
"Orang ini, melakukan sesuatu pada mobil teman saya. Apa ini termasuk rencana pembunuhan?" Aldrich langsung menjelaskan kronologi kejadian.
Polisi itu mengangguk-angguk, "Sepertinya pria yang ada di foto ini adalah orang suruhan. Tapi kami akan mencarinya segera dan menemukan siapa pesuruhnya"
Aldrich tersenyum klise, "Baik, mohon bantuan anda pak"
Maribel duduk santai di atas sofa. Karena tak ada televisi di kastil itu, dia merasa bosan. Pergi keluar pun, Diana melarangnya, katanya itu adalah pesanan Aldrich untuk menjaganya tetap diam di rumah.
Saat ini Maribel tengah berbicara dengan sekretaris pribadinya melalui telepon, "Sepertinya dia mengkhawatirkan ku. Itu kenapa dia ingin aku berdiam di sini"
Callie tengah sibuk merapikan dokumen-dokumen di meja, mengapit ponselnya di antara telinga dan pundak. Seperti itu dia berbicara melalui talian, "Lalu anda menurutinya begitu?"
"Tentu saja. Aku tidak ingin suamiku khawatir" Maribel mengulum senyum cerah di bibir.
Callie menghela nafas, "Bu, kemarin anda sudah mengambil cuti dan hari ini pun anda tidak masuk. Anda tau betapa banyak hal yang menunggu untuk anda urus"
"Aku baru saja menikah, wajar mengambil cuti"
"Tapi, hanya saya seorang yang mengetahuinya. Jika anda absen hari ini, apa anda kira bibi anda tidak akan curiga?"
"..."
"Dia baru saja datang ke ruangan ku tadi. Menanyakan anda"
"Lalu apa yang kau jawab?"
"Aku katakan kau tidak masuk karena sakit"
"Aku yakin dia pasti berharap lebih dari itu"
"Maksud anda Bu?"
"Bukan apa-apa" Maribel tidak menceritakan apa yang dialaminya semalam pada Callie. Terang saja gadis itu tidak sepenuhnya mengerti maksud perkataannya barusan, "Kirimkan saja hal-hal yang perlu ku urus di surel. Aku akan memeriksanya nanti"
"Baik Bu"
"Selamat bekerja. Aku tutup ya"
Panggilan pun berakhir.
Aldrich berjalan masuk sambil menyeret koper besar milik Maribel. Di ruang tengah, dia mendapati wanita itu yang tengah berselonjor santai di sofa.
"Koper mu"
Maribel bangun dari sofa dan menghampiri kopernya.
"En"
Maribel tersenyum, "Terimakasih"
"Mobil mu sudah ku bawa ke bengkel dan aku sudah menemukan orang yang melakukan sesuatu pada mobil mu itu dari CCTV bagian luar kediaman mu" Ucap Aldrich, "Polisi sedang mencarinya sekarang, jadi untuk sementara ini tinggal saja di kastil ku" Lanjutnya lagi.
Maribel mengambil langkah ke depan, mendatangi Aldrich, "Kau... melakukan semua itu?"
Maribel ingat tidak meminta dan bahkan menyuruhnya. Tapi pria itu atas inisiatifnya sendiri...
"En" Aldrich menatap Maribel yang berdiri di depannya tanpa ekspresi khusus, "Aku yakin dalang dari kejadian ini akan segera ditemukan. Jadi untuk kedepannya, kau dapat hidup lebih nyaman, tanpa perlu khawatir dengan kejahatan yang mengintai mu"
Hati Maribel berdesir. Dia selangkah maju ke depan dan memeluk tubuh tegap pria itu, "Terimakasih..." Maribel menekan pipinya ke dada bidang Aldrich yang keras, "Senang rasanya memiliki seseorang yang...mau melakukan semua ini untuk ku"
Aldrich menggaruk tengkuknya yang mulai gatal. Jadi tidak begitu merespon ucapan wanita itu.
Merasakan pergerakan menggaruknya, tanpa melepas pelukan itu, Maribel mendongak ke atas dan mendapati tulang selangka Aldrich yang putih bersih mulai muncul bentol kemerahan.
"Ada apa dengan kulit mu?" Maribel mengulur kan tangannya ke atas, meraba permukaan tulang selangka Aldrich yang sedang digaruk nya itu.
"Tadi pagi aku terburu-buru pergi dan lupa meminum obat alergi ku" Ucap Aldrich, "Inilah yang terjadi, jika aku lupa obatku"
"Apa karena aku?"
Aldrich menatap Maribel dengan tanda tanya, "..."
"Kau terburu-buru karena mengurusi urusan ku?"
Aldrich diam. Bibirnya terkatup rapat, enggan menanggapi apapun.
Sekali lagi Maribel memeluk tubuh pria itu dalam, "Aku anggap diam mu adalah iya"
"..."
"Aldrich, sekali lagi terimakasih..." Ucap Maribel, masih mendekap erat tubuh tegap itu seperti enggan untuk melepaskannya...
Selama-lamanya.
......................