
"Cara apa?"
"Cara mu menggodaku"
Wajah Maribel seketika memerah, "Hah, m-menggoda apa? Bukannya begitu maksud ku. Tapi jika kau merasa keberatan ya sudah, tidak perlu bertukar—"
"Ini!" Tak terduga, Aldrich langsung menyerahkan ponselnya, "Isi nomor mu"
Maribel menyembunyikan kegembiraan dalam hatinya. Dia mengambil ponsel Aldrich dan mengisi nomornya. Tak lupa dia memanggil nomornya dengan ponsel Aldrich untuk mendapatkan nomor pria itu.
"Sudah" Maribel menyerahkan kembali ponsel itu kepada Aldrich.
Melihat layar, Aldrich melihat nomor baru yang baru saja di tambahkan dengan nama kontak, "Maribel?"
"Ah, iya. Itu nama asliku"
"Maddie?"
"Itu palsu" Maribel tersenyum dan menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa nama ini rasanya tidak asing sekali" Gumam Aldrich. Suaranya cukup rendah hingga dapat dijangkau Maribel.
"Ya?"
Aldrich mengangkat kepalanya kearah Maribel, "...?"
"Itu...kau baru saja bilang apa tadi?"
Aldrich menggeleng, "Bukan apa-apa"
"Oh.."
"Turunlah ke bawah, aku akan menyuruh madam Diana menyiapkan sarapan untuk mu"
"Terimakasih" Maribel pikir pria itu akan langsung menyuruhnya pergi. Tapi masih ingat untuk menyuruhnya sarapan sebelum pergi.
'Ah, dia benar-benar baik...'
Di ruang makan, Maribel sudah duduk di meja makan berhadapan dengan Aldrich. Diana telah menyiapkan roti sandwich untuk sarapan Maribel bersama segelas susu vanila hangat. Kemudian dia menuangkan darah rusa hangat ke gelas Aldrich.
"Senang melihat anda lagi nona.." Senyum sopan Diana kepada Maribel sebelum pergi meninggalkan ruang makan.
Maribel mengangguk dan membalas senyumnya, "Senang bertemu anda juga Bu"