CEO's Secret Husband

CEO's Secret Husband
|34|. Kebenaran Yang Mulai Terkuak



Keringat dingin begitu saja sudah melapisi punggung kurus Maribel. Wajah putih mulusnya sedikit menjadi pucat. Mengepalkan tangannya, dia bertahan keras untuk tidak bergetar saat matanya takut-takut menatap kearah Sean yang membidiknya tajam dan penuh pengamatan.


'Ah, habis sudah riwayat ku' Maribel begitu saja tertunduk lesu, menatap tanah.


"Tidak"


Maribel mengangkat kepalanya.


"Aku tidak mengenalnya"


Sean hanya datang ke perusahaan penyedia layanan dan menjelaskan beberapa karakter pegawai yang diinginkannya. Dia ingat mengatakan kalau pelayan yang dibutuhkannya setidaknya berusia empat puluhan keatas. Tapi wanita didepannya itu...


Tidakkah terlalu muda?


"Ada apa dengan mu?" Aldrich berpaling menatap Maribel. Dia sadar betapa pucat dan kaku tubuhnya di tempatnya berdiri, "Kau baik-baik saja?"


"Ah, iya. Baik-baik saja" Angguk Maribel, sedikit kikuk. Dalam hatinya, ia menghela nafas lega. Rasanya seperti baru saja terlepas dari curam yang berbahaya.


Aldrich tersenyum seperti menduga sesuatu, "Dia adalah vampir, paman angkat ku. Kau tidak perlu takut dengannya. Karena sama sepertiku, dia tidak menghisap darah manusia"


Maribel mengusap leher belakangnya, mengangguk canggung, "Ya, tuan"


"Tidak perlu begitu gugup, santai lah"


"En"


Seperti itu, Aldrich mengambil langkah pergi lebih dulu masuk kedalam kastil. Sean yang awalnya ingin membicarakan sesuatu dengan Maribel, menahan niatnya.


Menatap kecantikan muda didepannya, yang jauh dari penampilan seorang pelayan yang lebih mirip seperti putri keluarga kaya yang terawat, dia berucap, "Kau"


"Ya?" Maribel tanpa sadar meremas bajunya.


"Katakan pada keponakan ku, tiba-tiba aku teringat harus melakukan sesuatu. Jadi tidak memungkinkan untuk masuk"


Maribel mengangguk, matanya terlihat takut saat menatap Sean, "Ya, akan saya sampaikan"


Sean langsung berbalik dan berjalan secepat kilat keluar dari pagar dan masuk kedalam mobilnya.


Maribel sedikit terperangah. Itu adalah kali pertama dia melihat pemandangan tersebut, "Luar biasa"


Maribel masuk kedalam kastil dan memberi tahu Aldrich bahwa paman angkat yang baru saja diperkenalkan padanya itu sudah pergi karena ada urusan yang harus dilakukan.


Aldrich hanya mengangguk saja tidak begitu peduli, "Aku tidak tau sibuk tentang apa"


'Yang jelas, dia sangat menyebalkan' Batin Aldrich, dengan penuh ketidaksenangan.


"Ah, malam ini aku menginginkan darah kancil muda. Sajikan dengan beberapa potongan es batu"


"En, baik tuan"


Selepas itu, Maribel bergegas memeriksa cucian. Dia mengangkat tutup tabung dan mengeluarkan semua pakaian yang ada di dalam sana kedalam ember untuk dijemur. Hanya tiba-tiba dia menyadari sesuatu, "Bukankah seharusnya pakaiannya basah, tapi kenapa ini kering? Apa mesin cucinya rusak?"


Maribel segera berlari ke lantai dua. Mengetuk kamar Aldrich untuk melaporkan perihal mesin cuci.


"Ada apa?" Aldrich membuka pintu dan melongok keluar.


"Itu, sepertinya ada masalah dengan mesin cuci"


Aldrich mengerutkan keningnya, "Bawa aku pergi untuk melihat"


Maribel pun membawa Aldrich ke tempat mesin cuci berada dan jarinya langsung menunjuk kearah pakaian yang kering dan penuh dengan butiran serbuk putih detergen.


"Sepertinya mesin cuci ini sudah lama dan harus diganti. Anda dapat lihat ini tidak bekerja dengan baik"


Aldrich menatap sedikit bingung, "Bagian mana itu tidak bekerja?"


"Air"


"Ya?"


"Harusnya dia mengeluarkan air dan mencuci pakaian ini hingga basah dan bersih. Tapi anda dapat melihat disini..." Sekali lagi Maribel menunjuk pakaian yang penuh serbuk deterjen, "Pakaian-pakaian ini kering dan tidak basah sama sekali"


Menghela nafas panjang, dia tidak tau apakah harus tertawa atau menangis menyikapi pelayannya itu.


"Apa kau pernah menggunakan mesin cuci sebelumnya?"


Maribel mengedipkan matanya, "Er.."


"Ah, bukan begitu. Bagaimana bisa perusahaan tersebut merekrut mu yang bahkan sama sekali tidak tau cara menggunakan mesin cuci?"


Maribel menggigit bibirnya, "Itu..."


"Sebenarnya kau ini berasal dari pedalaman mana? Kenapa menggunakan mesin cuci saja tidak tau"


Maribel tertawa seperti akan menangis, tidak tau harus berkata apa.


Aldrich maju ke depan dan mengambil selang putih, "Kau lihat selang ini?" Dia mengangkatnya dan menunjukkannya pada Maribel.


"Pertama-tama masukkan terlebih dulu selang ini kedalam lubang ini. Lalu putar kran air yang ada di sana untuk mengalirkan airnya. Kemudian tunggu dan lihat hingga air tersebut mencapai kepermukaan pakaian yang akan di cuci"


"Ah, jadi seperti itu. Saya pikir dia akan mengisi air dengan sendirinya"


"Bagaimana itu mungkin?" Aldrich sedikit kesal dengan kebodohan pelayannya itu, "Tentu harus diisi dulu atau tidak akan ada air. Apa kau paham?"


Maribel menyegir kuda sedikit agak merasa bersalah, "Mengerti tuan"


Aldrich menggeleng-gelengkan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu untuk bergegas kembali ke kamarnya.


Menghempaskan tubuhnya ke sofa, dia mengambil ponselnya dan berkirim pesan pada Sean.


'Sebenarnya kau mendapatkan pelayan ini dari perusahaan apa?'


'Kenapa tidak ada hal yang dapat dilakukannya dengan benar?'


Dari memasak hingga mencuci... barangkali besok ketika menyetrika, mungkinkah dia akan membakar pakaiannya?


......................


Menjelang malam, Sean baru saja tiba di perusahaan tempat dia mencari profesional untuk menjadi asisten rumah tangga di kastil Aldrich.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Yang berbicara pada Aldrich adalah seorang wanita tiga puluhan keatas. Walau matanya sempat berkedip terpikat menatap wajah tampan Sean yang awet. Tapi dia tetap menutupinya cepat dengan senyuman klise profesionalnya.


"Saya pernah datang kemari sebelumnya dan telah mendapatkan satu rekomendasi ART"


"Lalu maksud kedatangan anda? Apakah anda ingin menyatakan keluhan? Atau..."


"Saya ingat meminta beberapa ciri khusus, empat puluhan keatas dan berpengalaman. Tapi kenapa yang datang seorang wanita muda?" Sean langsung ke topik permasalahan.


Wanita itu mengangguk mengerti, "Maaf, boleh saya tau nama anda pak?"


"Sean Wood"


Wanita cantik itu langsung mengetikkan nama yang disebutkan di atas keyboard dan mencari data yang dibutuhkan di layar komputer.


"Berdasarkan informasi yang tertera di sini, kami telah merekomendasikan seseorang dengan ciri yang anda sebutkan dan anda telah menerimanya"


"Apa anda yakin tidak ada yang salah dengan data nya?" Sean menaikkan salah satu alisnya.


"Ya. Anda dapat lihat disini" Wanita itu menunjuk ke layar dan Sean sedikit bangun untuk melihat, "Diana. Usia empat puluh tiga tahun. Dengan lima tahun pengalaman bekerja di bidang asisten rumah tangga"


Sean mengerutkan matanya, mencerna informasi.


"Bukankah ini sesuai dengan karakteristik yang anda butuhkan Pak?"


"Diana?" Sean membidik photo profil yang tercantum di layar, itu jelas menunjukkan wajah yang berbeda dengan kecantikan yang dilihatnya tadi.


Sean terus menautkan sepasang alisnya, "Lalu kenapa yang datang bekerja nyatanya seorang wanita dua puluhan?"


"Wajahnya juga berbeda jauh dengan profil yang tercantum di sana"