
Sarapan berlangsung dengan dingin. Aldrich menyesap minuman nya dalam diam dan Maribel mengunyah roti sandwich nya tanpa mengatakan apapun.
Namun di pertengahan itu, tanpa sengaja tatapan Maribel jatuh ke bibir Aldrich. Pria itu baru saja menjilati bibir bawahnya yang menyimpan sisa darah segar. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Maribel. Tentang bagaimana bibir dinginnya yang terlihat sedikit bengkak, membuat Maribel dengan polosnya bertanya, "Bibirmu... Kenapa bengkak?"
Aldrich meletakkan gelas yang baru saja di pegang nya ke meja. Matanya pergi menatap Maribel. Wajahnya datar dan tanpa ekspresi ketika mengatakan, "Seseorang menggigit ku pagi ini"
"Ya?" Maribel berseru terkejut dan bertanya lebih jauh untuk memastikan, "S-seorang menggigit mu?"
"En"
Jantung Maribel langsung berdegup kencang. Dia jadi teringat dalam mimpinya yang baru saja dilepas ketika dia bangun pagi tadi. Di sana dia mencium lamat bibir pria itu. Mungkinkah aksinya terdorong secara nyata di separuh kesadarannya?
"I-tu..a-apa aku yang..."
"Ada hal yang harus ku urus" Aldrich mendorong kursi dan bangun dari duduknya, "Jika kau sudah selesai sarapan, kau bisa pergi"
Sesudah mengatakan itu, Aldrich dengan dinginnya pergi meninggalkan Maribel seorang di ruang makan.
Maribel yang tercenung di tempat, tanpa sadar memegang bibirnya dan terkenang akan mimpinya, "Ah, aku berharap itu benar-benar nyata"
Aldrich pergi ke ruang kerja kepala pelayan yang kini sudah di ambil alih oleh madam Diana. Dia berjalan ke rak besar yang penuh dengan jejeran dokumen dan menariknya satu persatu untuk dilihatnya.
Dia sedang mencoba mencari biodata kepala pelayan sebelumnya, madam Mary. Untuk menemukan alamat tempat tinggalnya dan mengunjunginya.
Setelah sekitar tiga puluh menit mencari, Aldrich akhirnya menemukan apa yang di carinya.
Maribel masih belum pergi meninggalkan kastil. Tidak ada taxi yang dapat di jangkau dari tempat tinggal yang begitu dekat dengan hutan. Memesan layanan jemputan pun ponselnya telah tertinggal di mobilnya. Jadi dia tidak punya pilihan selain...
"Kau masih disini?"
Maribel yang tengah duduk di sofa ruang tengah itu menoleh kearah pria yang baru saja muncul dari belakang.
Maribel tersenyum kecil, "En"
Maribel melihat Aldrich yang sudah mengenakan mantel panjang, menutupi kulit putih pucat nya dan tangan kanannya yang memegang kunci mobil.
"Kau ingin pergi keluar?"
Aldrich mengangguk sebagai jawaban.
Maribel memutar-mutari jari telunjuk kanan dan kirinya berucap gugup, "Maaf..itu, bolehkah aku merepotkan mu dengan mengantarkan ku sampai ke kota?"
Aldrich menghela nafas panjang.
Maribel tersenyum dengan mata hitamnya membulat dengan pendaran dibuat-buat kasihan, "Ponsel ku tertinggal di mobil dan aku tak tau harus menghubungi siapa untuk di mintai tolong. Ermm jadi... itu kenapa sepertinya aku memang harus merepotkan mu. Kau tidak keberatan kan?" Matanya berkedip memohon. Berharap Aldrich akan luluh.
"Sangat keberatan"
"Ah..kau keberatan" 'Kenapa kau dingin sekali?'
"Baiklah, tapi kali ini aku ingin bayaran"
"Tentu saja. Berapa?"
Mata Maribel berkedip polos, "Lalu apa yang kau inginkan?"
"Darah mu" Mata Aldrich tersenyum dingin.
Alih-alih takut, yang mengejutkan nya Maribel melebarkan kedua sudut bibirnya tersenyum mengangguk, "Tentu" Dia bangun dari sofa dan berujar dengan senang, "Kalau begitu ayo"
Aldrich kehabisan kata. Gadis itu, memang sedikit lebih di luar nalar nya.
Sebelum pergi, Aldrich kembali ke kamarnya untuk mengambil satu butir obat alergi dan meminumnya. Jika dia melupakan yang satu itu, ruam-ruam merah akan memenuhi kulitnya.
Setelahnya dia mengeluarkan mobil dan membawa Maribel ke kota.
"Katakan di mana alamat rumah mu, biar aku antar sampai kesana"
"Ah, kau baik sekali"
"Ini karena darahmu"
Maribel memanyunkan bibirnya, merasa kesal.
Aldrich yang fokus menyetir itu, melirik sekilas ke arah Maribel. Dia mengakui dalam hatinya betapa menggemaskan nya gadis itu ketika cemberut.
"Jadi di mana kau tinggal?"
Maribel pun memberitahukan alamat tinggalnya dengan wajah masam nya yang masih menyimpan kekesalan.
Sekitar beberapa menit berlalu, akhirnya sampailah Aldrich di depan rumah Maribel yang besar, luas dan mewah. Sangat mencolok dari kejauhan dan luar biasa menakjubkan di lihat dari dekat.
"Kau ternyata putri orang kaya"
"En" Maribel melepas sabuk pengamannya.
"Pantas saja"
"Apanya?" Maribel menoleh pada Aldrich.
"Peran pembantu sama sekali tidak cocok dengan mu"
"Pftt.." Maribel spontan tergelak.
Yang tidak diketahuinya, saat itu Aldrich sempat tersenyum tipis.
"Jadi, aku ingin bayaran ku sekarang"
Maribel berdeham, mencoba untuk tidak begitu tegang berkata, "Bagaimana kau ingin meminumnya? Kau ingin meminumnya langsung atau—"
"Langsung"
Saat itu, Maribel mendapati jantungnya berdegup dengan sangat keras.