
Aldrich keluar dari kastil tepat ketika pukul delapan malam. Sean mengajaknya bertemu di bar sekaligus memperkenalkannya dengan seorang manajer tempat itu. Karena kepemilikan bar sudah dialihkan kepadanya, Aldrich pikir perlu untuknya datang dan meninjau.
Bar itu cukup mewah. Masuk kedalam, dunia malam yang gemerlap dan kehidupan manusia yang hedonis menyambut retinanya. Melihat para pelayan dengan seragam mereka berputar-putar di ruang mengantarkan pesanan, pemandangan itu membuatnya teringat pada ibunya.
Kebetulan, dia menangkap salah satu pelanggan melecehkan seorang gadis pelayan yang baru saja menuangkan anggur kedalam gelas. Gadis itu terlihat akan marah, tapi takut bersamaan.
Pria itu semakin menjadi. Membelai betis mulus pelayan itu dengan tangan nakalnya.
Aldrich memanas, langsung memanggil salah seorang penjaga.
"Seret pria itu keluar"
"Anda—"
"Turuti perkataannya, dia adalah pemilik tempat ini" yang berbicara adalah Tommy. Manajer Bar yang baru saja di ganti karena manajer sebelumnya telah memilih pensiun.
"Baik"
Seperti itu, penjaga pergi menyeret pria itu yang terus-menerus meronta merasa tidak adil dan marah. Keributan kecil itu memancing beberapa pandangan yang melihat, tapi mereka tak begitu ambil pusing. Terus kembali tenggelam dalam kesenangan mereka.
"Tuan Aldrich" Tommy mengulurkan tangannya dengan senyum ramah, "Senang melihat anda malam ini di sini"
"En" Aldrich mengambil uluran tangannya dan membalas senyumnya sekenanya.
"Tuan Sean sudah menunggu di atas. Mari.."
Di sisi lain Maribel baru saja datang dengan gaun merah menyala separa lutut dengan kerah bagian atas yang cukup konservatif. Itu menyembunyikan keindahan lekuk tulang selangka nya yang memikat, biar begitu kulit putihnya yang bersinar dan hidup, membuatnya cukup mempesona.
Itu adalah kali pertama Maribel menginjak kehidupan malam yang bebas dan penuh gairah. Tanpa sadar dia memeluk tubuhnya, agak tidak nyaman.
"Apa ada yang melakukan kencan buta di tempat seperti ini?" Maribel baru saja berpikir untuk memutar langkahnya, memutuskan untuk berbalik.
Tapi sebuah tangan yang kekar dan hangat menahan sikunya.
Maribel menoleh ke belakang, "Maaf.." Dia menepis tangan asing yang baru saja menyentuh kulitnya.
"Apa kau partner kencan buta ku?"
Maribel mengedipkan matanya beberapa saat, "Anda tuan Griffin?"
Pria itu tersenyum tinggi, "Tepat sekali"
Begitu saja pria itu mendekat dan merangkul Maribel seakan mereka begitu akrab, "Tidak perlu begitu formal, cukup panggil aku dengan Griffin"
"Ah, ya Griffin" Maribel tersenyum dan dengan canggung melepas diri dari rangkulan pria itu. Dia secara tegas menunjukkan ketidaknyamanan nya.
Griffin tentu saja menyadarinya, "Ah, maaf" Dia mengangkat tangannya dan langsung menebak gadis seperti apa yang baru saja didekatinya.
Benar-benar seperti bunga yang tumbuh membesar di rumah kaca. Sama sekali tidak mengerti dengan ancaman dunia luar.
"Mari duduk" Griffin menarik kursi untuk Maribel duduk.
"Terimakasih"
Seorang pelayan datang mengantarkan gelas dan botol anggur premium.
"Aku tidak minum alkohol" Tukas Maribel, "Apa di sini ada jus?"
Griffin tersenyum, "Tentu"
Maribel menoleh ke pelayan, "Orange juice nya, tolong"
"Baik"
"Kau ingin menari?"
Maribel menggeleng, "Tidak"
"Kenapa?" Griffin sedari tidak berhenti tersenyum.
Maribel entah kenapa tidak suka dengan senyumannya. Itu.. rasanya agak berbahaya.
"Sepertinya melelahkan" Maribel mencoba untuk lebih santai.
Griffin tertawa ringan, "Begitu kah?"
Maribel mengangguk pelan, "En"
"Sebentar" Griffin bangun dan pergi.
Maribel tidak manaruh kecurigaan apapun. Dia mengedarkan pandangannya dan menonton kesenangan orang-orang di bar tersebut.
Griffin mendatangi pelayan yang mengantarkan pesanan mereka, "Biar aku saja"
Griffin mengambil alih dua gelas dari nampan dan menuangkan sesuatu di orange juice milik Maribel.
Takut Maribel melihat keanehan, dia memanggil pelayan yang lewat, "Antar dua gelas ini ke meja sana"
Pelayan itu mengangguk dan pergi.
Notifikasi pesan muncul. Griffin langsung mengeceknya.
'Bagaimana?'
'Keponakan ku sangat cantik bukan?'
Griffin tersenyum mengetik kan balasan, 'Ya. Cukup sempurna untuk menjadi istriku'
'Silahkan'
'Tapi dia gadis yang keras kepala'
'Lakukan sesuatu untuk menjeratnya'
Sekali lagi Griffin tersenyum, 'Aku mengerti'
Griffin segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan kembali ke meja.
"Maaf, aku baru saja membalas pesan" Griffin tidak berbohong soal itu.
"Ya" Maribel mengangguk dan dengan polosnya menyedot jus jeruk yang di pesannya. Dia mengerutkan bibirnya, "Jus jeruk di sini agak pahit"
Griffin agak tersentak. Jantungnya sudah berdetak hebat takut Maribel tidak akan meminumnya lagi. Namun kekhawatirannya tidak berlangsung lama ketika melihat Maribel kembali menyesap minuman orange tersebut.
Griffin tersenyum puas dalam hatinya.
"Jadi, dari mana kau tau soal informasi kencan buta ini?" Griffin membuka topik pembicaraan.
Seperti itu, percakapan mengalir hingga kesadaran Maribel berangsur-angsur hilang.
......................