
Sepanjang mengemudi, Maribel sesekali mencuri pandang kearah Aldrich. Bertanya-tanya dalam hatinya apa pekerjaannya sehingga memiliki kartu hitam yang bahkan dia saja tidak punya. Aldrich yang memandang keluar jendela, tenggelam dalam hiruk-pikuk jalanan kota di malam hari itu sama sekali tidak menyadari tatapan Maribel kearahnya.
Setiba di kastil. Aldrich membawa masuk kantong belanjaan miliknya dan pergi ke lantai atas, sedang Maribel pergi membawa kantong belanjaan lainnya ke dapur.
Dia memasukkan sayuran hijau ke kulkas bersama telur-telur di tempatnya. Kemudian mengambil daging, ikan dan ayam dan memasukkannya ke dalam freezer. Meletakkan minyak di tempatnya dan berserta bahan-bahan masak lainnya sambil mengingat tata letak dapurnya.
Dia memang tidak pernah berkutat di dapur tapi bukannya tidak pernah mendatanginya. Dari ingatannya tersebut, dia pun menyesuaikan letak barang-barang.
Setelah selesai membereskan kantong belanjaan, dia membuang sampah-sampah plastik ke tong sampah dan mendengar suara langkah kaki memasuki dapur.
"Tuan Aldrich" Sapanya dengan senyum cerah. Sikap senangnya dengan kehadiran pria itu begitu kentara. Membuat Aldrich langsung menyadarinya.
"Aku ingin makan malam"
"Ya?" Maribel menautkan sepasang alisnya bingung, "Makan malam?"
Memangnya apa yang bisa di makan oleh vampir? Dari perfilman saja, seingatnya mereka cukup membenci aroma bawang putih pada masakan. Selain itu...
Bukankah makanan mereka hanyalah darah?
"Ya, makan malam"
Maribel memandangi pria tampan berkulit putih pucat itu lamat-lamat dan tiba-tiba mengingat sesuatu, "Ah, hampir saja saya lupa. Bukannya anda vampir campuran" Tuturnya.
"Jadi anda mau makan apa?" Tanyanya kemudian. Karena dia tidak bisa memasak, mungkin dia akan mencari alasan untuk mengambil takeout karena lelah berbelanja.
Aldrich mengambil beberapa langkah ke depan dengan sorot mata tanpa ekspresi menatap lurus ke sepasang mata coklat indah itu, "Aku ingin makan..."
Maribel terkejut mendapati tubuh tinggi pria itu yang sudah menjulang di hadapannya. Ketika pria itu membungkuk, Maribel merasa begitu kecil di tempatnya berdiri. Bulu matanya bergertar sedikit gugup saat pria itu meletakkan kepalanya di antara leher dan dagunya. Lalu mulutnya yang berbisik tepat di ambang telinganya, "Kamu"
Deg!
Maribel meremas tangannya, bola mata coklatnya membesar dan nafasnya tersendat sejenak ketika dia berpikir akan pingsan, "M-makan saya?"
Bibir tipis Aldrich menyeringai, "Ya"
Suara berat nya yang dingin, begitu menyengat hingga ke dasar hati Maribel. Membuatnya mengepal kan tangan dengan perasaan tak tahan, "M-maksud anda adalah..saya itu—darah saya?"
Mungkin pria itu memang tidak mencuri sembarang manusia untuk di hisap darahnya atau barangkali juga bukan membeli kantong darah sebagai stok makanan. Alih-alih kedua hal itu..
Dia memperkerjakan pelayan manusia yang juga dijadikan sebagai pelayan darahnya?
Maribel jadi teringat dengan perkataan pria itu tadi ketika di pusat perbelanjaan, 'Aku tidak ingin pelayan ku kekurangan gizi'
Pantas saja pria itu tidak menginginkannya. Itu karena dia harus memiliki pelayan dengan gizi yang cukup sehingga dapat dihisap darahnya.
Dengan pemikirannya tersebut, Maribel menelengkan kepalanya sedikit tinggi ke atas dan menyerahkan leher rampingnya untuk pria itu gigit, "Tokong lakukan dengan lembut, saya takut sakit" Ucapnya, menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata.
Menatap leher ramping didepannya itu dan sikap penuh penyerahan diri gadis itu, Aldrich mengedipkan matanya tak percaya.
Itu sungguh di luar prasangka nya. Dia mengira gadis itu akan menjerit atau paling tidak berlari ketakutan menghindar. Tapi ini...
"Luar biasa"
Mendengar dua kata itu, Maribel membuka matanya dan melihat Aldrich yang memandangnya heran dengan sedikit cahaya ketakjuban.
"Kau takut sakit tapi tidak takut ku gigit?" Aldrich membelai lembut leher ramping gadis itu, merasakan tekstur kulitnya yang sehalus susu.
"Harus ku katakan kau gadis manusia yang cukup berani"
Penampilannya barang kali terlihat seperti setangkai tulip cantik yang lembut, tapi dibaliknya itu sekokoh pohon Pinus di hutan.
Aldrich meraih kepala gadis itu dan dengan lembut membuatnya dalam postur yang tegap. Kemudian dia memegang kepala belakangnya dan menatap dalam, "Ingat ucapanku, jika kau menjumpai vampir lain selain aku, jangan sembarang menyerahkan diri seperti ikan di telenan"
"..." Bulu mata Maribel bergertar gelisah.
"Kau harus pergi sejauh mungkin jika tidak ingin mati karena kehabisan darah"
"..." Tubuhnya telah lama membeku di tempat.
"Kau mengerti?"
Maribel menganggukkan kepalanya seperti robot yang kaku, "En"
Aldrich tersenyum dengan sorot mata tak terbaca. Dia melepaskan kepala gadis itu dan berdiri sambil memegangi pinggangnya santai, "Di ruang tengah ada banyak botol darah. Kau dapat mengambilnya satu untuk menyiapkan makan malam ku"
"..."
"Aku akan menunggumu di ruang makan"
Selepas kepergian Aldrich, Maribel langsung menghembuskan nafas panjang dan mengipasi wajahnya yang terasa memanas setelah apa yang dilakukan pria itu barusan.
"Haa.. hampir saja"
Mungkin dia benar-benar akan pingsan di tempat jika pria itu terus bertindak lebih jauh. Menepuk-nepuk dadanya dan mengontrol nafasnya, ketika dia merasa benar-benar tenang. Dia pun bergegas ke ruang tengah untuk mengambil botol darah yang Aldrich maksud.
Kemudian dia kembali ke dapur. Mengambil gelas dan nampan. Seperti itu dia membawanya ke ruang makan.
"Tuangkan untuk ku"
Maribel mengangguk. Dia membuka tutup botol dan menuangkannya ke dalam gelas. Perasaan itu membuatnya seperti baru saja mengisi gelas dengan anggur.
Cairan merah pun memenuhi hingga ke bibir gelas, membuat Maribel meneguk liur di tempat, tenggelam dalam pikirannya...
'Jadi...dia benar-benar membeli kantong darah'
Aldrich mengambil gelas yang sudah terisi penuh dan menyesapnya sedikit. Rasa manis yang pekat meluncur di kerongkongannya. Meletakkan gelas di meja, dia mengangkat pandangannya ke arah Maribel, "Ambil botol-botol lainnya yang ada di ruang tengah, simpan beberapa di kulkas dan selebihnya taruh di tempat sejuk. Besok saat sarapan, aku ingin segelas darah angsa hangat. Jadi jangan lupa siapkan itu ketika kau bangun awal"
"D-darah angsa?"
"Masing-masing botol memiliki namanya. Lihat!" Aldrich mengangkat botol dan menunjukkan tulisan yang tertulis.
Maribel membacanya, "Kelinci Netherland dwarf?" Maribel menatap Aldrich. Sorot matanya terlihat seperti masih belum sepenuhnya mengerti.
"Jadi ingat untuk tidak mengambil botol yang salah" Aldrich meletakkan botol tersebut di meja dan kembali mengambil gelas, menyesapnya lebih banyak dari sebelumnya.
"Tuan, semua botol-botol ini..."
"Darah hewan" Aldrich langsung menjawab kebingungan Maribel, "Ini cerita yang panjang, yang intinya kami tidak lagi mengkonsumsi darah manusia sebagai asupan dan menggantinya dengan darah hewan"
"Ahh..jadi begitu" Maribel manggut-manggut dengan informasi tersebut.
"Kau tidak makan?"