CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|32|. Di Tahan Di Kantor Kepolisian



Karena Aldrich sudah bisa menyetir, dia kali ini keluar dengan mengemudikan mobil legendaris milik ayahnya. Meskipun sudah sangat tua, tapi peralatan didalamnya masih mulus terawat. Hanya beberapa bagian yang terlihat usang. Perjalanan pun terasa lebih mulus, itu sedikit mengingatkan Aldrich pada malam ketika Maribel mempertajam kecepatan mobilnya hingga dia refleks menjerit.


Mengingat itu, Aldrich yang sedang menyetir itu tanpa sadar tersenyum.


"Apakah se-menyenangkan itu?"


Penasaran. Aldrich pun mencoba mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Di tengah jalan yang sepi, mobil klasik itupun tampak melesat jauh seperti pintasan angin. Jendela yang dibiarkan terbuka, membuat Aldrich dapat merasakan kesegaran angin luar yang datang menghantam.


Aldrich menikmatinya dan begitu saja berteriak keseruan.


"Huuuu...."


"Benar, ternyata ini cukup menyenangkan"


Hingga ketika memasuki jalan kota, Aldrich menormalkan kecepatannya kembali. Tapi siapa yang menduga? Tepat ketika lampu lalu lintas menjadi merah, tampak seorang polisi menghampiri dari mobil ke mobil hingga ke mobilnya.


Polisi tersebut mengetuk kaca jendela.


Aldrich menurunkan kaca jendela mobilnya, "Ya?"


"Bisa tunjukkan kartu SIM dan STNK anda?"


Aldrich mengerutkan dahinya dan matanya berkedip dalam tatapan bingung, "Maaf, SIM dan STNK itu apa ya?"


......................


Sean sibuk mengajar di kelas. Ponselnya telah berdering berkali-kali, dia langsung tau kalau itu dari Aldrich. Kesal karena kefokusan mengajarnya terganggu, Sean langsung menonaktifkan ponselnya.


"Sampai di sini, apa ada yang ingin bertanya?" Tanya Sean pada audiensi nya.


Aldrich yang sudah berada di kantor kepolisian itu benar-benar ingin mengutuk Sean detik itu juga. Satu-satunya paman vampir angkat yang dimilikinya di negri manusia, tapi sama sekali tidak bisa diandalkan.


Para petugas polisi yang berlalu lalang, sekilas melirik Aldrich heran. Mereka takjub dengan penampilannya yang mengenakan mantel panjang selutut itu sangat tidak sesuai dengan hari yang sangat cerah.


"Anda sungguh tidak tau apa itu kartu SIM dan STNK?" Tanya petugas.


Aldrich menggeleng dengan polosnya, "Tidak"


Apa di dunia manusia memiliki benda seperti itu?


Kenapa aku tidak pernah tau?


Beberapa polisi yang ada di sekitar tertawa rendah mendengar hal itu. Mereka seperti baru saja mendengar lelucon, "Yang benar saja, berapa umurnya?"


"Bagaimana bisa kartu SIM dan STNK saja tidak tau?"


"Pftt..."


"Bocah sekolah dasar saja mengetahuinya. Dia jelas sedang berbohong"


"Haa, kau benar. Aku tidak pernah mendengar kebohongan yang seburuk itu"


"Pftt..."


Aldrich dapat menangkap jelas isi percakapan dan gelak tawa mereka yang menertawakan nya dengan konyol. Namun dia sama sekali tidak terusik. Hanya duduk tenang dan menatap petugas di depannya yang sedang memperhatikannya dengan sorot mata serius.


"Apa itu mobil milikmu?" Tanya petugas itu lagi.


"Ya" Bisa milik siapa lagi kalau bukan miliknya?


Petugas tersebut menatap Aldrich dalam, "Kau sedang tidak berbohong?"


Aldrich tersenyum, menarik sudut bibirnya, "Ha, buat apa aku berbohong?"


Mobil legendaris itu hanya hitungan jari di dunia. Pemiliknya pasti sangat kaya. Memperhatikan penampilan pria itu, petugas tersebut menduga, "Apa itu milik ayahmu?"


Aldrich mengangguk, "Ya. Tapi sekarang itu milikku"


"Kalau begitu suruh ayahmu datang kemari untuk mengambilnya"


"Apa?" Aldrich membelalak kan matanya.


Ayahnya berada di Merland sekarang. Dia tidak bisa menghubunginya menggunakan perangkat panggilan di dunia manusia.


"Jangan membodohi ku dengan tak tau apa itu SIM dan STNK. Haa, konyol sekali"


Aldrich mengatupkan mulutnya, kehabisan kata.


"Kenapa anak orang kaya seperti kalian ini suka sekali bertingkah? Apa susahnya membawa bend, seperti itu saja di dompet mu?" Gerutu si petugas yang bukan sekali dua kali dia berhadapan dengan soal seperti itu.


"Cepat telfon ayah mu datang, atau kau hanya bisa pulang tanpa membawa mobil mu"


Aldrich menarik nafas panjang. Dia tidak punya pilihan, terpaksa melakukan sedikit kebohongan, "Ayahku sedang tidak ada disini"


Petugas itu langsung menaikkan salah satu alisnya, "Kenapa? Kau mau bilang kalau ayahmu sedang dinas diluar kota?"


Aldrich mengedipkan matanya, tak percaya petugas itu akan menerka pikirannya begitu langsung.


Petugas tersebut tersenyum mengejek, "Bukan sekali dua kali aku berhadapan dengan hal seperti ini. Jika ayahmu benar-benar tidak bisa datang, kalau begitu biarkan salah seorang wali mu yang datang"


Seperti itu, petugas itu pun pergi meninggalkan Aldrich yang terduduk kalut di kursinya.


'Haa, ini adalah kali pertama aku menyetir...'


'Kenapa harus begitu sial?'


Aldrich mengambil ponselnya, berpikir untuk menelpon Parker. Tapi dia merasa tak nyaman mengganggunya. Terlebih dia sudah begitu sering mengusik waktunya akhir-akhir ini.


Terakhir dia mengirimkan pesan singkat untuk Sean.


'Aku di kantor kepolisian. Jemput aku'


Saat pesan terkirim, Sean baru saja mengakhiri kelasnya. Dia berjalan keluar dari kelas sambil memperhatikan notifikasi pesan yang baru saja masuk.


Karena sudah tidak ada lagi jadwal mengajar, Sean langsung memasuki mobilnya berniat untuk pulang. Tapi ketika membaca pesan dari Aldrich.


Sean membelalak kan matanya terkejut, "Yang benar saja, bocah ini..."


Sean langsung menancap gas mobilnya untuk bergegas ke kantor kepolisian. Setibanya di sana, dia segera masuk dan melihat Aldrich yang duduk bosan di kursi depan meja petugas.


"Masalah apa yang kau buat?"


Aldrich menoleh kearah Sean dengan wajah memberengut, "Akhirnya kau datang" Alih-alih menjawab pertanyaan Sean, Aldrich menggerutu.


Dia masih kesal karena Sean terus mengabaikan panggilannya. Terlebih situasinya sangat genting.


Sean sudah terbiasa dengan piawai keponakan angkatnya itu. Dia menoleh kearah petugas, "Maaf, sebenarnya masalah apa yang telah dilakukan keponakan saya?"


Petugas tersebut menatap Sean dengan sorot mata memeriksa, "Anda adalah paman anak ini?"


"Ya" Angguk Sean.


Memperhatikan dua wajah tampan menawan itu silih bergantian, petugas tersebut mengangguk kan kepalanya, "Bisa ku lihat. Kalian memiliki gen keluarga yang baik"


Sean tersenyum tanpa sungkan menyambut pujian itu.


"Dia mengemudi tanpa membawa SIM dan STNK di tangannya"


Sean agak terkejut dan menoleh kearah Aldrich, "Kapan kau bisa menyetir?"


Mendengar pertanyaan tersebut, petugas itu langsung mengerti perkaranya, "Ah, jadi keponakan mu ini tidak bisa menyetir hum? Pantas saja dia terus berbohong mengatakan tidak tau apa itu SIM dan STNK"


Sean tersenyum dengan ekspresi yang tidak tau harus mengatakan apa.


Petugas tersebut menoleh kearah Aldrich, "Apa kau tau betapa bahayanya mengemudi tanpa keterampilan? Kau bisa membahayakan nyawa orang-orang di sekitarmu"


"Aku sudah memiliki ketrampilan mengemudi. Aku sudah mempelajarinya kemarin" Aldrich membela diri.


Petugas tersebut menatap Aldrich dengan ekspresi geram tidak tau harus mengatakan apa lagi, "Jika kau benar-benar memilikinya maka urus dulu surat izin mengemudi mu. Atau jika tidak keterampilan mu tidak akan di akui"


Aldrich bergumam, "Aku baru tau mengemudi harus memiliki surat"


Sean yang dapat mendengar gumaman nya itu, tampak menghela nafas panjang.