CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|37|. Di Tolak Oleh Pria Di Kencan Buta



Maribel mengangkat kepalanya ke asal suara. Dia melihat seorang pria yang seusianya, mungkin sedikit lebih tua, berdiri didepannya dengan mengenakan jas abu-abu formal.


"Ya" Maribel tersenyum, mengangguk.


Pria itu mengulurkan tangannya, "Saya, Andrew"


Maribel menyambut hangat uluran tangannya, "Maribel"


Pria itu tersenyum dan duduk. Wajahnya masih dalam kategori incaran para gadis. Kulitnya kuning langsat, matanya hangat dan bibirnya cukup menarik. Tapi belum cukup untuk menampik wajah tampan Aldrich dari pikirannya.


Perbincangan yang cukup formal pun terjadi. Menanyakan hal-hal biasa seperti hobi, kesenangan hingga pekerjaan.


"Jadi anda ini seorang CEO sebuah perusahaan perabotan yang terkenal itu?" Pria itu tampak tidak menduganya.


Maribel mengulum senyum tipis, "Begitulah. Ini perusahaan orangtuaku yang diturunkan padaku, jadi tidak ada yang istimewa soal itu"


"Tetap saja itu hebat. Di usia semuda ini, anda sudah memimpin sebuah perusahaan besar"


Maribel tersenyum lebar, "Terimakasih untuk pujian mu"


Pria itu mengangguk kecil. Tapi senyum di matanya agak berubah. Itu menunjukkan jejak keberatan, "Em.. sebelumnya maaf mengatakan ini"


Pelayan baru saja datang. Mengantarkan air lemon pesanan Maribel.


Pria itu pun menahan ucapannya sebentar.


"Terimakasih" Maribel tersenyum santun pada si pelayan.


Pelayan itu membalas senyum Maribel dan menoleh pada teman duduknya, "Apa anda ingin memesan pak?"


"Ya, tolong Ice Americano.."


"Baik" Pelayan itu mengangguk dan pergi.


Maribel menyesap minumannya dan mengangkat kepalanya kearah pria itu, menarik bibirnya dari gelas, dia bertanya, "Baru saja anda ingin mengatakan apa?"


"Ah, itu..." Pria itu tampak meletakkan tangannya di atas meja, melipatnya dan menatap Maribel dengan tatapan agak bersalah, "Tadinya saya pikir, seseorang yang datang pada kencan buta kali ini, seorang wanita lajang tanpa pekerjaan"


Mendengar kata 'kali ini', sepertinya Maribel bukanlah wanita pertama yang menjadi partner kencan buta nya.


"Saya menduga begitu, karena temanku berkata tak ada informasi terkait pekerjaannya— jadi dia langsung mengira anda ini wanita yang tak punya pekerjaan. Tapi teryata..."


Dia CEO muda yang cantik dan mapan.


Maribel dapat merasakan senyum kekecewaan samar-samar terbit di bibir pria itu walau dia tidak tau kenapa.


"Maaf, saya menginginkan wanita rumahan sebagai pendamping hidup saya. Bukan wanita karir. Jadi saya rasa..."


"Saya mengerti" Maribel memotongnya dengan senyum simpul.


Seperti itu kencan buta pun berakhir. Maribel kembali ke perusahaan dengan perasaan tenang alih-alih kecewa. Callie masuk kedalam ruang dan bertanya santai, "Bagaimana dengan kencan buta nya Bu? Apa berjalan lancar?"


"Tidak"


"Apa pria itu menolak anda?" Tanya Callie agak menduga.


"En"


Maribel tersenyum kecil, seperti mampu membaca pikiran Callie, dia pun mengatakan, "Dia menginginkan wanita rumahan, bukan wanita karir seperti ku" Maribel kemudian mengkedikkan bahunya, "Jika sudah begitu, aku bisa apa?"


"Ah, jadi begitu"


Sangat disayangkan...


Batin Callie dalam hatinya.


Malam harinya. Maribel merasa bosan. Dia pergi ke dapur dan tanpa sengaja mencuri dengar pembicaraan beberapa pelayan.


"Ada kenalan ku yang sedang mencari teman kencan buta. Apa ada dari kalian yang tertarik?"


"Ah, cepat katakan..apa dia tampan? Jika dia tampan berikan saja padaku. Biar aku yang datang" Sahut pelayan yang lain. Terlihat cukup antusias.


"Tentu saja tampan. Tapi..aku agak ragu dia menginginkan salah satu di antara kita"


"Kenapa begitu?"


"Kenalan ku ini seorang putra dari keluarga kaya. Memangnya keluarga kaya mana yang mau menantu seorang pelayan seperti kita?"


"Ah, jika begitu untuk apa kau bertanya" Jawab yang lainnya, terdengar agak menggerutu karena kecewa.


"Yah aku hanya asal bertanya. Lagipula aku ingin kalian tau, biar gini-gini..aku punya kenalan anak orang kaya"


"Memangnya kau kenal dia di mana?"


"Ah itu... rahasia.."


Yang lainnya langsung berseru mencibir.


Maribel merasa agak tertarik. Dia pun tanpa ragu datang dan bertanya, "Bagaimana jika aku yang datang?"


Sontak para pelayan terkejut, "Ah, nona muda"


Maribel tersenyum, "Berikan alamat kencan buta nya padaku. Sepertinya aku tertarik"


......................


Pelayan yang tadinya membuka topik soal kencan buta, pergi ke taman belakang untuk menjawab panggilan Breta dari telfon.


"Saya sudah melakukan seperti apa yang anda pinta. Nona Maribel terpancing dan sekarang sudah pergi ke alamat seperti yang anda kirimkan barusan"


Breta sedang duduk selonjoran di atas sofa dengan majalah fashion di pangkuan, bibirnya tertekuk, "Bagus"


"Kalau begitu bagaimana dengan yang anda janjikan?"


"Akan saya transfer sebentar lagi. Bersama bonusnya"


"Ah, terimakasih bu" Pelayan itu terdengar sangat senang.


Panggilan pun berakhir.


Breta menutup majalah yang sedang dilihatnya dan senyum licik muncul di raut wajahnya awet muda, "Haa, semoga kau menikmati kencan buta yang ku siapkan untuk mu keponakan cantikku.."