
Diana sudah pergi kedalam kediaman besar miliknya. Maribel berkata bahwa nanti akan ada orang yang menyambut kedatangannya dengan hanya cukup mengatakan kalau dia adalah pelayan baru yang akan bekerja.
Setelahnya Maribel segera masuk ke dalam mobil.
Melihat itu, Callie langsung menyalakan mesin dan bergegas ke perusahaan.
Sepanjang jalan, dia menanyakan beberapa hal untuk mengutarakan rasa penasarannya.
"Sebenarnya apa yang anda lakukan di kastil tadi? Bukannya itu tempat yang tanpa sengaja anda masuki pada malam ketika anda dikejar-kejar penjahat? Tapi bagaimana bisa anda berada di sana lagi?" Callie melirik sepintas ke spion depan. Melihat Maribel yang duduk santai di belakangnya dari sana.
Maribel tersenyum penuh di bibir kecilnya, "Ceritanya panjang. Tapi yang perlu kau ketahui, sekarang ini aku sedang menyamar sebagai pelayan di tempat itu"
"Apaa?" Callie yang sedang fokus menyetir itu langsung terkaget, "Anda ini yang benar saja, menyamar jadi pelayan? Sebenarnya apa yang anda coba lakukan?"
Maribel menjilat bibir bawahnya dan matanya dipenuhi dengan senyuman halus, "Bukan apa-apa" Gelengnya.
Callie mengerutkan keningnya.
Maribel dapat melihat pantulannya di spion depan. Sekretarisnya itu dipenuhi jejak ketidakpercayaan di wajahnya.
Maribel menghela nafas, "Kau tidak perlu khawatir. Pekerjaan sampingan ini tidak akan menggangu perfoma ku sebagai pemimpin perusahaan" Ucapnya. Matanya berkedip dengan senyuman, menatap wajah Callie yang terpantul di spion depan.
Callie menghela nafas panjang. Dia sungguh tidak habis pikir dengan bos cantiknya itu.
Tidak bisakah dia fokus saja menjadi pimpinan perusahaan? Posisinya saja sebagai ketua belum cukup kuat tapi dia sudah bermain penyamaran tak jelas diluar sana, apa menurutnya dia sedang membintangi drama?
Maribel sepertinya akan menangis jika tau apa yang sekretarisnya itu pikirkan.
......................
Setelah insiden pemecatan kemarin, banyak perubahan besar yang terjadi di antara kalangan karyawan. Situasi tersebut sangat menguntungkan Callie. Dia tidak perlu berhadapan dengan tatapan sinis mereka tiap kali melakukan interaksi mengenai pekerjaan dan yang pastinya Maribel menjadi lebih dihormati dan disegani.
Memimpin rapat pagi, Maribel duduk dengan punggung tegap dan ekspresi wajahnya yang serius itu tajam dan mempesona. Membuat beberapa orang di meja rapat kehilangan fokus dan beberapa yang lain terkesima.
Breta yang melihat itu tidak bisa merasa tenang. Tangannya yang dibawah meja itu tampak beberapa kali terkepal sambil mempertahankan kestabilan emosi di wajahnya.
Siang harinya, Callie menanyakan soal makan siangnya. Tapi Maribel yang buru-buru pergi meninggalkan ruang itu hanya berkata, "Kau pergilah duluan. Aku akan makan nanti"
Melihat punggung kurus yang hampir setipis kertas itu berangsur-angsur hilang dari pandangan, Callie menghela nafas panjang, "Haa, kenapa pola makannya buruk sekali"
Di luar, tepatnya di pinggir jalan besar. Maribel melambaikan tangannya menghentikan taxi yang lewat. Setelahnya dia masuk dan memberitahu alamat tujuannya.
Maribel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi perusahaan yang menyediakan layanan ketenagakerjaan bersih-bersih, "Halo"
"Ah, begini, saya membutuhkan sepuluh pekerja untuk bersih-bersih di kediaman saya"
"Ya, untuk siang ini"
"En, saya akan mengirimkan alamatnya. Tolong untuk datang segera"
"Baik, terimakasih"
Maribel menutup panggilan dan matanya melirik keluar jendela. Memperhatikan jalanan kota yang panas dan padat.
Setiba di kastil, Maribel menahan supir taxi tersebut untuk tidak segera pergi dan dia mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai gantinya.
"Apa ini dengan nona Maribel?" Tanya salah seorang dari mereka yang dia duga sebagai ketua tim.
"Benar"
Maribel langsung memberitahu apa-apa saja yang harus mereka lakukan. Mulai dari menyapu halaman yang penuh dengan dedaunan kering, menghisap debu di sepanjang karpet yang tergelar di kastil dan membersihkan bagian lainnya.
Seperti itu pekerjaan soal kastil pun terselesaikan dan Maribel dapat dengan tenang kembali ke perusahaan.
Di sisi lain Aldrich sedang belajar belajar mengendarai mobil bersama Parker. Awalnya dia meminta Sean untuk menjadi gurunya dalam menyetir mobil. Tapi entahlah sibuk atau barangkali hanya sok sibuk, Sean menolaknya dengan alih-alih tugas dan sebagainya.
Sean juga berkata jika dia ingin, dia dapat memesan seseorang khusus yang akan mengajarinya tapi itu tidak bisa hari ini. Karena Aldrich sudah tidak dapat menunggu, diapun berlari cepat menggunakan kekuatan vampir nya hingga mencapai rumah sakit kecil tempat Parker bekerja. Meminta tolong pada pria medis itu untuk mengajarinya.
Dia belajar dari jam sembilan pagi hingga hari menjelang siang menggunakan sedan putih milik Parker.
Prok..prok..
Parker bertepuk tangan menyambut Aldrich turun dari mobilnya.
"Padahal kau baru saja mempelajarinya, tapi langsung saja menjadi begitu mahir" Orang yang melihat, mungkin tidak akan tau kalau pria muda itu baru saja belajar menyetir.
Aldrich tersenyum lebar dengan sorot mata tulus penuh terimakasih berkata , "Ini berkat bantuanmu paman. Kau guru yang baik" Aldrich terdengar cukup sopan.
Dia selalu menghargai dokter murah hati itu yang telah berkontribusi besar mencegah ibunya dari kematian akan kepasrahan untuk hidup dan memiliki andil yang besar ketika kelahirannya.
"Tidak. Ini karena kemampuan mu yang begitu cepat mempelajari sesuatu. Kau..." Masih terbayang di benak Parker bagaimana bayi mungil pucat yang menangis tanpa henti karena menginginkan darah, kini sudah berdiri di hadapannya menjadi sosok pemuda yang sangat rupawan, "Kau telah tumbuh dengan sangat baik" Ucapnya dengan seulas senyum yang terbit di balik kacamatanya.
Aldrich dapat merasakan ketulusan suara Parker yang penuh makna, "Terimakasih paman" Mungkin, berkat itulah dia selalu memperlakukan Parker dengan sedikit berbeda dari pamannya yang satunya...
Sean.
"Aku telah mengganggu waktu mu begitu banyak seharian ini, apa tidak masalah?"
Parker tersenyum menggeleng, "Tidak sama sekali. Perawat telah menginformasikan kepada ku kalau belum ada pasien sama sekali seharian ini"
"Apa biasanya selalu begitu?"
Parker mengangguk, "Orang-orang di desa sini cukup sehat. Paling aku hanya memiliki beberapa pasien yang datang karena demam atau batuk flu biasa. Bahkan pernah dalam sehari aku tidak kedatangan pasien sama sekali"
Aldrich melirik ke arloji hitam yang melingkari tangan kirinya, "Ini sudah masuk jam makan siang. Paman, bagaimana jika aku mentraktir mu?"
"Aku tidak akan sungkan kalau begitu" Parker tersenyum cerah.
Maribel telah kembali ke perusahaan dan melewatkan makan siangnya. Semalam dia hanya mengkonsumsi telur, paginya tak menyentuh sarapan apapun dan siangnya memilih tidak makan. Barangkali karena sudah terbiasa melewatkan waktu makan, Maribel dapat tetap tampil dengan performa yang baik selama jam rapat.
Hingga menjelang sorenya ketika dia kembali ke kastil.
Maribel mendapati sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, menekan perutnya yang sakit, dia meringkuk menyedihkan di atas kasur.
"Ah, tidak.."
"Kenapa maag ku harus kambuh sekarang"
"Uhh.."