CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|19|. Anda Seorang Pria Yang Baik



Sesaat Aldrich menjadi bingung.


"Apakah anda masih tidak mengerti maksud saya?" Maribel langsung mendorong tubuh Aldrich dari hadapannya.


Karena lengah, Aldrich mundur begitu saja ke belakang.


"Kau—"


"Saya apa?" Maribel tertawa lucu, "Apa anda pikir saya akan mempercayai lelucon anda barusan?"


Dia tau dengan jelas kalau pria itu sengaja melakukannya untuk mengerjainya.


"Bagaimana bisa kau berpikir itu lelucon? Bagaimana jika aku menyekap mu sekarang dan menggigit leher mu sampai urat leher mu putus?"


Aldrich tidak percaya gadis manusia itu tidak akan ketakutan ketika mendengar apa yang dikatakannya itu.


Kedua sudut bibir Maribel melengkung tinggi ke atas, tersenyum menjawab, "Kalau anda memang akan menyekap dan menggigit leher saya. Harusnya anda telah melakukannya sejak kemarin di hutan. Bukankah situasi saya saat itu cukup tepat untuk anda jadikan mangsa?" Tutur Maribel, "Imajinasi saya menjadi liar sesaat, walaupun barangkali itu benar, saya yakin anda bukan salah satu dari mereka. Sama seperti manusia ada yang baik dan jahat, saya yakin ras anda juga begitu"


Mata coklat Maribel tersenyum memandangi wajah tampan Aldrich yang tampak tercenung memperhatikannya dengan sorot ketidakpercayaan.


Dia mengambil beberapa langkah ke depan. Mengikis jarak antaranya dan Aldrich. Membuat Aldrich tanpa sadar terundur ke belakang. Tapi Maribel bukannya berhenti, dia terus saja berjalan maju hingga membuat Aldrich menabrak dinding dan Maribel mengulurkan tangannya ke depan menekan dinding.


Dia mendongak ke atas dan menatap Aldrich dengan berani, "Tuan Aldrich..satu hal yang saya yakini sejak pertemuan pertama kita"


Maribel meraih dagu runcing Aldrich dan matanya menerbitkan senyum memikat, "Itu adalah..."


Saat dia akan berbicara, dia condong maju ke depan. Posisinya sekilas terlihat seperti dia akan menekan Aldrich ke dinding dan tumbuh kecilnya tampak seperti tengah memeluk pria itu.


Nafas Aldrich menjadi berat saat aroma manis nan feminim menyeruak masuk ke rongga hidungnya. Dia dapat melihat betapa intim posisi mereka terlihat. Ketika bibir merah gadis itu jatuh di ambang telinganya dan mendengar suara lembutnya yang berbisik halus.


"Saya yakin anda seorang pria yang baik"


Bulu mata Aldrich berkibar rumit. Kenapa rasanya situasinya menjadi terbalik sekarang? Secepatnya dia mendorong tubuh gadis itu dan berucap dingin, "Jaga sikapmu"


Maribel memasang senyum tak berdosa nya berkata, "Itu anda yang pertama memulainya, jadi jangan salahkan saya"


Hati Maribel diliputi kegembiraan. Dia merasa sangat senang karena telah melakukan hal seperti barusan. Dia melirik sekilas kearah Aldrich, bertanya-tanya dalam hatinya, 'Apakah pria ini sedikit tergerak olehku?'


Tapi melihat tatapan dingin Aldrich yang cukup membekukan itu, Maribel menghela nafas tak berdaya. Dia sudah menduganya, godaan kecantikan tidak akan mempan pada pria itu.


Aldrich tidak mempermasalahkannya lebih jauh. Bagaimanapun gadis itu benar. Dia yang memulainya. Tapi tidak pernah terkira olehnya gadis itu akan cukup berani membalasnya.


Aldrich berdeham, kembali berjalan ke depan membawa gadis itu ke kamarnya. Maribel bergegas menarik kopernya dan berjalan mengikutinya.


Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah lorong yang di sana memiliki lima pintu yang berjejer.


"Di sini adalah kawasan kamar pelayan. Pintu di baris pertama adalah milik kepala pelayan. Karena kau adalah pelayan pertama ku, kau dapat mengambil kamar itu" Papar Aldrich.


Kemudian dia merogoh kunci di sakunya dan memilah-milah mana satu yang pas dengan kamar tersebut. Setelah mencobanya dari beberapa kunci, akhirnya masuk satu yang pas dan pintu kamar pun dapat didorong terbuka.


Maribel melongok kan wajahnya, penasaran dengan penampilan kamar tersebut.


Terdapat sebuah almari dengan dua pintu. Ranjang kecil empat kaki dengan seprai putih melapisi kasur. Maribel dapat melihat ada dua pintu lainnya dalam kamar tersebut.


Aldrich berjalan masuk sambil melambaikan tangannya, mengarahkan Maribel untuk mengikutinya.


Aldrich mendatangi sebuah pintu yang ada dalam kamar itu dan mendorongnya, "Ini adalah kamar mandi. Kau dapat menggunakan ini untuk seterusnya"


Maribel melihat kedalam. Itu adalah sebuah kamar mandi dengan pancuran air. Ada besi tempat menggantung handuk dan baju. Di sampingnya juga cermin yang bersambung dengan tempat sabun.


Aldrich pergi dan berjalan mendatangi satu pintu lainnya yang ada dalam kamar tersebut dan membukanya, "Yang ini adalah ruang kerja mu. Kau dapat menggunakan ini kedepannya dalam urusan mengurus kastil ini"


Maribel melihat kedalam. Itu terlihat seperti ruang kerja biasa. Meja dengan kursi dan sebuah rak buku yang berjejer di sana dokumen-dokumen yang masing-masingnya memiliki nomor.


"Di sana adalah beberapa dokumen yang dikerjakan oleh kepala pelayan sebelumnya. Tapi kau tidak perlu mengurus hal itu lagi. Tugas mu kedepannya cukup mengurus buku kas keuangan baru. Apa kira-kira kau dapat melakukannya?"


Maribel mengangguk mantap, "Saya cukup mampu mengurus keuangan. Anda dapat mempercayakan saya untuk itu"


"Baguslah" Karena Aldrich tidak berpikir untuk mempekerjakan pelayan lainnya untuk sementara waktu ini.


"Kalau begitu bersiaplah, kita akan keluar"


Maribel menautkan sepasang alisnya, "Kemana?"


"Pusat pembelanjaan"


"..."


"Ada banyak hal yang harus ku beli. Jadi aku ingin kau menemani aku untuk membelinya. Sekalian juga membeli beberapa kebutuhan kastil"


"Baiklah, kalau begitu saya akan membereskan barang-barang saya dulu"


Aldrich mengangguk, "Santai saja. Aku tidak terburu-buru"


Seperti itu Aldrich berjalan keluar dari kamar kepala pelayan yang akan ditempati oleh Maribel.


Yang tanpa sepengetahuannya— nyatanya adalah seorang CEO muda yang sangat kaya.


Di lantai bawah ketika Aldrich baru saja turun. Dia mendengar suara bel berbunyi. Mengerutkan keningnya, dia bertanya-tanya mungkinkah itu Sean? Tapi dosen yang suka sibuk sama dunianya sendiri itu pasti tidak akan datang di hari kerja seperti ini.


Aldrich pergi ke depan dan mengintip dibalik jendela. Dia melihat seorang pria dengan mantel coklat selutut dan wajah yang tak lagi asing di matanya. Dia pun langsung membuka pintu, berucap, "Paman Helio?"


Helio membungkuk sopan, tersenyum menyapa Aldrich, "Yang mulia"


Aldrich membuka pintu dan mempersilahkan Helio masuk kedalam. Dia membawa banyak sekali barang. Koper, beberapa tentengan tas dan kotak. Karena kepenuhan mengangkut barang-barang tersebut, Aldrich berbaik hati mengambilnya sebagian.


"Terimakasih yang mulia" Helio tidak sungkan sama sekali ketika Aldrich mengambil beberapa kotak dari pelukannya.


Aldrich mengangguk santai dan berjalan ke ruang tengah. Helio mengikuti di belakangnya.


"Kastil Baginda di dunia manusia ternyata cukup besar juga" Tutur Helio. Sekilas memandangi betapa besarnya ruang tengah kastil tersebut. Kemudian dia meletakkan koper di dekat sofa dan tas-tas di atas meja kopi.