
Maribel menatap pintu lemari yang terbuka dan di dalamnya terpampang lipatan-lipatan pakaiannya yang sangat kacau.
"Padahal aku sudah melipat nya serapi mungkin. Tapi kenapa masih saja terlihat berantakan?" Keluhnya.
Tok..tok..
Ketukan di pintu langsung menyentak Maribel yang terduduk lesu di lantai. Secepatnya dia bangun, "Ya, sebentar" Serunya dan buru-buru menutup pintu lemari.
Apa yang terjadi jika Aldrich melihat lemarinya yang berantakan. Bisa-bisa dia akan meragukannya mempercayakan kastil besar ini untuk di urus olehnya.
Maribel meraih gagang pintu dan membukanya, "Tuan Aldrich" Senyumnya muncul di bibir. Mengangkat punggung tangannya, dia menyapu pelipisnya yang sedikit berkeringat.
"Kau sudah selesai beberes?" Aldrich melihat gadis itu cukup kelelahan. Memangnya apa saja yang sudah dilakukannya? Dia ingat kondisi kamar pelayan juga sudah dibersihkan oleh kelompok bersih-bersih yang dikirim Sean.
'Ku pikir itu hanya memasukkan baju ke dalam lemari, apakah semelalahkan itu?'
"Sudah"
"Kalau begitu ayo pergi"
"Sebentar" Maribel refleks memegang lengan Aldrich.
"Ada apa?" Aldrich menatap tangan gadis itu yang menyentuh lengannya. Apa pelayan manusia memang seberani ini terhadap tuan mereka? Dia langsung menepis tangan tersebut.
Maribel tersenyum canggung, "Ah, maaf" Dia meremas jari-jemarinya, menyadari kesalahannya.
"Ingatlah aku tuan mu di sini. Meskipun aku memperlakukan mu dengan santai. Kau tidak bisa sembarang menyentuhku seperti itu"
Maribel menggigit bibirnya, "Maaf.."
"Etiket dasar seperti ini saja kau tidak tau. Jangan bilang ini adalah pengalaman pertama mu sebagai pelayan?"
Maribel hanya melirik Aldrich sekilas, hatinya merasa sedikit sedih dan dia menunduk menatap lantai, 'Sepertinya sangat sulit menghadapi pria ini', batinnya.
Aldrich menarik nafas panjang dan menghelanya pelan. Melihat diamnya gadis itu ditempat, seperti dia baru saja menjadi seorang tuan yang menganiaya pelayannya.
"Katakan, kau mau apa?"
Maribel mengangkat kepalanya dan mata coklatnya menatap Aldrich dengan senyum malu, "Itu.. bolehkah saya mandi dulu? Saya merasa sangat lengket dan bau. Takutnya anda tidak akan tahan berbelanja dengan saya yang bau masam seperti ini"
Aldrich menautkan sepasang alisnya. Tiba-tiba dia membungkuk ke depan, hidungnya yang mancung jatuh begitu dekat di antara pundak dan bawah dagu gadis itu.
Maribel seketika membeku di posisinya berdiri.
Hidung Aldrich tampak mengerut saat dia mencium, "Tidak bau"
Mengangkat kepalanya, tatapannya jatuh begitu dekat menjangkau wajah cantik Maribel yang sudah panas karena aksi acaknya, "Kau tidak berbau masam sama sekali"
Hawa panas itu kini menjalar hingga ke daun telinganya, membuat Maribel merasa seperti akan meledak di tempat.
"Oh, b-begitukah?" Menepis rasa gugupnya, dia berniat akan mencium bahu ketiak kanan dan kirinya, tapi memikirkannya..
'Tidakkah tindakan seperti itu cukup memalukan di hadapan pria tampan?' Pikirnya.
Niatnya pun tertahan.
"Apa yang kau pikirkan?" Aldrich menyadarkan lamunannya.
"Kalau begitu ayo cepat turun. Kau bisa mandi setelah kita pulang nanti"
"Eum"
Seperti itu Maribel menutup pintu kamarnya dan mengikuti Aldrich keluar dari Kastil.
Aldrich pergi mengangkat pintu besi garasi dan Maribel menunggu sambil memperhatikan. Dia melihat lamat-lamat bagaimana otot-otot pria itu bekerja saat mengangkat pintu tersebut hingga mendorongnya sepenuhnya ke atas.
Dalam hati dia bertepuk tangan, 'Wah, sungguh pemandangan yang indah'
Aldrich Sepertinya akan menangis jika tau apa isi pikiran pelayannya itu.
Aldrich melangkah masuk kedalam diikuti oleh Maribel. Dia menarik kain putih yang menutupi sebuah benda, saat itu debu berterbangan dan dua orang itu sama-sama terbatuk-batuk.
"Woah.." Mata Maribel berbinar takjub, memandangi mobil hitam klasik legendaris yang biar tampak sedikit lusuh karena lama tak terpakai, tapi sekilas Maribel dapat langsung menebak, "Bukankah ini Lamborghini 400 GT?" Serunya takjub.
Maribel mendatangi mobil tersebut dan meraba permukaannya, "Ini adalah salah satu mobil klasik kelas dunia yang harganya berkisar 365,885 dolar AS. Wah, apa ini juga milik ayah anda tuan?"
Aldrich mengernyitkan keningnya, "Pelayan seperti mu cukup tau soal barang mahal seperti ini?"
Maribel saking begitu takjubnya melihat mobil sport legendaris itu, sampai terlupa dengan identitasnya sekarang. Secepatnya dia menjelaskan, "Memangnya ada apa dengan itu? Apa ada aturan seorang pelayan tidak bisa mengetahuinya?"
Aldrich meringkuk kan sudut bibirnya, berkata, "Kenapa kau sarkastik sekali? Aku kan hanya bertanya. Karena kebanyakan orang menengah ke bawah hanya sebatas tau itu barang mahal. Tapi jarang dari mereka yang mengenalinya hingga ke merek dan kisaran harganya sedetail dirimu tadi. Ha, aku hampir saja curiga kau ini putri dari keluarga kaya"
Maribel merasa seperti dirinya baru saja terciduk, "Itu...saya kebetulan saja mengetahuinya. Karena dulu saya sering membaca beberapa majalah yang ada menyebutkan informasi tentang otomotif. Jadi saya tau sedikit soal ini" Terangnya. Soal itu dia tidak sepenuhnya berbohong. Karena di waktu luangnya ketika bersantai. Dia kerapkali membaca majalah fashion hingga beberapa artikel yang berkenaan dengan otomotif.
Aldrich tidak berminat menanggapinya lagi. Dia berjalan ke samping jendela mobil bagian bangku pengemudi. Jendelanya setengah terbuka. Memasukkan tangan kedalamnya, dia mengambil kunci yang terdampar di atas dasbor.
"Kau bisa menyetir?" Selama tinggal di Merland yang masih menggunakan transportasi tradisional seperti kereta kuda di era kerajaan. Aldrich sama sekali belum pernah belajar mengemudi karena hal itu.
Maribel ragu-ragu sejenak. Kalau dia mengatakan bisa, tidakkah sikapnya akan kelihatan mencurigakan?
"Aku tidak pernah menyentuh benda seperti ini sebelumnya. Jadi jika kau tidak bisa menyetir, ku pikir kita akan pergi mengambil taxi"
Maribel tidak menduga hal itu. Ketampanan didepannya itu tidak tau cara mengendarai sebuah mobil? Ah, sungguh sangat disayangkan. Padahal dia baru saja akan membayangkan melihat otot-otot lengannya yang menawan itu bergerak indah saat memutar stir mobil. Tapi siapa yang mengira...
"Aku bisa" Maribel berpikir, tidak buruk juga jika dia mencoba menyetir mobil legendaris itu. Membayangkan saja, perasaannya sudah membuncah dengan kemewahan yang tak tergambarkan, "Saya punya SIM di tangan, juga pernah bekerja sebagai supir sebelumnya. Jadi anda dapat mempercayakan mobil mahal ini kepada saya"
Aldrich tidak meragukannya, "Kalau begitu tangkap ini" Dia melempar kunci mobil tersebut kepada gadis itu.
Maribel dengan sigap menangkapnya.
Keduanya masuk kedalam mobil. Seperti itu mereka pergi ke pusat pembelanjaan dengan Maribel yang menyetir.
Maribel mengemudi dengan tenang, tapi masih belum mendapatkan esensi yang diinginkannya. Karena itu dia memikirkan sesuatu seperti...
"Tuan Aldrich" Maribel sekilas menoleh kearah pria tampan yang duduk di bangku sampingnya itu.
"Eum" Aldrich menatap keluar jendela, memandangi pemandangan luar yang masih ramai dengan hijau pepohonan.
Mereka masih belum mencapai kota.
"Bolehkah saya melakukan sesuatu dengan mobil anda?"