
Maribel duduk di dalam bathtub dan Aldrich duduk di pinggirnya. Mengambil gagang shower, Aldrich dengan lembut membasahi rambut hitam Maribel yang cukup panjang itu. Setelah dibasahi, tampak semakin pekat seperti tinta tumpah.
Maribel memejamkan matanya. Menikmati bagaimana Aldrich menyirami rambutnya. Kemudian dia mendengar suara tutup botol shampo dibuka dan gerakan kedua telapak tangan menggosok.
"Aku pakai shampoo ku, apa tidak masalah?"
"Aku bahkan sudah menggunakan sabun mu. Tidak apa-apa..."
Aldrich langsung menyapukan shampo ditangannya itu ke seluruh permukaan rambut kepala Maribel.
"Pantas saja kau menyukai Cendana, aromanya cukup menenangkan..." Maribel menarik nafas dan menghelanya. Dia menikmati akan bagaimana aroma shampo Cendana yang menyusup ke hidungnya itu telah mendamaikan minda nya, sedang kepalanya terasa begitu nyaman...menikmati gosokan tangan Aldrich yang tengah meratakan shampo di seluruh rambut kepalanya.
"Aldrich, sebelum menikahi ku..apa kau punya pacar?"
"Tidak" Aldrich mengambil gagang shower dan menyirami rambut kepala Maribel yang sudah penuh busa itu.
"Kau tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak"
"Pokoknya jika kau punya pacar, kau harus memutusinya. Karena kau harus ingat, kau pria beristri sekarang"
Aldrich berdecih, "Ya..istri di atas kertas"
Maribel tiba-tiba bangun, kepalanya menjulang ke depan menghadap wajah Aldrich, "Kau baru saja mengatakan apa?" Rambutnya sudah tidak ada lagi busa, tapi itu masih cukup basah sehingga tetesan air pun jatuh membasahi handuknya.
Aldrich meletakkan gagang shower ke bawah, matanya menatap Maribel tanpa ekspresi, "Istri di atas kertas"
"Aldrich" Pekik Maribel, dadanya naik turun karena kesal.
Aldrich terlihat cuek, "Sudah selesai kan?" Dia memandangi rambut hitam panjang Maribel yang tidak lagi meninggalkan sedikit pun busa, "Kalau begitu aku pergi"
Aldrich sudah berdiri dan berjalan maju ke depan.
Tapi Maribel berhasil menggapai pergelangan tangan pria itu dan dengan sengaja menyentaknya ke belakang. Di karena kan lantai yang licin, Aldrich kehilangan keseimbangan dan terus jatuh ke dalam bathtub.
Tepatnya...di atas tubuh Maribel yang hanya terbungkus handuk itu.
"Apa yang kau lakukan?" Aldrich membuang nafas kasar.
"Apa bagimu aku hanya istri di atas kertas?" Maribel menatap lamat-lamat pria yang tengah berada di atasnya itu.
"En"
Hati Maribel berdenyut sakit.
Aldrich berusaha bangkit untuk keluar dari bathtub. Tapi kedua tangan Maribel lebih dulu melingkari tengkuk belakangnya. Wanita itu lalu menarik lehernya dan memaksanya jatuh ke bawah.
"Maribel" Aldrich berseru marah.
Maribel tidak peduli. Dia hanya memajukan kepalanya, membuat bibirnya menekan lembut bibir pria itu yang tengah bergetar dalam amarah.
Mata hitam Aldrich terbuntang lebar. Benda lunak dan lembab yang baru saja menempeli bibirnya itu, membuat Aldrich tidak bisa berkata-kata.
Maribel yang tidak punya pengalaman sama sekali soal berciuman, tidak tau harus melanjutkan seperti apa. Alhasil gerakannya hanya berhenti sampai di situ.
Aldrich yang menyadarinya, tersenyum dingin dan menarik kepalanya, "Jika tidak pandai melakukannya, maka jangan lakukan"
Maribel menurunkan tatapannya ke bawah, merasa malu, "K-kalau begitu.. kenapa tidak kau lanjutkan?" Dia mengangkat tatapannya lagi ke atas, merenungkan wajah tampan yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya.
Aldrich melirik wajah Maribel, mulutnya terkatup dan matanya berdiam cukup lama di bibir kecil wanita itu yang penuh... dan merah seperti darah segar.
"Aku tidak tertarik"
Bulu mata Maribel bergetar.
"Bibir mu.. tidak menggoda ku sama sekali"
Maribel seketika mematung.
Seperti itu Aldrich bangun dari atas tubuh Maribel, keluar dari bathtub dan pergi meninggalkan kamar mandi.
Maribel buru-buru bangun dan keluar dari bathtub. Dia berdiri di hadapan cermin hanya untuk merenungi bibirnya lama, "Apa bibirku tidak seksi?"
Bibir kecil, penuh dan merah.
"Tidak mungkin" Maribel meraba permukaan bibirnya, "Bibir se-seksi ini dia tidak tertarik?" Maribel terlihat begitu percaya diri dengan betapa seksi bibirnya.
"Huh, dia pasti bohong"
Maribel melipat kedua tangannya di depan dan mendengus kesal, "Awas kau Aldrich! Lihat apa yang akan aku lakukan padamu malam ini"
......................
Yang sudah membaca VSB, pasti sudah tau kebiasaan menulis saya yang alur nya cenderung lambat dan membosankan. Tapi ke depannya..akan saya usahakan untuk dipercepat. Tapi saya tidak menjamin kalian greget atau tidak dengan alurnya.
Huhu... maafkan saya yang tidak begitu mahir membuat romansa yang dapat membuat pembaca deg-degan ಥ‿ಥ
Tapi biar begitu akan saya usahakan yaa... Saya akan berpikir keras bagaimana membuatnya. Semoga hasilnya nanti tidak mengecewakan...
Terimakasih untuk bagi yang masih mengikutinya kisahnya 💕