CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|49|. Sudah Sepantasnya Peduli



Mobil Maribel sudah melaju ke pedalaman di mana kastil Egbert berada. Samping kanan kirinya di penuhi pepohonan tinggi lebat, mereka tampak menghitam gelap karena tertelan malam.


Tiba-tiba muncul babi hutan entah darimana, memotong jalan depan. Refleks Maribel spontan membanting setir dan begitu saja mobil nya jatuh ke luar dari jalur jalan. Masuk kedalam semak dan lahan hutan belantara. Maribel menginjak pedal rem, ingin menghentikan laju mobilnya.


Tapi tidak tau kenapa. Mobil tidak mau dihentikan. Rem sama sekali tidak bekerja.


"Kemarin baik-baik saja, kenapa tiba-tiba..."


Maribel panik. Kuat-kuat kakinya menginjak pedal rem tapi mobilnya tetap melaju ke depan. Siap membelah hutan belantara.


"Aa.. bagaimana ini.." Hatinya diliputi kekhawatiran dan kecemasan. Dia tidak tau bagaimana menyikapi situasi tersebut.


Karena panik dan cemas telah mengerubungi pikirannya, Maribel telah hilang fokus dengan apa yang ada di hadapan. Sebuah pohon besar menjulang tinggi dan dia...


Brak!


Mobilnya telah menabrak nya dengan sangat keras. Kepalanya tidak membentur apapun, sabuk pengaman yang terpasang kuat telah menahan tubuhnya.


Matanya terbelalak mendapati kap depan mobilnya yang mulai mengeluarkan asap.


Mengambil ponselnya, cepat-cepat dia turun dari mobil dan berlari pergi menjauh dari mobilnya takut-takut akan meledak.


Hening.


Tak ada apapun yang terjadi.


Biar begitu Maribel tidak berani menyentuh mobilnya.


Membuka layar kunci ponsel pintarnya, Maribel siap menghubungi Aldrich. Tapi sialnya, baterai ponselnya lemah dan mati.


"Habis sudah"


Maribel berjongkok di tengah hamparan lembah kosong. Pepohonan menjulang dan angin mendayu-dayu bersama nyanyian binatang malam.


Memeluk tubuhnya kuat, Maribel terus menjadi takut. Dia tidak tau harus pergi kemana. Segalanya gelap. Hanya ada sedikit sinar rembulan dan dirinya seorang diri bersama angin malam yang hilir mencekam.


"Aldrich..."


Bibirnya bergetar, wajahnya tenggelam di antara dua lutut nya dan dia menangis sesenggukan.


Sudah sekitar dua jam lebih berlalu setelah Aldrich menerima pesan dari Maribel yang katanya akan datang. Tapi wanita itu masih belum juga muncul di depan pintu kastil nya.


"Baguslah jika dia tidak datang"


Langkahnya terus pergi menaiki anak tangga. Tapi di pertengahan itu, pikirannya begitu saja teringat kan ucapan Maribel...


'Aku akan datang malam ini. Jika aku tidak muncul, ingat untuk mencari ku'


"Apa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya?"


Aldrich merasa kalut sesaat.


"Ah, lupakan. Bukan urusanmu" Kepalanya langsung menggeleng tak peduli.


Tapi kata-kata ibunya langsung terlintas di minda nya...


'Sayangnya mama, tak terasa kau sudah sebesar ini. Semoga kau tidak menjadi pria yang apatis dan dingin seperti papa. Mama berharap...kau akan menjadi pria dengan nurani dan kehangatan di dasar hatimu'


"Haa.." Aldrich meraup wajahnya jengah. Ikutkan hati, dia ingin tak peduli. Tapi ingat kan pesan ibunya, dia tidak dapat mengabaikan nuraninya.


"Ya, dia istriku dan sudah sepantasnya aku peduli"


Seperti itu, pada akhirnya dia memutar balik langkahnya. Menuruni anak tangga dan bersiap pergi keluar.


"Anda mau kemana tuan?" Tanya Diana yang baru saja selesai merapikan ruang tengah. Dia ternampak kan Aldrich yang mengambil kunci dan seperti buru-buru pergi.


"Mencari seseorang" Jawabnya singkat.


Diana melepas kepergian Aldrich dengan wajah berkerut bingung, "Mencari seseorang?"


Di samping itu, Maribel berlari ketakutan mendapati babi hutan yang sedang mengejarnya.


Tangisannya berderai bagai hujan deras telah memecah malam yang hening. Dia terus berlari sekencang yang dia bisa sambil menoleh sesekali ke belakang. Melihat seberapa dekat babi hutan itu akan menerkamnya.


Tapi di pertengahan itu...


Slek...


"Arghh..."


Maribel tanpa sengaja terpeleset dan jatuh ke jurang.


Sungguh malang nasibnya. Dia mengira malam itu akan menjadi malam pertamanya dengan Aldrich, setelah segala rancangan dalam otaknya.


Berpikir itu akan menjadi tak terlupakan, panas dan penuh gairah.


Tapi yang terjadi. Dia terjebak di lembah yang dia tidak tau dimana dan malah terpeleset jatuh ke jurang.


Badannya yang sudah kotor dengan tanah lembab yang menguarkan aroma akar dan rerumputan itu, tampak meringkuk. Telapak tangannya perih karena luka-luka tersayat tanaman liar.


Menggigit bibirnya, Maribel semakin kuat menangis.


"Aldrich..apa kau akan mencari ku?"


Nama yang baru saja disebutkan, baru saja sampai di depan kediaman Maribel yang luas dan besar. Aldrich keluar dari mobilnya dan menghampiri pagar.


"Ada apa tuan?"


"Apa nona kalian ada di dalam?"


Security itu menggeleng kan kepalanya, "Nona muda baru saja pergi. Sudah cukup lama dan sepertinya tidak kembali malam ini"


Firasat Aldrich langsung mengatakan ada hal yang buruk terjadi.


"Ah, kalau begitu permisi"


"Ya tuan"


Aldrich masuk lagi kedalam mobilnya, memegang setir mobil dan berpikir keras, "Dia..apa mungkin sesuatu yang buruk terjadi padanya?"


......................