CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|36|. Mengatur Kencan Buta



Setelah keheningan berlalu sekitar bermenit-menit lamanya. Aldrich menarik nafas dalam, membuat Maribel yang mendengarnya, mengetap kan bibirnya— takut dan merasa bersalah.


Maribel takut Aldrich akan marah atas kebohongannya dan dia juga merasa bersalah karena telah mempermainkan kepercayaannya.


Aldrich sungguh tidak mengerti bagaimana otak gadis itu bekerja. Hanya memandangi wajah cantiknya yang dipenuhi kepolosan, satu hal yang terpintas di pikirannya. Gadis itu... memiliki kenaifan yang mengingatkannya akan ibunya.


"Pergilah"


"Huh?" Maribel sedikit terkejut dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria itu... menyuruhnya pergi?


Mata coklat Aldrich menatap mata hitam besar Maribel dengan sorot datar dan jauh, "Aku akan menganggap kebodohan yang kau lakukan ini tidak pernah terjadi. Karena itu, pergilah"


Bulu mata Maribel bergertar. Itu tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Dia nyaris mengira, barangkali Aldrich akan marah— dengan tatapan dinginnya yang datang mendekat, membisikkan kata-kata mencekam yang siap menusuk ke tulang-belulang nya seperti es. Tapi ini ...


"A-apa kau tidak akan menghukum perbuatan ku?"


"Tidak"


Satu sudut bibir Maribel bergerak samar, nyaris seperti akan tersenyum. Tapi sebelum itu merekah...


"Sebagai gantinya, aku tidak ingin...melihat wujud mu muncul di hadapan ku lagi"


Begitu saja sirna. Alih-alih pengampunan, itu lebih terdengar seperti hukuman yang siap meledakkan dunianya menjadi tak berbentuk.


Sesaat Maribel berada dalam kekacauan yang bergejolak.


"Bereskan barang mu dan enyah lah!" Aldrich bangkit dari duduknya dan bergegas pergi menaiki anak tangga menuju lantai atas.


Menatap punggung tegap Aldrich yang sedikit demi sedikit hilang dari pandangan. Maribel menekan dadanya yang sakit.


'Ternyata, seperti ini sakitnya patah hati'


Maribel pergi dengan hatinya yang pedih ke kamarnya, membereskan barang-barangnya dan menelpon Callie untuk datang menjemputnya.


"Anda tidak lagi ingin bermain peran?" Callie membantu memasukkan koper besar Maribel ke bagasi belakang.


"Tidak lagi"


Callie membuka mulutnya, baru saja hendak menanyakan sesuatu yang lebih seperti lelucon. Tapi menyadari kesedihan Maribel, dia mengatupkan bibirnya dan tidak mengatakan apapun.


......................


Hari-hari berlalu, Maribel menyibukkan dirinya di perusahaan dari pagi hingga malam nyaris hampir seminggu penuh. Dia berusaha keras untuk menepis bayang-bayang menikahi Aldrich dalam imajinasinya dengan mengerjakan serangkaian pekerjaan yang menguras otak.


Tapi nihil. Bayang-bayang Aldrich mengecup keningnya manis dan mendekapnya hangat, begitu saja terpintas di minda nya seperti nyata.


Jika sudah begitu, Aldrich menutup dokumen di tangannya dan berdiri di depan dinding kaca, menatap suasana kota malam dari lantai tempatnya bekerja. Dia memeluk dirinya dengan wujud kesepian dan tak memperkirakan perasaannya yang akan sedalam itu untuk orang yang baru pertama kali dikenalnya.


"Haa, sepertinya aku terlalu mengenal sedikit pria. Mungkin itu kenapa ini terjadi"


Maribel mengeluarkan ponselnya dan menelpon Callie.


"Ya, bu? Apa ada hal yang penting sehingga anda menghubungi saya?" Callie baru saja beberes untuk tidur. Dia tahu akhir-akhir ini Maribel kerja lembur untuk mengalihkan pikirannya. Dia telah menduga kalau saat ini CEO muda itu pasti masih di perusahaan.


"Tolong atur kan kencan buta untukku"


"Ya?" Callie nyaris seperti baru saja berteriak.


"Aku ingin besok, sudah dapat menghadirinya"


"Tap— tapi Bu..."


Tut tut..


Panggilan terputus.


Dia saja tidak pernah ikut kencan buta sebelumnya dan CEO nya yang patah hati itu baru saja meminta...


"Haa, ini benar-benar membuat ku gila"


Callie terduduk lemas di pinggir ranjang dan menatap layar ponselnya lesu, "Kenapa harus sekali besok?"


"Kemana aku harus mencari pria untuk partner kencan buta nya?"


"Tidak, bukan itu yang penting. Kencan buta? Ha..ini di luar dari pekerjaan. Aku tidak bekerja untuk ini. Bukan kah seharusnya aku—"


Callie menghela nafas berat.


"Untuk pertama kalinya aku menyesali posisi sekretaris"


Karena permintaan tiba-tiba Maribel itu, Callie hampir bergadang semalaman. Mencari serangkaian profil pria-pria yang dapat disandingkannya dengan Maribel. Itu cukup sulit, karena hampir kebanyakan mereka pria mapan dan sukses yang sudah memiliki istri.


Malam itu, Callie benar-benar tidak berdaya.


......................


"Bagaimana jadwal ku selanjutnya?" Pintu lift berdenting terbuka dan Maribel melangkah keluar bersama Callie di sampingnya yang memegang tablet.


"Jadwal selanjutnya adalah kencan buta anda. Pukul dua siang di restoran berlian"


Maribel menghentikan langkahnya, "Kau berhasil mengaturkan nya?" Maribel mengira Callie akan meminta maaf padanya karena gagal dan meminta penambahan waktu.


Tapi sangat tidak terduga, wanita itu berhasil.


"Ya, saya berusaha keras melakukannya untuk anda"


"Terimakasih" Maribel tersenyum tulus.


"Dia salah satu pengacara dengan bayaran termahal di kota J. Mungkin posisinya masih tidak dapat disandingkan—"


"Tidak masalah" Potong Maribel.


"..."


"Selama dia seseorang yang tulus, itu sudah lebih dari cukup"


Dua orang itu tidak menyadari. Bahwa di balik bunga hias besar samping dinding, telah bersembunyi Breta yang mencuri dengar percakapan mereka.


Breta tersenyum sinis, mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kepada suaminya.


'Ku rasa, keponakan ku sudah tidak sabar untuk menikah'


'Perlukah kita membantunya?'


Maribel sudah sampai di restoran tempat janji kencan buta nya telah di atur oleh Callie. Jam belum menunjukkan pukul dua tepat dan partner kencan nya belum datang. Sambil menunggu, dia memesan air lemon dan memainkan ponselnya.


Notifikasi pesan dari Callie pun muncul.


'Pria ini adalah kenalan dari teman saya, dia tidak tahu kalau anda seorang CEO. Saya sengaja tidak memberitahu identitas anda'


'Semoga berhasil'


Maribel tersenyum membaca pesannya dan membalas.


'Terimakasih' sambil menambah emoji senyum.


"Apa ini dengan nona Maribel?"