
"Ini adalah peringatan pertama" Petugas tersebut melirik kearah Sean, "Silahkan selesaikan prosedurnya dan anda dapat membawa keponakan anda pulang beserta mobilnya"
"Baik" Angguk Sean yang sudah agak malu itu karena kecerobohan yang dilakukan keponakan angkatnya.
Sekeluarnya Aldrich dari kantor kepolisian. Sean menelpon orangnya untuk datang membawa pulang mobil yang dikemudikan Aldrich ke kastil.
"Kau ikut denganku" Sean masuk kedalam mobil dan menyuruh Aldrich untuk ikut masuk kedalamnya.
"Kita akan pergi kemana?" Aldrich duduk di bangku depan. Menoleh kearah Sean sekilas sambil memasang sabuk pengaman.
Sean menyalakan mesin mobil dan bersiap menyetir, "Mengurus segala hal wajib yang kau perlukan sebagai pria dewasa untuk menjalani kehidupan mu di negri manusia"
"Oh!"
Seperti itu Sean membawa Aldrich mengurus segalanya. Salah satunya, menemani Aldrich untuk mengikuti tes mengemudi hingga berhasil mendapatkan kartu SIM. Setelahnya dia memberikan beberapa informasi singkat tentang kehidupan di negri manusia.
"Jika kau membeli kebutuhan atau makan di sebuah restoran, kau dapat menggunakan kartu hitam ayahmu sebagai alat bayar atau barangkali memindai kode barcode dari salah sebuah aplikasi dompet online— para manusia umumnya menggunakan itu sekarang. Tapi ku pikir, kau cukup menggunakan hal konservatif seperti menggesek kartu" Itu karena Sean terlalu malas mengajari Aldrich melakukannya.
"Ya, lebih baik seperti itu. Aku terlalu malas mengikuti kemajuan teknologi di negri manusia" Ucap Aldrich yang manut saja.
"Sebenarnya masih ada beberapa hal lainnya. Tapi ku pikir, akan baik jika kau mempelajarinya sendiri saja. Bagaimanapun kau pernah tinggal di negri manusia sebelumnya, aku yakin itu tidak akan terlalu sulit bagimu"
"Eum"
Sean melirik arloji yang melingkari tangan kirinya. Itu sudah menunjukkan pukul enam lewat. Itu wajar mendapati sinar oranye senja mulai mencuat masuk menembus kaca jendela mobilnya.
"Sudah hampir malam, aku akan mengantarmu pulang"
Sean berpikir untuk menurunkan Aldrich dan menyuruhnya untuk naik taksi saja. Tapi dia terpikirkan sesuatu.
'Sepertinya aku perlu bertemu dengan pelayan di kastil Aldrich dan membicarakan beberapa hal'
......................
Maribel baru saja tiba didepan kastil dengan sedan putih milik sekretaris pribadinya. Callie ikut turun, mengantarkan Maribel ke depan pagar besi yang menjuntai tinggi.
"Kapan anda akan menyudahi permainan peran pelayan ini?"
Maribel mendorong pintu pagar, tersenyum kecil pada Callie, "Entahlah"
Mungkin setelah dia mendapatkan hati Aldrich?
Tanpa sadar hati Maribel tergelitik senang memikirkannya.
Callie mengambil nafas berat, "Tidak bisakah anda fokus saja mengurus perusahaan?"
Maribel terus menggeleng, "Tidak"
Callie mengedipkan matanya tak berdaya.
Menanggapi itu, Maribel meneruskan, "Aku menghabiskan masa muda ku tanpa cinta. Sekarang aku mau masuk kepala tiga, yang benar saja aku masih harus menunggu"
Callie tersenyum lucu, "Kepala tiga apa? Anda ini masih dua puluh lima. Lagipula wanita karir seperti anda dan saya ini apakah harus sekali peduli soal itu?" Ucapnya, matanya menatap lurus ke Maribel, "Bagaimanapun, pekerjaan adalah prioritas utama kita"
Maribel hampir sesak mendengarnya. Matanya menatap Callie dengan sedikit perasaan kasihan.
Barangkali dia cukup mengerti sekarang, kenapa penampilan sekretaris pribadinya itu begitu konservatif. Dengan setelan pakaian hitam- putih membosankan itu, dia memang tidak terlihat wanita yang bergairah untuk memiliki hubungan romantis.
"Apa kau ingin kesepian di masa tua mu huh?" Tanya Maribel.
Callie mengedipkan matanya, agaknya sedikit terkejut dengan pertanyaan yang begitu tiba-tiba itu, "T-tentu saja tidak"
Maribel menepuk pundak Callie berkata, "Kalau begitu ubah lah pemikiran mu dari sekarang. Pekerjaan memang penting, tapi kebahagiaan pribadi masih lebih penting. Jika kau tidak ingin kesepian di masa tua mu, carilah pasangan hidup mu dari sekarang. Karena ku dengar, akan susah mendapatkan seseorang yang cocok jika usia kita sudah melebihi tiga puluh"
Maribel sudah pergi masuk kedalam. Suasana kastil bersih dan terawat karena pembersihan yang dilakukan sekelompok pekerja kemarin. Karena tak ada piring kotor yang menumpuk, sepertinya yang harus dilakukan hanya...
"Mencuci baju?"
Seperti itu Maribel berberes dan berganti pakaian. Kemudian dia mengambil keranjang kotor yang berisi tumpukan baju Aldrich. Selama ia mengangkatnya dan berjalan, sama sekali tidak ada bau masam yang tercium, hanya sisa-sisa maskulin dari Cendana yang melayang ke udara, menyeruak masuk ke hidungnya.
"Ah, aroma ini mengingatkan ku pada pertemuan kami"
Hutan...
Gigitan ular dan hisapan kuatnya ketika mengeluarkan racun.
"Ha, bagaimana cara menggunakan ini?" Maribel meletakkan keranjang tersebut di atas meja dan berkacak pinggang menatap mesin cuci didepannya yang memiliki beberapa tombol.
Setelah mencermati makna tiap tombol seperti itu, sedikit dia mulai mendapatkan gambaran. Langsung saja dia membuka tutup tabung dan memasukkan pakaian kotor Aldrich kedalamnya. Tak lupa dia mengambil deterjen dan menuangkannya secukupnya.
"Selesai" Maribel tersenyum dan menekan tombol untuk memulai.
Hanya...
"Kenapa ini tidak bekerja?"
Mesin tersebut tidak bergerak sama sekali.
Maribel menekan tombolnya lagi, namun mesin tersebut tetap tidak berbunyi. Setelah tenggelam cukup lama dalam pikirannya, akhirnya...
"Ah, ternyata steker nya belum di colok kan"
Maribel langsung mencolokkan steker nya ke tempatnya dan kembali menekan tombol. Kali ini mesin menyala hanya...
"Kenapa kerjanya aneh sekali? Bukankah seharusnya kain-kain didalam sana berputar?" Maribel menatap bingung kaca bulat di tabung mesin cuci yang tidak menunjukkan sama sekali pergerakan didalamnya. Hanya ada suara mesin yang berbunyi.
"Apa memang seperti ini mesin cuci itu bekerja?"
Maribel berkedik bahu. Tak mau ambil pusing, dia langsung pergi untuk mengumpulkan botol-botol kaca darah yang sudah kosong, memasukkannya ke dalam plastik dan pergi keluar untuk membuangnya.
Saat itu dia mendengar suara mesin mobil yang datang dari luar. Perhatiannya pun teralih. Mengangkat pandangannya ke pagar. Dia melihat mobil sport hitam mengkilap baru saja menepi.
Maribel mengerutkan keningnya, "Manusia vampir itu mempunyai kenalan?"
Sean dan Aldrich keluar bersama.
Dua orang tampan, berkulit putih pucat dan dingin itu berjalan berdampingan memasuki pekarangan kastil dan berhasil membuat Maribel terkesima di posisinya berdiri.
"Ah, apa ras vampir semua se-tampan ini?" Maribel nyaris lupa menutup mulutnya yang ter-pelongo kala memandangi Sean dan Aldrich bergantian.
"Apa yang kau lakukan disini?" Aldrich berhenti berjalan, tepat ketika mata coklatnya menangkap keberadaan Maribel.
"Huh?" Maribel linglung sejenak, "Ah, itu..saya baru saja akan membuang sampah" Tuturnya, mengangkat kantong plastik ditangannya dan segera memasukkannya kedalam tong sampah.
"Siapa gadis ini?" Sean datang dari belakang dan bertanya.
"Pelayan yang kau siapkan untukku. Apa kau tidak mengenalnya?" Aldrich bertanya dan menaikkan salah satu alisnya saat menatap Sean.
Maribel tersentak di tempat.
'Tidak...'
'Bagaimana ini, apa aku akan ketahuan?'